Sejarah Dinasti Buwaihi: Mengendalikan Dinasti Abbasiyah, Mencetak Ilmuwan Bermazhab Syiah

0
1106

BincangSyariah.Com – Pada periode ketiga Dinasti Abbasiyah (945-1055 M), Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah di bawah kekuasaan Dinasti Buwaihi. Sejarah berdirinya dinasti ini bermula saat Dinasti Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sejarah Dinasti yang pemimpinnya beraliran Syiah ini dimulai dari tiga putra Abu Syuja Buwaih, seorang keturunan penguasa Sasanid dari suku Dailami. Ketiga putranya tersebut adalah Ali, Hasan dan Ahmad.

Mulanya, ketiga keturunan Dailami ini bergabung dengan pasukan militer Makan bin Kali, seorang panglima perang Dinasti Abbasiyah dari Dailami. Setelah Makan bin Kali tak memiliki banyak peran dalam kemiliteran di Khilafah Abbasiyah, mereka bergabung dengan Mardawij bin Zayyar. Dikarenakan Ali memiliki kapabilitas yang baik, ia akhirnya diangkat menjadi gubernur di al-Karaj, sebuah kota di Persia yang saat itu masih di bawah Kekhilafahan Dinasti Abbasiyah.

Bermula dari pengangkatan Ali yang merupakan keturunan Abu Syuja Buwaih, ia akhirnya melakukan ekspansi dan menjadi awal mula berdirinya Dinasti Buwaihi, mesti Dinasti Abbasiyah. Ketik Dinasti Abbasiyah di bawah kekuasaan Dinasti Buwaihi, kekuasaan Dinasti Abbasiyah tinggalah nama. Roda pelaksanaan pemerintahan dikendalikan oleh Bani Buwaihi.

Dinasti Abbasiyah dipegang oleh Dinasti Buwaihi pada tahun 945 M bermula saat Ahmad bin Abu Syuja Buwaih diangkat menjadi penguasa politik negara oleh Khalifah Abbasiyah dengan gelar Mu’izz ad-Daulah (Penyokong Negara). Putra beliau kemudian menjadi Gubernur di beberapa wilayah. Ali menjadi Gubernur diberi julukan ‘Imad ad-Daulah (Arab: Tiang Negara) yang memerintah di Syiraz dan Persia. Lalu Hasan memerintah di Ishfahan dan Rayy yang berada di Iran dijuluki Ruknu ad-Daulah.

Ketiga putra Abu Syuja Buwaih yang menduduki jabatan di negara Iran berperan dalam membentuk kekuatan kekuasaan dari kalangan Bani Buwaih. Mereka menetapkan Bagdad sebagai pusat kekuasaan pemerintahan, meski begitu kendali politik sebenarnya lebih berada di Syiraz, Iran tempat Ali bin Abu Syuja Buwaih bertahta. Mereka menguasai wilayah yang mulanya menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Ketiga putra Abu Syuja Buwaih pun menjadi menguasai wilayah Iran dan Irak. Ali berkusa di wilayah selatan Iran, Hasan di wilayah utara, dan Ahmad di wilayah al-Ahwaz di Iran, Wasit dan Baghdad di Iraq.

Baca Juga :  Al-Bidayah wa Al-Nihayah: Jejak Sejarah yang Ditulis Ibnu Katsir

Kepemimpinan yang dilangsungkan oleh Khalifah Abbasiyah hanya kepemimpinan secara simbolis sedangkan pemegang kendali dipegang oleh Bani Buwaihi. Dinasti yang menganut paham Syi’ah Itsna ‘Asyariyah (Imam Dua Belas Syiah) ini, selain berkesempatan menyebarkan paham Syiah, mereka juga mendapat legalitas untuk melakukan kegiatan keagamaan, pendirian pusat-pusat pembelajaran di berbagai kota, serta pemberian dukungan kepada penyair dan penulis dari kalangan Syiah.

Mendukung Pengembangan Keilmuan

Meskipun perpolitikan mengalami kemunduran di kalangan Dinasti Abbasiyah, Dinasti Buwaihi yang berkuasa kala itu memiliki jasa yang besar terhadap pengembangan keilmuan dengan melahirkan banyak tokoh keilmuan seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, dan kelompok Ikhwan as-Shafa yang merupakan komunitas bagi para ahli filsafat dan bidang pengetahuan lainnya.

Selama 110 tahun berkuasa, Bani Buwaihi meninggalkan banyak peninggalan sejarah yang bernilai seni. Seperti cawan perak yang bermotif Sasanid. Ada juga kain bermotif gajah dan huruf Kufi. Keduanya merupakan karya seni Islam peninggalan Dinasti Buwaihi dan tersimpan di Museum Teheran, Iran.

Era Kemunduran

Setelah meninggalnya Fanna Khusraw, yang lebih dikenal dengan julukan ‘Adhd ad-Daulah, putra dari Hasan bin Abi Syuja Buwaih, terjadilah perebutan kekuasaan di kalangan Dinasti Buwaihi sendiri. Selain dalam tubuh pemerintahan, terjadi juga kekacauan di tubuh militer antara golongan Dailami dan keturunan Turki.

Faktor lain yang menyebabkan lemahnya kekuasaan dinasti ini adalah gencarnya serangan Bizantium ke dunia Islam dan semakin menjamurnya dinasti-dinasti kecil yang melepaskan diri dari pemerintahan Baghdad. Maka pada tahun 1055 Masehi menjadi akhir masa kekuasaan Dinasti Buwaihi yang menduduki Kekhalifahan Abbasiyah secara simbolis. Tughril Beq yang merupakan pimpinan Seljuk berhasil memasuki Baghdad dan memenjarakan penguasa terakhir Buwaihi, Malik ar-Rahman. Mulai saat itulah Dinasti  Abbasiyah berpindah pengendali, menjadi di bawah kekuasaan Bani Seljuk.

Baca Juga :  Milk al-Yamin dan Tuduhan Universitas Islam Negeri (UIN) Sebagai Sarang Liberal, Benarkah?

Diolah dari Ensiklopedia Islam Populer, terbitan PT. Ichtiar Baru Van Hoeve

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here