Sejarah dan Filosofi Songkok dalam Islam

0
679

BincangSyariah.Com – Penutup kepala (songkok) di dalam Islam tidak lahir begitu saja secara tiba-tiba, akan tetapi ada proses histori yang melatarbelakanginya.

Secara historis, penutup kepala sudah ada jauh sebelum agama Islam. Said Al-Asymawi dalam bukunya yang kontroversial, Haqiqah Al-Hijab wa Hujjiyah Al-Hadits mengemukakan, bahwa bangsa Mesir kuna telah mengenal suatu kepercayaan yang bersumber dari ide-ide mistik, bahwa rambut manusia adalah mahkota.

Rambut, dalam kepercayaan Mesir kuna merupakan kekuatan dan simbol kebanggaan manusia. Sehingga, untuk menunjukkan inferioritas di hadapan Tuhan, orang-orang Mesir kuna baik laki-laki atau perempuan harus menanggalkan simbol kebanggannya tersebut.

Lantaran itu, kemudian kaum laki-laki di Mesir kuna biasa menutup kepala mereka dengan sebuah penutup yang terbuat dari kain. Mitos bangsa Mesir ini yang kemudian menyebar ke pelbagai pelosok dunia dan dicerna oleh berbagai peradaban.

Orang-orang Nasrani, menurut Al-Asymawi, pada mulanya juga banyak terpengaruh kepercayaan ini. Namun, seiring masuknya peradaban Roma ke Mesir, kebiasaan ini berubah.

Nabi Musa juga banyak terpengaruh. Pada saat Nabi Musa keluar dari Mesir bersama orang-orang Yahudi dan sebagian orang Mesir, mereka telah banyak mengadopsi budaya Mesir kuna. Di antaranya menutup rambut ketika berhadapan dengan Tuhan (menyembah), sebagai simbol ketundukan dan kepatuhan.

Tidak heran, jika sekarang orang-orang Yahudi yang taat agama, banyak menggunakan songkok di atas kepala. Dalam bahasa Ibrani disebut kipah.

Agama Islam juga demikian. Nabi Muhammad SAW, menurut Al-Asymawi lebih suka menghindar dari tradisi-tradisi yang menyerupai komunitas Mekkah (kaum Musyrik) dan cenderung lebih memilih tradisi kaum Ahli kitab.

Sehingga, sebagaimana tradisi Ahli kitab (Yahudi), kebanyakan kaum Muslimin juga mengenakan penutup kepala di kala melaksanakan ibadah salat.

Baca Juga :  Krisis Qatar; Saatnya Islam Nusantara Go-Overseas

Dalam tinjauan filosofis, menurut Zahid bin Al-Hasan Al-Kautsari, penutup kepala di dalam Islam memiliki tujuan sebagai pakaian tazayyun (berhias) untuk mengagungkan Allah Swt. Beliau mengatakan:

قال الماوردي: أخذ الزينة هو التزين بأجمل اللباس. وقال أبو حيان: واللذي يظهر ان الزينة هو ما يتجمل به ويتزين عند الصلاة ولا يدخل فيه ما يستر العورة لأن ذلك مأمور به مطلقا. اهـ

وهذا كلام وجيه جدا فمشمول الزينة لغطاء الرأس ليس بموضع ريبة أصلا….

Al-Mawardi berkata: mengambil zinah (perhiasan) maksudnya adalah berhias dengan pakaian paling bagus. Sementara Abu Hayyan mengatakan: Yang jelas bahwa zinah (perhiasan) yaitu adalah suatu yang digunakan untuk aksesoris dan berhias ketika salat. Sedangkan suatu yang digunakan untuk menutup aurat tidak masuk dalam hal ini, sebab menutup aurat merupakan kewajiban.

Perkataan ini sangat benar, sehingga penutup kepala termasuk bagian dari zinah sama sekali tidak diragukan.

Di sisi lain, Al-Kautsari juga menjelaskan:

ان المسلمين لا ينزعون قلانسهم عند دخولهم المساجد وفي صلاوتهم لله جل جلاله

Sesungguhnya orang Islam tidak melepas songkok mereka ketika masuk masjid dan ketika salat karena keagungan Allah Swt.

Sehingga dapat disimpulkan, secara filosofis, penutup kepala di dalam Islam dimaksudkan untuk mengekspresikan kelemahan, kehambaan, ketundukan serta kesederhanaan di hadapan kemuliaan Allah.

Sementara itu, secara hukum fikih fungsi songkok disebutkan di dalam kitab Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah dijelaskan:

لاَ خلاَف بين الفقهاء في استحباب ستر الرأس في الصلاَة للرجل ، بعمامة وما في معناها ، لأنه صلى الله عليه وسلم كَان كَذلك يصلي

 “Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ahli fikih tentang kesunnahan menutup kepala ketika salat bagi laki-laki baik dengan surban atau yang semakna dengan itu karena begitulah salatnya Nabi Shallallahu “Alaihi wa Sallam.”

 

Baca Juga :  Ketika Nabi Zakariya Bertawasul di Mihrab Siti Maryam

Sedangkan Sayyid ‘Abdurahman di dalam Bughyah Al-Mustarsyidin mengatakan:


 وفي خبر أنه كان له ثلاث قلانس : قلنسوة بيضاء ، مضرية ، وقلنسوة بردة حبرة ، وقلنسوة ذات آذان يلبسها في السفر ، وربما وضعها بين يديه إذا صلى ، ويؤخذ من ذلك أن لبس القلنسوةالبيضاء يغني عن العمامة ، وبه يتأيد ما اعتاده بعض مدن اليمن من ترك العمامة من أصلها

“Dalam suatu hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw mempunyai tiga peci: peci putih, Mudlarriyah, peci Burdah Habarah, dan peci bertelinga yang mana peci tersebut terkadang dipakai dalam safar, dan terkadang ditaruhnya di antara kedua tangannya tatkala beliau Saw. salat.

Dan dapat diambil kesimpulan dari hal tersebut, bahwa memakai peci putih itu sudah mencukupi tanpa menggunakan sorban. Dan dengannya jadi kuatlah kebiasaan orang-orang di sebagian kota-kota di negeri Yaman dari pada meninggalkan sorban sama sekali.”

حدّثنا علي بن حكيم الأَودي، أخبرنا شريك، عن عمار الدهنيِ، عن أَبي الزبير، عن جابر بن عبد اللَه: أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل يوم فَتح مكةَ، وعلَيه عمامة سوداء “

Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Hakiim Al-Audiy : Syarik telah menceritakan kepada kami, dari ‘Ammaar Ad-Duhniy, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bin Abdillah : Bahwa Nabi Saw. memasuki pada hari penaklukan Makkah dengan memakai imamah (surban) berwarna hitam. (HR. Muslim)

Dengan melihat tinjauan di atas, kesunahan penutup kepala di dalam Islam bukan suatu yang original, akan tetapi ia merupakan tradisi yang diadopsi dari agama-agama sebelumnya (Syar’u man qablana) dan sama sekali tidak ada bentuk tertentu seperti apa tudung kepala yang dikenakan.

Karena itu, yang terpenting bukanlah pada bentuk melainkan tujuan dari fungsi tudung kepala itu. Sehingga, menggunakan kopiah hitam atau blangkon pun ketika melaksanakan salat juga memperoleh kesunnahan. Wallahu A’lam bi Ash-Shawab..

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.