Sejarah dan Cara Mengetahui Laylatul Qadar Menurut Syaikh Nawawi al-Bantani

0
637

BincangSyariah.Com- Laylatul Qadar adalah malam yang diistimewakan. Penyebutan seputar keistimewaan secara tegas disampaikan didalam surah al-Qadar ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Syaikh Nawawi al-Bantani, dalam tafsirnya Mirah Labid fii Tafsir al-Qur’an al-Majid menyatakan kalau pertama kali terjadi laylatul Qadar ketika Allah Swt. menurunkan wahyu Quran secara keseluruhan dari Lauh al-Mahfuz ke Bayt al-‘Izzah.

Setelah diturunkan, baru Malaikat Jibril membawa wahyu “satu paket” itu untuk diturunkan secara bertahap – yang terjadi selama 23 tahun menurut pendapat yang masyhur – kepada Nabi Muhammad Saw. sesuai dengan situasi dan kondisi yang mengitarinya.

Kapan sebenarnya peristiwa Laylatul Qadar yang bersejarah itu terjadi ? Ulama memang berbeda pendapat. Al-Ghazali seperti dikutip oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab Hasyiyatu I’anah al-Thalibin ‘ala Fath al-Mu’in menyatakan kalau berdasarkan penanggalan hijriyah, laylatul Qadar akan jatuh di malam yang berbeda-beda di setiap tahun. Ada rumus tertentu yang ditawarkan al-Ghazali.

Sedangkan menurut Syaikh Nawawi Banten mengangkat tiga pendapat yang berbeda tentang kapan tepatnya Laylatul Qadar. Mayoritas ulama berpandangan kalau Laylatul Qadar jatuh di bulan Ramadan, namun tidak diketahui pasti di malam terjadinya.

Pendapat kedua, meski bukan mayoritas, yang memastikan kalau peristiwa itu terjadi di malam ke-27 bulan ramadan. Alasannya, ada beberapa riwayat yang mengisyaratkan kesana. Di antaranya, sejumlah pendapat Ibn ‘Abbas Ra. – sahabat muda yang didoakan Rasulullah Saw. agar mampu mentakwil permasalahan agama. Dan, ia menjadi mufasir handal pada akhirnya – tentang persoalan ini.

Baca Juga :  Cara Rasul Menyambut Malam "Lailatul Qadar"

Riwayat pertama misalnya menyatakan kalau angka yang paling disukai Allah Swt. adalah angka tujuh. Alasannya, ada banyak yang berjumlah di alam semesta ini mulai dari langit, bumi, lapisan surga, lapisan neraka, jumlah hari, anggota tubuh, sampai jumlah putaran thawaf.

Riwayat kedua, kalau dihitung-hitung dalam surah al-Qadr ada 30 kata. Dan kata hiya pada kalimat salaamun hiyya hatta mathla’i al-Fajr adalah kata ke-27. Jadi disimpulkan kalau kemungkinan besar terjadi di malam ke-27.

Pendapat ketiga cukup menarik, dengan menyatakan kalau laylatu al-Qadr , padanan katanya berjumlah 9 huruf dan 3 kali disebut di dalam surah yang sama. Dengan menggunakan perkalian, dihasilkannya angka 27.

Manakah yang benar dari ketiga pendapat ini ? al-Nawawi tidak melakukan tarjih (memilih riwayat yang paling kuat) kecuali ketiga pendapat itu sebagai penguat alasan kalau laylatul Qadar terjadi di malam 27. Wallahu ‘alam.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here