Sejarah Baitul Mal pada Masa Awal Islam

0
2045

BincangSyariah.Com – Baitul mal pertama kali ada sejak zaman Rasulullah Saw. Kemudian pada masa Umar ibn Khatthab pengelolaan dan pengadiministrasian Baitul mal diperbaharui. Saat itu pemerintahan Umar pada tahun 13-23 H atau 634-644M.

Menurut Abu al-A’la al-Maududi, Baitul mal adalah lembaga keuangan yang dibangun berdasarkan landasan syariah. Baitul Mal adalah amanat Allah dan masyarakat muslim. Untuk itu menjalankan harus sesuai dengan syariat dan kepentingan umat muslim.

Pada masa awal-awal Islam, sejarah Baitul mal berfungsi sebagai kas negara. Sebagaimana hal ini terjadi dikisahkan bahwa suatu saat Abu Bakar berpapasan dengan Umar ibn Khattab. Saat itu Abu Bakar membawa barang dagangan. Umar bertanya, “anda mau kemana hai khalifah?”. Abu Bakar menjawab “Ke Pasar”. Umar berkata, “apa yang akan anda lakukan, sedangkan adan telah memegang jawabatan sebagai pemimpin kaum muslimin?” Abu Bakar Menjawab, “darimana aku akan memberikan nafkah untuk keluargaku?” umar berkata, “Pergilah kepada Abu Ubaidah (pemegang kunci Baitul mal), agar ia menetapkan sesuatu untuk mu. Dari kisah ini akhirnya Abu Bakar menerima gaji selama setahun sebesar 4.000 dirham.

Mulai pada masa Abu Bakar hingga kekhalifahan Ali Ibn Abi Thalib, Baitul mal dikelola secara hati-hati. Pada masa itu masyarakat ikut mengontrol Baitul mal. Kondisi ini berubah pada masa Dinasti Umayyah, sebagaimana yang diutarakan oleh Al-Maudidi. Baitul mal sepenuhnya dikuasai oleh khalifah secara mutlak. Harta yang diperoleh oleh raja semuanya dimasukkan dalam Baitul mal, termasuk setoran pajak.

Kondisi ini mulai diubah oleh Umar ibn Abdul Aziz. Ia mulai membersihkan harta-harta yang tidak halal dari Baitul mal. Ia juga mengembalikan harta milik pribadinya sebesar 40.000 dinar setahun ke Baitul mal. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama. Keserakahan penguasa dan persekongkolan penguasa dan pengusahan merongrong sandi-sandi Baitul mal. Kondisi ini tidak berubah hingga masa dinasti Abbasiyah.

Baca Juga :  Sejarah Syair Tombo Ati

Ulama yang saat itu hidup terus mengkritik para pemimpin yang menyelewengkan uang rakyat. Seperti kecaman yang keluar dari Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi). Beliau saat itu mengecam perbuatan lalim pemerintahan Abu Ja’far al-Mansur (754-775H), khalifah kedua Dinasti Abbasiyah, yang memberikan hadiah kepada orang-orang terdekatnya dari harta Baitul mal.

Menurut al-Maududi tujuan pendirian Baitul mal adalah menopang tercapai tujuan negara. Yakni tujuan untuk menegakkan keadilan, menghentikan kezaliman dan kedua menegakkan sistem yang berkaitan dengan kewajiban umat muslim, seperti zakat, haji, dll. Sedangkan menurut imam al-Mawardi fungsi Baitul mal adalah lembaga keuangan bagi kaum muslimin. Untuk itu menurut imam al-Mawardi tugas Baitul mal adalah mengelola harta kaum muslimin yang tidak jelas pemiliknya dan penerimanya.

Sumber dana Baitul mal menurut al-Zuhaili terdiri dari harta warisan yang tidak ada ahli warisnya, harta benda yang berasal dari kekayaan perut bumi, syuf’ah, dan wasiat lebih dari sepertiga. Abu Hanifah menambahkan bahwa harta ghanimah (hasil peperangan) juga termasuk sumber dana Baitul mal.

Pengalokasian dana Baitul mal menurut Ibnu Taimiyah digunakan untuk kepentingan umum yang bersifat mendesak. Mendesak dalam hal ini adalah keadaan dimana kebutuhan tersebut harus didukung secara pendanaan. Mengigat perannya yang sangat penting demi keamanan dan kemajuan umat muslim.

Demikianlah sejarah awal Baitul mal yang bisa kita lihat dalam tradisi keilmuan islam klasik. Dari buku-buku yang ditulis belakangan maupun yang lebih awal.

Wallau a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here