Sejarah Aya Sofya: Museum yang Pernah Menjadi Gereja dan Masjid

0
893

BincangSyariah.Com – Aya Sofya atau Hagia Sophia pernah menjadi sebuah masjid dan gereja terbesar di Konstantinopel, tepatnya terletak di Istanbul. Sebelum menjadi masjid, Aya Sofya adalah sebuah bangunan gereja katedral yang indah dan bersejarah. Pada saat itu, gereja tersebut digunakan sebagai pusat ibadah umat Kristen dalam kurun waktu yang lama, hingga pada masa masuknya agama Islam pada tahun 1453 M.

Aya Sofya di Era Konstantinopel

Tempat ini juga dikenal dengan nama “Amkaly Ecclesia” dan juga disebut “Shofa Eogia” pada sekitar tahun 400 M, sebagaimana juga disebut dengan “Akya sofya” sejak abad ke-5 M. Pembangunan Aya Sofya dilakukan pertama kali oleh Raja Konstantinopel II yang diresmikan pada tanggal 5 Februari 360 M.

Menurut Abu Bakar dalam Mujaz Dairah al-Ma’arif Al-Islamiyah, Aya Sofya mengalami beberapa kehancuran akibat gempa (404 M) dan pemberontakan (532 M). Karena itu, Kaisar Justinian Byzantium memerintah dua insinyur ahli untuk membangun kembali gereja Aya Sofya yang tahan dari berbagai ancaman seperti gempa dan kebakaran. Dua insinyur tersebut ialah Isiodore dan Athemius.

Bangunan ini mengalami kerusakan lagi pada masa kaisar Basil II. Kerusakan ini diakibatkan oleh gempa kesekian kalinya yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 986 M sehingga renovasipun dilakukan lagi. Gempa tersebut telah mengakibatkan bagian kubah runtuh, oleh sebab itu Kaisar menyuruh untuk memperbaikinya. Setelah perbaikan tersebut, Aya Sofya dijadikan sebuah gereja yang menjadi tempat paling penting untuk melakukan acara pengangkatan atau penobatan raja oleh Negara.

Pada tahun 1204 M Konstantinopel diserang oleh tentara Salib sehingga Aya Sofya mengalami kehancuran. Pada masa itu, Aya Sofya menjadi gereja katedral paling penting bagi negara baru (kekaisaran konstantinopel latin) dan menjadi tempat paling penting bagi raja.

Baca Juga :  Sejarah Dinasti Buwaihi: Mengendalikan Dinasti Abbasiyah, Mencetak Ilmuwan Bermazhab Syiah

Aya Sofya di Era Turki Utsmani

Ketika konstantinopel ditaklukan oleh sultan al-Fatih pada tanggal 27 Mei 1453 M. Pada saat itu, al-Fatih masuk ke dalam gereja Aya Sofya dan memerintahkan untuk mengubah bangunan tersebut menjadi masjid. Sejak itu, terjadilah perubahan yang sangat besar terhadap bangunan ini yang dibangun kembali atas dasar-dasar keislaman. Pada masa pemerintahan Muhammad al-Fatih ini, gereja Aya Sofya dialih fungsikan menjadi sebuah masjid, ketika itu adzan pertama kali dikumandangkan di Masjid Aya Sofya, dan semenjak itu adzan selalu dikumandangkan di Konstantinopel.

Pada masa Sultan Murad III dibuatlahlah reformasi yang konprehensif dalam masjid, adapun maksud dari reformasi tersebut adalah pembaharuan untuk kerusakan-kerusakan yang ada di dalam masjid pada setiap tahunnya. Hal itu juga dimaksudkan sebagai sebuah kontribusi yang sangat besar dalam pembaharuan Aya Sofya, bentuk kontribusi tersebut adalah pemberian dekorasi pada ruangan yang kosong.

Pada masa ini, pembagian ruangan bangunan disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Dibangun dua buah menara di dalam Aya Sofya yang terletak berdampingan dengan ruang kekaisaran. Dibangun pula dua buah ruangan yang dihiasi dekorasi-dekorasi yang terbuat dari Marmer. Adapun ruang yang pertama dikhususkan untuk kegiatan “tilawah al-Qur’an” sedangkan ruangan satunya dikhususkan untuk shalat.

Memasuki paruh kedua abad 16 M, ada perubahan renovasi lagi yaitu ditambahkan satu menara dan pada sisi luar halaman selatan Aya Sofya terdapat beberapa kuburan sultan yang memerintah kesultanan. Seperti halnya makan sultan Salim II, dan makan sultan Murad III serta makam sultan Muhammad III yang dibangun berdampingan dengan makam tersebut.

Pada pemerintahan Sultan Murad IV tepatnya tahun 1640-1623 M terdapat pembenahan Aya Sofya di bagian dinding-dinding, ditambahkan beberapa dekorasi indah yang langsung dibuat oleh orang yang ahli dekorasi. Dia menulis dekorasi besar berbentuk huruf-huruf al-Quran. Dekorasi tersebut dibuat dari emas. Panjang beberapa tulisan dekorasi ini seperti tulisan huruf “alif” dalam ukuran besar dengan tinggi 10 hasta. Hal ini melambangkan kebesaran nama Khulafa al-Rasyidin.

Selain itu, terdapat pula mimbar yang indah yang diketahui bahwa mimbar tersebut diduduki oleh sultan Ahmad III. Mimbar tersebut terletak di bagian utara ruang kekaisaran.

Baca Juga :  Muhammad Zainul Majdi (TGB): Doktor Tafsir Yang Jadi Gubernur

Sultan Mahmud yang pertama menambahkan lorong pada bagian depan Aya Sofya serta menambahkan ruangan dapur untuk memberi makan orang miskin yang terletak di bagian selatan ruang depan. Selain itu, ditambahkan sebuah perpustakaan umum.

Selain itu juga, kegiatan-kegiatan keagamaan dilakukan selain ibadah seperti shalat fardhu dan shalat tarawih pada bulan Ramadhan, seperti mengadakan perayaan untuk menyambut malam lailatul qadr. Kita melihat bahwa selama masa pemerintahan Sultan Murad IV terjadi perubahan dalam pemeliharan masjid Aya Sofya.

Sedangkan renovasi terjadi pada masa Sultan Abdul Majid, dia memerintahkan arsitek untuk membenahi retakan-retakan dan memperkuat kubah. Pada saat itu, terlihat pada bagian dinding luar Aya Sofya hiasan-hiasan kaligrafi berwarna merah dan kuning. Pada masa inilah, bangunan ini memiliki keindahan tidak hanya interior saja akan tetapi keindahan eksterior juga sangat mendukung. Hasan Taufiq mengatakan bahwa Masjid Aya Sofya pada abad ke-10 belum mengalami kerusakan, melihat pada kenyataan pada kekokohan pilar-pilar yang dibangun saat itu.

Pada musim panas tahun 1907 M, seorang perdana mentri memberikan pemerintah untuk merenovasi secara total terhadap perpustakaannya. Pengawasan terhadap renovasi perpustakaan tersebut dilakukan 5 kali dalam satu minggu.

Pemandangan masjid sangat indah pada bulan Ramadhan di mana masjid dijadikan tempat berkumpulnya para negarawan dan masyarakat umum dalam melaksanakan shalat ashar. Adapun shalawat tarawih yang dilaksanakan setelah satu jam setengah setelah shalat maghrib yang dilanjutkan sebuah perayaan pasca shalat tarawih. Lampu kubah yang tidak terhitung jumlahnya menyala dengan teratur membentuk sebuah lingkaran.

Aya Sofya di Era Turki Modern

Pada tahun 1934 M Kamal Atarurk memerintahkan untuk mengganti penggunaan fungsi masjid Aya Sofya sebagai tempat ibadah orang-orang Muslim menjadi sebuah museum hingga saat ini. Oleh karena itu, cat dinding bangunan tersebut dihapus lalu hiasan mozaiknya diganti dengan gambar-gambar indah, hal ini terbukti pada tahun 1936 M. Adapun gambar-gambar tersebut mengilustrasikan gambar Maria dan malaikat bersayap serta gambar Nabi Isa. Pada masa inilah pembongkaran Haghia Sophia dilakukan, dengan menampakkan kembali sombol-simbol kekristenan sehingga bangunan ini menjadi simbol perpaduan Islam dan Kristen.

Baca Juga :  Filsafat Ar-Razi dalam Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah; Ulasan mengenai Substansi dan Aksiden

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here