Sejarah Awal Rumah Sakit Islam; Berasal dari Kemajuan Persia

0
80

BincangSyariah.Com – Umat Islam telah mengenal cikal bakal rumah sakit sejak masa Nabi Muhammad Saw. Pada saat itu, tepatnya saat perang khandaq disediakan sebuah kamp khusus berisi para tabib dan perawat. Fungsinya tiada lain adalah untuk mengobati setiap luka yang diderita pasien pasca pertempuran.

Saat perang Khandaq, Sa’ad bin Mu’adz terluka akibat dipanah oleh musuh. Melihat hal tersebut, Rasulullah Saw bergegas memintanya untuk pergi menuju sebuah posko kesehatan yang terletak di sebuah masjid. Seorang perawat bernama Rufaidah telah bersiap di sana untuk mengobati setiap pasien yang datang. Para sejarawan menilai kisah ini mengawali perjalan sejarah rumah sakit Islam.

Adapun orang yang pertama kali mendirikan rumah sakit dalam Islam adalah Khalifah Walid bin Abdul Malik pada tahun 88 H. Uniknya, penamaan rumah sakit pada masa itu tidak menggunakan bahasa Arab (Musytasyfa) melainkan bahasa Persia (Bimarastan). Sementara istilah Musytasyfa baru diperkenalkan di Kairo Mesir saat pendirian Musytasyfa Abi Za’bal tahun 1825 M. Penggunaan bahasa Persia ini mungkin sebagai bentuk apresiasi terhadap sumbangsih besar yang telah mereka berikan.

Bimarastan dalam bahasa Persia tediri dari dua kalimat. Bimar berarti penyakit dan Stan berarti tempat atau rumah. Kemudian disingkat dan terciptalah istilah Bimarastan artinya tempat orang sakit. Dulu, tempat ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat pengobatan berbagai macam penyakit namun tidak jarang juga digunakan sebagai madrasah tempat belajar bagi para calon dokter.

Dalam sejarahnya Bimarastan terbagi ke dalam dua kategori yaitu Bimarastan Tsabit (tetap) dan Bimarastan Mahmul (dibawa/tidak tetap). Seperti namanya, jenis yang pertama berupa bangunan tetap, tidak berpindah – pindah. Seperti rumah sakit yang ada sekarang, hanya saja berbeda dalam segi operasionalnya. Jenis pertama banyak diaplikasikan umat Islam era klasik terutama di kota – kota besar seperti Kairo, Baghdad dan Damaskus.

Sementara bimarastan mahmul, tidak menetap di satu titik. Artinya, tenaga medis sambil membawa peralatan medis terus berpindah – pindah menyesuaikan situasi dan kondisi. Dulu model ini sering diterapkan dalam peperangan. Dimana seorang  tenaga medis bergerilya mencari temannya yang terluka atau membuat posko darurat seperti yang pernah Rasulullah lakukan. Sekarang metode ini berkembang dan dikenal sebagai ambulans.

Konon, Bimarastan mahmul diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh umat Islam. Sebagaimana banyak khalifah dan raja Muslim menggunakan cara ini khususnya untuk memasok tenaga kesehatan ke area yang belum terjamah rumah sakit tetap. Selain itu, jika ada keperluan mendesak seperti menjenguk tawanan atau menangani wabah maka para tim medis ini lah yang menjadi garda terdepan.

Sejumlah dokter kenamaan Islam pernah ditunjuk untuk bertugas di bimarastan mahmul. Diantaranya, Tsannan bin Tsabit, Abu Al-Hakam Al-Maghribi dan Abu Al-Wafa Yahya. Tsannan bin Tsabit bekerja di sebuah rumah sakit di Baghdad di masa perdana menteri Ali bin Isa bin Jarrah.

Ia pernah diamanahi oleh pimpinannya untuk membentuk tim medis khusus dalam misi penanganan wabah di suatu tempat. Kebetulan kawasan tersebut termasuk padat penduduk dan tanahnya tandus. Sehingga metode bimarastan mahmul sangat cocok untuk diaplikasikan dalam situasi ini. Melalui metode tadi, dokter mendatangi langsung lokasi pasien. Sehingga pemeriksaan pun dapat berjalan lebih intensif.

Sudah menjadi tradisi, tatkala raja pergi ke luar kota ia akan ditemani para pemuka sambil membawa harta kekayaan dan kebutuhan pokok. Ini nantinya akan disumbangkan kepada warga sekitar. Tidak ketinggalan, para medis mahmul pun ikut serta dalam rombongan ini. Karena berbagai jenis penyakit bisa mengintai kapan saja, maka tim medis ini dibentuk dari beragam dokter spesialis misalnya ahli operasi, ahli obat – obatan, ahli mata dan lainnya.

Keberhasilan pengembangan rumah sakit Islam tidak terlepas dari peran rumah sakit sekaligus akademi Gundesaphur. Gundesaphur merupakan kota kuno yang terletak di Provinsi Khuzestan, Iran. Kota ini berhasil ditaklukan umat Islam di era Khalifah Umar bin Khattab tepatnya pada tahun 17 H oleh panglima Abu Musa Al-‘Asyari.

Track and record akademi ini cukup gelimang. Sebab, mampu melahirkan sederet nama  besar dunia. Alumninya tersebar di berbagai belahan negeri termasuk diantaranya Islam. Sebagaimana sumber sejarah mencatat bahwa mereka telah lama bersentuhan langsung baik dengan dunia kesehatan di Dinasti Umayyah maupun Dinasti Abbasiyah. Bahkan, ilmu medis Arab pra Islam pun banyak berpegang pada para para alumnus Gundesaphur.

Di masa Rasul dan Khulafaur Rasyidin, ada seorang dokter bernama Harist bin Kaladah dan putranya Nadr bin Harist, keduanya adalah jebolan dari akademi tersebut. Kemudian di era Dinasti Umayyah tercatat dalam sejarah sejumlah dokter tersohor juga merupakan keluaran akademi yang sama misalnya  Ibnu Uthail, Abu Hakam dan Tiadzuq.

Jika di era Dinasti Umayyah kebanyakan para lulusannya diminati untuk bekerja sebagai dokter kerajaan, nah di era Abbasyiah ada sedikit perbedaan. Pada masa ini sejumlah rumah sakit telah dibangun di setiap wilayah yang telah ditaklukan. Ahmad Isa Bik mencatat jumlahnya ada lebih dari 30 buah, tersebar dari wilayah timur Islam (Masyriq) hingga wilayah barat Islam (Maghrib).

Bimarstan Granada, Bimarastan Tunis, Bimarastan Khawarizmi, Bimarastan Iran, Bimarastan Makkah, Bimarastan Madinah dan Bimarastan Quds adalah contoh beberapa rumah sakit di kota – kota besar di dunia Islam. Soal pejabat rumah sakit, alumni Gundesaphur mendapat cukup porsi. Bahkan tidak jarang diantara mereka mengisi jabatan tertinggi.

Misalnya, Georges ibn Bukhtiasyou. Dia pernah menduduki posisi pimpinan umum Bimarastan Dinasti Abbasyiah. Kemampuan nya pun tidak diragukan lagi. Kisah paling populer dari sosoknya adalah tatkala George mampu menyembuhkan penyakit Khalifah Abu Ja’far Mansur di tahun 148 H. Sang Khalifah pun sangat menghormatinya.

Putra dari Georges yakni Bukhtiasyou ibn George tak kalah mentereng. Ia pernah mengobati sederet Khalifah Muslim dari mulai Al-Mansur, Al Mahdi hingga Ar-Rasyid. Maka tidak heran jika Harun Ar-Rasyid pun pernah menempatkannya sebagai pimpinan umum membawahi seluruh dokter Dinasti Abbasyiah.

Tulisan ini disarikan dari Tarikh Bimarastanat Fi Al-Islam karya Ahmad Isa Bik.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here