Sejarah Asal Kata dan Pengertian Tasawuf

0
86

BincangSyariah.Com – Islam adalah agama yang mengikuti ajaran Rasulullah Saw yang bersumber dari wahyu Allah Swt. Ajaran tersebut kemudian disampaikan oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’it-tabi’in sampai kepada para ulama. Para pewaris Nabi tersebut kemudian mendalami dan mengodifikasikan syariat sesuai dengan bidang mereka masing-masing. (Baca: Tiga Kitab Tasawuf yang Mengantarkan Imam al-Ghazali Menjadi Sufi)

Ada yang berkonsentrasi dengan tafsir sehingga menjadi spesialis tafsir dan disebut dengan mufasir, ada yang berkonsentrasi di bidang hadis sehingga terkenal dengan sebutan muhaddis, ada yang berkonsentrasi dalam bidang fikih sehingga terkenal dengan sebutan faqih. Demikian pula, ada yang berkonsentrasi dengan ilmu hati dan suluk menuju Allah, mereka kemudian terkenal dengan sebutan sufi.

Menurut Yusuf Khaththar Muhammad dalam al-Mausu’ah al-Yusufiyyah fi Bayani Adillati ash-Shufiyyah, nama-nama di atas tidak dikenal pada masa Rasulullah Saw., akan tetapi kesemuanya merupakan nama berdasarkan keilmuan yang berasal dari sumber yang sama, yaitu Rasulullah Saw. Sehingga gelar mufasir, muhaddis, fakih atau sufi, tidak mengeluarkan mereka dari sebutan “muslim”.

Tidak semua nama atau sifat yang tidak disebutkan oleh al-Quran dan hadis itu dilarang. Menggunakan nama-nama tersebut hukumnya adalah ja’iz, karena Allah sendiri telah memberi nama seorang muslim dengan bermacam-macam nama, yaitu as-sabiqin, al-muqarrabin, ash-shadiqin, asy-syuhada’, ash-shalihin, al-awwalin, al-akhirin, al-mukhbitin dan lain sebagainya.

Asal Nama Shufiyyah   

Menurut Ahmad bin Ali ar-Rifa’i al-Husaini dalam al-Burhan al-Muayyad, kata Shufiyyah telah dikenal di tengah bangsa Arab sejak sebelum Islam. Salah seorang penduduk suku Mudhar ada yang dipanggil dengan sebutan Banu Shufiyyah, dia adalah, Ghauts bin Mur bin Ad bin Thabikhah ar-Rabith.

Sebab dari julukan itu adalah, Ghauts memiliki seorang ibu yang setiap kali melahirkan, anaknya selau meninggal dunia. Kemudian ibu tersebut bernazar, jika memiliki anak yang hidup, dia akan mengikatkan shufah (kain wool) di kepala anak tersebut dan dijadikan seorang yang zuhud di Ka’bah.

Sekelompok suku Mudhar kemudian menjadi pelayan Ka’bah, mengatur dan membantu orang-orang yang melaksanakan haji sampai datang masa Islam, dan mereka pun memeluknya dan menjadi para ubbad (ahli ibadah). Sebagian ulama mengutip sabda Rasulullah Saw.

فَمَنْ صَحِبَهُمْ سُمِيَ بِالصُّوْفِيّ وَكَذَلِكَ مَنْ صَحِبَ مَنْ صَحِبَهُمْ أَوْ تَعَبَّدَ وَلَبِسَ الصُّوْفَ مِثْلَهُمْ يَنْسِبُونه إلَيْهِمْ فَيُقَالُ صُوْفِيُّ

Siapa saja yang berkawan dengan mereka, disebut dengan “sufi”. Orang yang berkawan dengan orang yang berkawan dengan mereka, atau beibadah dan memakai wool seperti mereka, dan menisbatkan wool tersebut pada mereka, juga disebut dengan “sufi””.

Selain pendapat di atas, masih banyak lagi pendapat lain tentang asal-muasal istilah “sufi”. Berikut beberapa pendapat ulama yang dikutip oleh Yusuf Khaththar Muhammad:

Menurut sebuah pendapat, “sufi” berasal dari kata “ash-shaf” karena mereka berada di barisan terdepan di hadapan Allah Swt. mereka memiliki perhatian yang tinggi terhadap Allah, selalu menghadap kepada-Nya, dan hatinya senantiasa berada di hadirat-Nya.

Menurut al-Qushairi dalam Risalahnya, pendapat di atas benar secara makna, tetapi penisbatan kata “sufi” kepada kata “ash-shaf” tidak tepat.

Menurut pendapat lain, “sufi” berasal dari kata “ash-shuffah” karena penganut sufi mengikuti jalan hidup para sahabat yang miskin yang terkenal dengan sebutan ash-Habu ash-Shuffah. Mereka adalah sahabat yang disifati Allah dalam firman-Nya, “dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya…” (Q.S. al-Kahfi [18] : 28).

Menurut Yusuf Khaththar Muhammad, pendapat tersebut benar secara makna, karena ash-Habu ash-Shuffah adalah kelompok pertama para ahli tasawuf yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk beribadah secara total. Akan tetapi pendapat tersebut tidak tepat dari segi etimologi.

  1. Ulama lain berpendapat, “sufi” berasal dari kata “ash-shufah” yang berarti kain wool, karena kaum sufi itu seperti kain wool yang dibuang karena mereka tunduk berserah diri kepada Allah.
  2. Menurut pendapat lain, “sufi” berasal dari “ash-shifah”, karena mereka menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji dan meninggalkan sifat-sifat tercela.
  3. Ada juga yang berpendapat, “sufi” berasal dari kata “ash-shafwah”, artinya mereka adalah pilihan Allah di antara makhuk-makhluk lain.
  4. Ulama lain mengatakan, “sufi” berasal dari kata “shafawi”, namun kalimat tersebut berat di lidah orang Arab, kemudian dirubah menjadi “shufi”.

Masih banyak lagi pendapat para ulama tentang asal dari kata “sufi”. Pada intinya, menurut al-Qusyairi, semua pendapat di atas tidak ada yang sesuai dari sudut etimologi, sehingga yang lebih tepat, “sufi” adalah seperti julukan bagi sebuah kaum untuk membedakan mereka dengan kelompok yang lain.

Pengertian Tasawuf secara Istilah

Para pembesar sufiyyah memberikan definisi yang berbeda tentang pengertian tasawuf secara istilah, sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi dalam Risalahnya.

Ma’ruf al-Karkhi mengatakan, “Tasawuf adalah mengambil hakikat dan tidak berharap dengan sesuatu yang ada di tangan makhluk.”

Menurut Junaid al-Baghdadi, “Tasawuf adalah engkau bersama Allah dan tidak lagi memiliki hubungan (dengan makhluk)”.

Menurut Sahnun, “Tasawuf adalah engkau tidak menguasai apa pun, dan engkau tidak dikuasai oleh apa pun”.

Alwin bin Abdul Qadir as-Segaf dalam ad-Durar as-Saniyah mengutip Junaid al-Baghdadi, “Tasawuf adalah membersihkan hati, tidak setuju dengan makhluk, menjauhi akhlak bawaan, memadamkan sifat-sifat manusiawi, meninggalkan ajakan-ajakkan nafus, menempatkan sifat-sifat Rabbaniyah, bergantung dengan ilmu hakikat dan mengikuti Rasulullah dalam syariah”.

Ibnu Ajibah dalam Syarah Matan Hikam juga mengutip Junaid al-Baghdadi, “Tasawuf adalah masuk ke dalam akhlak yang mulia dan keluar dari semua akhlak yang hina”.

Jadi tasawuf merupakan ilmu yang memusatkan kajian pada upaya membersihkan batin dan menghidupkan akhlak yang mulia, melalui tahapan-tahapan pengendalian diri dan disiplin dalam menempuh tahapan-tahapan atau maqam spiritualitas, sehingga sampai pada maqam syuhud (menyaksikan Dzat Allah) dan fana’ (sirna dari makhluk). Tasawuf selalu merujuk pada dua hal yaitu; penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here