Segores Kisah saat Ziarah ke Makam Imam Al-Qurthubi

1
1131

BincangSyariah.Com – Alhamdulillah pada November tahun lalu, Allah mengizinkan kami menziarahi makam Imam al-Qurthubi di Desa Zawiyah Sulthan, Al-Minya, Shaid Mesir.

Imam Qurthubi, (w. 671 H) lahir di Cordoba, Andalus. Belajar beraneka macam ilmu di sana. Beliau keturunan sahabat Anshar, kabilah Khazraj yang anak keturunannya mendapatkan doa langsung dari Nabi Muhammad. Seperti syaikh Islam Zakariya Anshari, demikian ungkap Gus Baha.

Imam al-Qurthubi, rahimahullah pindah ke Mesir, lantaran Andalus kala itu hendak menjumpai kehancuran. Beliau keluar dari negaranya menuju Mesir. Al-Aman Qablal Iman, Maulana!

Beliau singgah di Shaid Mesir, Minya. Di sana beliau menulis karya-karyanya. Entah, saya belum tahu, di mana beliau menulis tafsirnnya yang monumental tersebut.

Salah satu perkataan beliau:

فقراء القرآن حملة سر الله المكنون وحفظة علمه المخزون

“Para pembaca Al-Qur’an (sembari dengan memahami maknanya) adalah pembawa rahasia Allah yang tersembunyi, juga penjaga ilmu-Nya yang terpendam.”

Beliau adalah ulama yang besar pada zamannya, mungkin hingga sekarang. Maka tak heran jika Syaikh Mahmud Zallath menulis satu kitab khusus membahas beliau yang berjudul “Al-Qurthubi wa Manhajuhu Fi Tafsir”.

Salah satu karamah beliau, suatu hari makam beliau mau dipindah ke kota Minya oleh pemerintah. Kemudian beberapa hari, gubernur Minya bermimpi Imam Qurthubi dan melarang untuk memindah jenazah beliau. Akhirnya gak jadi dipindah. Tapi karamah beliau yang lebih dahsyat, adalah kitab-kitab beliau yang sejak 600 tahun lamanya tetap dibaca oleh umat muslim. Inilah karamah ilmu.

Imam Qurthubi dipanggil Allah pada tahun 671 H. Rahimahullah.[]

Beberapa catatan biografi di atas saya ambil dari mukaddimah syaikh Muhammad Ibrahim al-Hifnawi dalam tahqiq-nya atas tafsir imam Qurthubi. Saya menuliskannya sepulang dari sana.

Perjalanan 3 jam tidak duduk di kereta -karena memang ramai sekali- terobati dengan mengunjungi makam beliau yang jarang dikunjungi karena lumayan jauh. Belum lagi keramahan serta kemesraan akhlak orang-orang Shaid Mesir yang disaksikan oleh banyak ulama-ulama Azhar.

Sekaliber Imam Buwaithi, Ibnu Daqiq, Imam Mallawi, syaikh Azhar, Ahmad Thayyib, dll berasal dari Shaid. Mereka (khadim makam Imam Qurthubi) menjamu kami layaknya saudara sendiri. Akrab dan Tulus. Disuguhi makanan-makanan desa. Dan kurang berkenang diberi amplop, karena memang entah budaya di sana yang mengajarkan demikian. Mereka hanya mengharap didoakan oleh kami. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Imam al-Qurthubi menambahkan penafsiran mengenai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam ayat di atas. Menurutnya, penggalan ayat itu menunjukkan bahwa Allah mengumpulkan sekaligus pada orang-orang Saba’, yakni antara ampunan Allah atas dosa-dosa mereka dan anugerah-Nya bagi kebaikan tempat tinggal mereka. Kedua hal itu merupakan harmonisasi antara keberkahan negeri dan kesalehan penduduknya. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here