Sebenarnya, Cengkeraman Setan Tidak Kuat

0
1332

BincangSyariah.Com – Setan sering dikaitkan dengan kejahatan. Bagi Fazlur Rahman, seorang pemikir Islam reformis-modernis kelahiran Pakistan, kajian tentang setan mempunyai arti yang sangat besar.

Keberadaan setan menuntut manusia untuk benar-benar berjuang menuju hidup diatas jalan kebenaran. Setan juga membuat selalu berusaha melawan agar bisa terhindar dari kesesatan. Manusia yang berhasil melawan kekuatan dan godaan setan, maka ia pantas menjadi khalifah-Nya di muka bumi.

Untuk melawan kekuatan setan, manusia memerlukan kesadaran untuk selalu mendengarkan hati nuraninya sehingga hal itu akan menjadi self-defence yang kukuh terhadap segala bentuk godaan setan dan segala kejahatan.

Sebab pada dasarnya setan hanya akan menjadi sahabat orang yang zalim yaitu orang yang tidak mau mendengarkan suara hatinya yang hanif, sehingga setan bersama orang itu memperoleh suatu kekuatan.

Namun kekuatan mereka yang tidak berdasarkan kebenaran itu adalah tidak riil. Dengan pengertian, kekuatan itu tidak dapat menandingi kekuatan Allah, dan karena itu bersifat bathil, palsu dan dapat dikalahkan manusiayang benar-benar berjuang untuk memperoleh kebenaran.

Fazlur Rahman menjelaskan dalam buku Islam dan Modernitas (1985) bahwa sebagai suatu sosok, setan pada awalnya berasal dari semacam bangsa jin. Fazlur Rahman membedakan antara jin pada satu sisi dengan setan atau iblis pada sisi yang lain. Untuk menjelaskan perbedaan itu, ia mengutip beberapa ayat al-Qur’an.

Salah satu ayat yang ia kutip adalah surat Saba’: 12 tentang adanya jin-jin yang mengabdi kepada Sulaiman, dan surat al-An’am [6]: 130 mengenai pernyataan Allah Swt. bahwa Ia telah mengutus para Rasul kepada manusia dan jin, serta surat-surat lain yang sejenis.

Dari ayat-ayat tersebut, Fazlur Rahman menyimpulkan bahwa pada dasarnya jin adalah mahluk yang tidak berbeda dengan manusia kecuali mereka lebih besar kecenderungan kepada kejahatan dan kebodohan. Para jin juga mempunyai tabiat yang panas dan kekuatan yang sangat besar. Selain itu, jin juga tidak seperti manusia. Jin adalah makhluk yang termasuk ke dalam golongan mahluk ghaib yang berasal dari esensi api.

Baca Juga :  Kisah Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah

Pengungkapan tersebut menunjukkan bahwa Fazlur Rahman menyatakan jin adalah mahluk yang benar-benar bersifat person, bukan sekedar metafora atau simbol semata. Sedangkan setan bisa diartikan dengan dua pengertian. Pertama, sebagai suatu person. Kedua, sebagai kiasan. Analisis di atas berlaku untuk setan dalam peristiwa turunnya Adam dan Hawa.

Dalam kisah Adam dan Hawa, iblis adalah person yang bukan hanya mengingkari perintah Allah Swt. dengan menolak menghormat kepada Adam, tapi juga terlibat perdebatan dengan Allah Swt. lantas bersumpah untuk menggoda manusia.

Tatkala Adam dan Hawa telah tergoda dengan memakan buah terlarang, maka yang menggoda mereka bukan lagi iblis, tapi setan yang menjadi sebutan bagi prinsip kejahatan. Setan muncul sebagai manifestasi keburukan dan kejahatan yang bersifat objektif, bukan lagi sebagai person tertentu.

Fazlur Rahman menegaskan bahwa kongkritnya, setan bukan suatu prinsip anti-Tuhan. Setan adalah satu kekuatan anti-manusia yang tiada henti berupaya untuk menyimpangkan manusia dari kebenaran. Setan tidak akan berhenti sampai manusia terperosok ke dalam jalan yang sesat.

Dari landasan berpikir di atas, Fazlur Rahman menekankan bahwa ide terpenting yang bisa kita petik dari al-Quran adalah bahwa aktivitas setan memasuki setiap bidang kehidupan manusia dan manusia harus selalu berjaga-jaga. Jika manusia mengendorkan kewaspadaannya, maka ia mudah terbujuk oleh godaan setan.

Kepada Nabi Muhammad dikatakan: ”Apabila setan menggoda berlindunglah kepada Allah Swt., sesungguhnya Allah Swt. mendengar dan mengetahui.” (QS. al-A’rāf [7]: 200-201).

Menurut Fazlur Rahman, sebenarnya cengkeraman setan itu tidak kuat. Cengkeraman tersebut hanya dipengaruhi kelemahan, tidak adanya keberanian moral, dan tidak adanya kewaspadaan di dalam diri manusia yang membuat setan terlihat menjadi semakin kuat.

Baca Juga :  Shalat Berjamaah Empat Mazhab di Mekkah Tempo Dulu

Ia juga menekankan bahwa iblis atau setan sebenarnya tidak kuat, tapi licik dan licin. Setan lebih banyak mempergunakan tipudaya dan siasat daripada menantang dengan terang-terangan. Aktivitas setan tidak menggempur, tapi membujuk, atau berkhianat dan menghadang. Jadi, kekuatan setan sangat bergantung pada kelemahan manusia.

Maka dari itu, perjuangan moral sangat penting bagi manusia dalam kehidupannya. Kebebasan yang dimiliki manusia tidak akan bernilai jika tidak benar-benar diarahkan pada kebaikan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here