Sayyidah Khadijah; Saudagar Kaya Raya yang Diperistri Rasulullah

0
1158

BincangSyariah.Com – Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib. Ibunya bernama Fathimah binti Zaidah bin Asham bin Haram bin Rawahah. Sayyidah Khadijah lahir di tengah keluar terhormat dan terpandang, sekitar lima belas tahun sebelum tahun Gajah (65 SM).

Ia tumbuh di sebuah keluarga terhormat hingga menjelma menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Ia terkenal memiliki keteguhan dan kecerdasan serta tata krama yang sangat luhur. Karena itu, Khadijah menjadi pusat perhatian bagi para pembesar kaum Quraish.

Dia adalah perempuan kaya raya yang memiliki usaha perdagangan yang besar. Di samping terkenal karena kecantikannya, dia juga terkenal mempunyai kepribadian yang sempurna dengan reputasi baik dan nama yang masyhur. Dan yang terpenting, dia terkenal karena kesucian akhlaknya sehingga dia dijuluki “perempuan yang suci”.

Sebelum bertemu dengan Rasulullah Saw, Sayyidah Khadijah ra telah beberapa kali berumah tangga. Di antaranya dengan Abu Halah bin Zararag at-Tamimi, setelah ABu Halah meninggal ia menikah dengan Abid bin Abdullah al-Makhzumi dan tinggal bersama Atiq beberapa waktu kemudian berpisah.

Dengan segala kelebihan dan keahlian tersebut, banyak laki-laki dari kalangan Quraisy yang ingin mendekatinya dan bermaksud menyuntingnya menjadi istri. Mungkin karena pengalaman rumah tangganya terdahulu sehingga dia selalu berhati-hati dalam menerima lamaran. Alasan lain adalah karena dia sangat disibukkan dengan urusan perdagangan dan segala tanggung jawabnya sehingga tak terasa umurnya telah semakin bertambah dan telah lewat lima tahun dari pernikahannya terdahulu.

Akan tetapi, kemasyhuran nama Muhammad Al-Amîn Saw. sebagai sosok laki-laki dengan akhlak yang terpuji dan berbagai hal baik yang dia dengar dari pembantunya tentang Muhammad ibn Abdullah—ketika beliau mengikuti perjalanan dagang yang terakhir ke Syam dengan mendapat keuntungan besar dan praktik jual beli yang beliau lakukan dengan baik—telah mencuri perhatiannya dan menimbulkan harapan dalam hatinya.

Baca Juga :  Meneladani Toleransi Wali Songo

Dia menyembunyikan secercah cinta kepadanya dari orang-orang yang menyanjungnya. Akhirnya, terjadilah pernikahan antara Muhammad Saw. dan Khadijah ra, keduanya berada dalam kebahagiaan, lahir dan batin. Dan setelah berjalan beberapa tahun, lahirlah keturunan-keturunan yang mulia, di mulai dengan kelahiran putra pertama yang diberi nama Qasim, sehingga Rasulullah juga dikenal dengan julukan Abu Al-Qasim. Kemudian berturut-turut lahirlah Abdullah, lalu Al-Thayyib atau yang dikenal dengan nama Thahir.

Tetapi karena hikmah Ilahi yang luhur, semua putranya ini wafat pada usia yang sangat belia. Semua putranya tadi lahir sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Kemudian setelah itu berturut-turut lahirlah putri-putri beliau, dimulai dengan Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, dan Fathimah.

Sayyidah Khadijah merupakan orang pertama yang beriman kepada risalah Rasulullah dan menenangkan beliau ketika beliau ketakutan saat pertama kali mendapatkan wahyu yang disampaikan Jibril padanya. (Baca kisah kronologi permulaan datangnya wahyu kepada Nabi Muhammad).

Ibn Ishaq menambahkan, “Khadijah r.a. adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta membenarkan apa yang dibawanya. Maka dengan sebab tersebut, Allah Swt. meringankan beban Rasulullah Saw. sehingga tidak sekali pun beliau mendengarkan sesuatu yang tidak menyenangkan mengenai Khadijah ra.”

Aspek lain dari sisi keagungan Khadijah ra adalah dia telah mendermakan seluruh hartanya untuk dibelanjakan di jalan Allah Swt Dia menyumbangkan seluruh hartanya tanpa perhitungan dan tanpa mengharap imbalan apa pun, khususnya saat terjadi peristiwa pemboikotan dan penutupan seluruh akses kehidupan bagi keluarga Abu Thalib sebab mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw Dia selalu mencukupi segala kebutuhan Nabi Saw demi kepentingan perjuangan Rasulullah.

Dia juga sangat berempati kepada orang-orang Muslim yang fakir, dan selalu membentangkan tangannya untuk berderma. Dia adalah figur Ummul Mukminin yang sejati dan merupakan orang pertama yang mempunyai derajat dan kedudukan mulia di hati Rasul. Hal yang demikian ini membuat Aisyah ra sangat cemburu kepada Khadijah ra karena Rasulullah Saw selalu menyebut, menyanjung, dan sering merindukannya.

Baca Juga :  Teladan Kesetiaan Nabi Muhammad kepada Siti Khadijah

Aisyah ra berkata, “Rasulullah Saw hampir-hampir tidak pernah keluar rumah sebelum menyebut Khadijah ra dan melontarkan pujian yang baik kepadanya. Bahkan, beliau sering menyebutnya dalam beberapa kesempatan. Hal itu membangkitkan kecemburuanku kepadanya. Aku berkata kepada Rasulullah Saw, ‘Bukankah Khadijah ra hanya seorang perempuan tua dan lemah yang telah digantikan oleh Allah Swt dengan seseorang yang lebih baik darinya?’” Rasulullah Saw marah setelah mendengar hal tersebut dan menjawab, “Tidak, demi Allah, Dia tidak pernah memberiku seorang pengganti yang lebih baik darinya. Khadijah ra telah beriman kepadaku kala semua orang kafir kepadaku, dia membenarkan aku kala banyak orang mendustakanku, dia menolongku dengan hartanya kala semua orang tidak mengindahkanku. Allah Swt memberiku rezeki berupa keturunan dari dirinya, tidak dari istri-istriku yang lain. ” Aisyah r.a. pun berkata dalam hatinya, “Aku berjanji kepada diriku tidak pernah mencelanya lagi untuk selama-lamanya.”

Akhir Hidup Khadijah

Setelah pemboikotan terhadap keluarga Abu Thalib berakhir, Khadijah ra melewati peristiwa tersebut dalam keadaan fisik yang letih, tulang-tulangnya terasa lemah sehingga tidak lama kemudian dia jatuh sakit. Suami dan putri-putrinya mengelilinginya dan berusaha menolong serta mencoba meringankan apa yang dirasa berat olehnya. Akan tetapi, beberapa tabib dan berbagai macam obat penawar belum mampu mengobatinya, sampai tiba saat ruhnya pergi dengan tenang, menghadap Zat Yang Mahaagung dan Mahalembut.

Perpisahan dengan Khadijah ra ini merupakan salah satu kepedihan paling mendalam yang pernah dirasakan oleh Rasulullah Saw. Khaulah binti Hakim pernah berkata, “Wahai Rasulullah! Aku melihat engkau seakan-akan telah kehilangan kasih sayang bersamaan dengan wafatnya Khadijah ra,” Beliau menjawab, “Lebih dari itu, dia merupakan seorang ibu bagi keluarganya dan seorang pengatur rumah tangga yang baik.”

Baca Juga :  Rasulullah Menegakkan Hukum pada Wanita Bangsawan yang Mencuri

Selepas wafatnya Khadijah ra, hanya kenangan tentangnya yang menjadi pegangan bagi Nabi untuk mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan Khadijah ra dalam rumah tangganya. Di sisi lain, setiap kali Rasulullah Saw memandang putri-putrinya, beliau selalu terbayang kepada ibu mereka yang telah tiada. Demikianlah kedudukan Sayyidah Khadijah dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here