Saudah Binti Zum’ah; Janda Tua yang Dinikahi Rasul setelah Khadijah

1
1006

BincangSyariah.Com – Suatu ketika Saudah bermimpi seolah melihat bulan jatuh dari langit menimpa dirinya saat ia sedang berbaring tidur. Ia tidak mengerti apa takwil mimpi itu dan ia tidak pula pernah berharap untuk menjadi istri Rasulullah setelah dirinya lapuk dimakan usia.

Ia adalah Saudah binti Zum’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abdud bin Nashr bin Malik bin Hasan bin Malik al-Qurasyiyah al-`Amiriyah. Ibunya bernama asy-Syumus binti Qais bin Zaid bin Umar. Ia merupakan keturunan Bani `Adi an-Najjar.

Sayyidah Saudah seorang wanita yang agung dan pandai ini pernah menikah dengan saudara sepupunya, as-Sakran bin Amar, saudara dari Suhail bin `Amar al-`Âmiri. Saudah adalah salah seorang dari delapan orang keturunan Bani `Amir yang hijrah ke Habasyah.

Begitu penderitaan di pengasingan saat berada di bumi Habasyah berakhir, Saudah kehilangan sang suami yang hijrah bersamanya. Ia pun merasakan pahitnya sebagai janda sesudah mengalami penderitaan hidup dalam keterasingan.

Sementara pada saat yang sama sepeninggal Sayyidah Khadijah, semua sahabat Rasulullah mengetahui sejauh mana kebutuhan beliau kepada seorang istri. Namun, tidak seorang pun dari mereka berani mengawali pembicaraan dengan Rasulullah, yang sedang berduka karena kehilangan Khadijah, tentang siapa yang akan menggantikan posisi istri pertama nan suci itu.

Suatu malam ketika Rasulullah berada di kediaman dan mengenang hari-harinya yang damai bersama Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah, datanglah Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Mazhnun, menemui beliau. Rasulullah segera menyambut kedatangan Khaulah karena ia adalah salah seorang wanita mukmin sejati yang pernah ikut dalam hijrah pertama ke tanah Habasyah bersama Utsman, suaminya.

Khaulah melangkah mendekat sambil mengumpulkan keberanian sebelum mulai berbicara dengan santun kepada Rasulullah . Ia berkata, “Apakah engkau tidak hendak menikah wahai Rasulullah?” Rasulullah memperhatikan Saudah dari balik alis matanya yang panjang. Dengan nada yang masih memendam kesedihan dalam hati, beliau menjawab, “Siapakah sesudah Khadijah wahai Khaulah?”

Khaulah menyahut, “Engkau bisa memilih gadis ataukah janda.” Rasulullah bertanya, “Siapakah yang gadis?” Khaulah menjawab, “Ia adalah putri dari makhluk Allah yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar.”

Setelah sejenak diam, Rasulullah kembali bertanya, “Siapakah yang janda?” Khaulah menjawab, “Ia adalah Saudah binti Zum’ah yang telah beriman kepadamu dan mengikuti agamamu.”

Rasulullah terbayang saat Saudah meninggalkan Makkah, bumi yang subur tatkala ia mendapat kesempurnaan dan kemewahan hidup serta merasakan ketenangan di atas bumi itu, tetapi kemudian ia pergi menuju Habasyah negeri asing dan di tengah orang-orang yang tidak ia kenal dan mereka tidak pula mengenalnya. Bahasa mereka bukan bahasa Arab. Agama mereka bukan agama Islam. Bahkan, sebelum kembali dari perasingan dan menginjak bumi Mekah, suaminya meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Rasulullah sangat terkesan dengan Saudah, Muhajirah yang menjadi janda itu. Karena itu, begitu Khaulah binti Hakim menyebut nama Saudah, Rasulullah segera mengulurkan tangannya untuk menjadi sandaran bagi Saudah pada masa tuanya serta meringankan kerasnya kehidupan yang ia rasakan.

Rasulullah bersabda kepada Khaulah, “Pergilah dan bicaralah kepada Saudah!” Khaulah segera pergi. Ia terlebih dahulu menghampiri kediaman Abu Bakar dan baru kemudian mendatangi rumah Zum’ah. Tidak lama kemudian, Nabi menikahi Aisyah binti Abu Bakar juga menikahi Saudah yang hidup bersama Rasulullah selama kurang lebih tiga tahun atau lebih, baru kemudian berkumpul dengan Aisyah.

Masyarakat Mekah merasa aneh terhadap pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zum’ah. Mereka pun bertanya dengan penuh keraguan, “Janda tua yang tidak begitu cantik menggantikan junjungan seluruh wanita Quraisy dan tumpuan semua pembesar Quraisy?”

Sayyidah Saudah menyadari bahwa Rasulullah tidaklah menikahi dirinya, kecuali karena kasihan kepadanya setelah ditinggal oleh mendiang suaminya. Namun ia tak peduli, Rasulullah mengangkatnya dalam kedudukan tinggi itu dan menjadikannya sebagai Ummul Mukminin, semua itu sudah cukup baginya.

Saudah sudah merasa bahagia ketika melihat Rasulullah menertawakan dirinya saat berjalan—karena tubuhnya sangat gemuk—atau kadang beliau juga merasa damai karena keriangan Saudah dan memuji sedikit kata-katanya. Suatu ketika, Saudah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tadi malam aku shalat di belakangmu. Selanjutnya, engkau membawaku ruku’ hingga aku memegang hidungku karena khawatir jika sampai darah menetes darinya.” Rasulullah tersenyum lebar karena kata-kata Saudah tersebut. Demikianlah, Saudah mampu menciptakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam hati Nabi dengan keriangan dan kejenakaannya meskipun tubuhnya begitu gemuk.

Saudah wafat pada ujung masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Sementara itu, Ummul Mukminin Aisyah selalu mengenang perilaku dan pengaruh Saudah. Dengan penuh kejujuran Aisyah mengatakan, “Tidak ada wanita yang aku lebih ingin meniru perilakunya selain Saudah binti Zum’ah. Pada saat sudah renta, ia berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, aku berikan hariku darimu untuk Aisyah.”

*Disarikan dari kitab Nisa’ Haula Ar-Rasul.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here