Mengenal Budaya Mengelana Ulama Mencari Ilmu

0
292

Periwayatan hadis sangat menekankan pertemuan atau tersambungnya antara pemberi riwayat (al-rāwi) dengan yang menerima riwayat (al-marwī). Pertemuan tersebut meniscayakan riwayat tersebut menjadi sahih. Sebaliknya, jika tidak ada pertemuan apalagi membuat pengelabuan bahwa seolah saling bertemu, padahal tidak, meniscayakan sebuah hadis menjadi daif (arab: dha’īf) dan palsu.

Penakanan ini tidak terlepas dari apa yang terjadi sejak zaman para sahabat Nabi Saw. Imam al-Bukhari merekam kisah sahabat Jabir bin ‘Abdullah, yang berangkat ke wilayah Syam segera ketika mendengar ada orang yang mendengar hadis Nabi Saw. Imam al-Bukhari mencantumkan riwayat ini dalam al-Adab al-Mufrad. Abdul Fattāh Abū Ghuddah mengkompilasikan kisah ini dalam rangkaian isi buku berjudul Shafahāt min Shabr al-‘Ulamā’, lembar-lembar cerita kesabaran ulama. Berikut pernyataan Jabir bin Abdullah,

Saya dapat kabar kalau seseorang dari sahabat nabi Saw. pernah mendengar satu hadis. Segera saya membeli seekor unta untuk pergi menemuinya, dan saya berjalan dengan cepat menuju kesana. Saya menghabiskan satu bulan sampai tiba di Syam. Sahabat itu bernama Abdullah bin Unays. Saya berkata kepada penjaga rumahnya, “katankan padanya, Jabir ada di depan pintu !. Penjaga rumah bertanya: “Jabir bin Abdullah ?” Jabir menjawab, “Benar !”

Abdullah bin Unays pun keluar lalu memeluk Jabir. Saya lalu berujar: “satu hadis saya dengar kalau kamu mendengarnya dari Rasulullah. Saya takut saya mati atau engkau mati, tapi engkau belum perdengarkan kepadaku.” Abdullah bin Unays pun menyampaikannya: aku mendengar Rasulullah bersabda: “Allah akan mengumpulkan manusia di hari kiamat dalam keadaan tidak berbusana, belum dikhitan, dan Buhman” Kami bertanya, “Buhman itu apa ?” Abdullah bin Unays menjelaskan, “tidak memiliki apapun”. Setelah menerima riwayat itu, Jabir bin Abdullah lalu berkata dengan keras sampai yang jauh juga terdengar. “Tidak mesti ahli surga segera masuk surga, sementara ada seorang dari ahli neraka menuntut ahli surga itu karena satu kezalimannya. Dan tidak mesti juga ahli neraka segera masuk neraka, sementara ada ahli surga yang masih menuntut balas kezalimannya. Abdullah bin ‘Unays berkata: “Lho, Kenapa ? Kita akan datang dengan tidak berbusana dan tidak memiliki apapun ?” Jabir berkata: “(Kita datang nanti) dengan kebaikan dan keburukan yang kita punya !”

Baca Juga :  Agar Anak Anda Jadi Ulama, Teladani Sikap Ibnu Abbas Ini

Al-Khatib al-Baghdadi, sampai membuat kitab berjudul al-Rihlah fi Thalab al-Hadits untuk mendokumentasi berbagai fenomena para sahabat, tabi’in, dan ulama yang sangat semangat mendengar dan mencari riwayat hadis-hadis Nabi. Dengan bertemu, pengetahuan mereka tentang apa yang bersumber dari Nabi Saw. menjadi saling melengkapi.

Terkait budaya kelana untuk cari ilmu ini, Ahmad bin Hanbal pernah ditanya soal ini. Ia ditanya lebih baik mana orang yang hanya belajar saja dengan yang mengelana mencari ilmu. Beliau menjawab, yang mengelana !.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here