Perbedaan Santri Zaman Old dan Santri Zaman Now dalam Menyikapi Kiriman Telat

2
1046

BincangSyariah.Com – Santri sekarang dengan santri zaman dulu tidaklah jauh berbeda. Hanya saja ada dalam sisi tertentu yang perbedaannya sangat mencolok. Santri dulu masih kental dengan suasana serba tradisional, sedangkan sekarang sudah banyak yang campuran antara tradisional dan modern. (Pesantren Tempat Melatih Kepekaan Sosial dan Kedisiplinan Santri)

Santri zaman dulu dengan sekarang memilik perbedaan yang agak unik dan menggelitik nalar kita. Misal dalam masalah menyikapi kiriman yang telat. Ada ciri dan cara berbeda antara santri sekarang dengan santri kuno.

Santri dulu, ketika kiriman telat tetap sabar dan tegar. Mereka tidak menceritakan pada teman-teman yang lain bahwa dirinya kekurangan biaya hidup di pesantren. Mereka tetap tegar dan bahagia, mengamalkan syi’iran berikut:

استغن ما اغناك ربك بالغنى اذا تصبك خصاصة فتجمل

Cukuplah dengan kekayaan yang telah diberikan Tuhanmu. Ketika ditimpa musibah, maka tetap menampakkan dalam keadaan baik-baik saja (tanggung sendiri).

Orang tua mungkin lagi sibuk, sehingga tidak sempat menjenguk. Atau memang sedang tidak memiliki uang sama sekali untuk mengirim anak di pondok. Tapi perlu disadari, bahwa nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. sudah tidak terhitung. Bisa melihat, berjalan dengan normal, bernafas tanpa tabung oxigen adalah harta kekayaan yang tak ternilai. Prinsipnya, sudahlah saya sedang galau, tapi tak perlu memasang muka sedih didepan kawan.

Santri zaman old biasanya juga mengisi kekosongan kiriman dengan banyak puasa sunah. Bukan hanya senin-kamis, palingan hanya hari jumat yang tidak puasa. Seminggu lebih banyak puasanya. Ketika ditanya mengapa selalu puasa, jawabannya “tirakat”. Padahal karena kiriman sudah telat setengah bulan.

Iya, ada juga sebagian yang tidak sabar saat kiriman mandek. Tapi tetap santai (kata santri zaman now, santuy). Dulu, tidak telepon, sehingga memberitahu orang rumah pakai surat-menyurat. Ada Wartel (Warung Telepon), tapi tidak ada uang untuk bayar. Surat dititipkan pada tetangga yang sedang ngirim.

Isi surat santri zaman old penuh misteri. Hanya bisa dipecahkan oleh pembuat suratnya. Sehingga orang rumah langsung menjenguk anaknya di pondok. Inilah kecerdasan santri dulu yang kirimannya telat.

Baca Juga :  Syahabuddin: Masjid Kuning Sultan Siak

Misal, salah satu surat santri dulu ada yang dibiarkan kosong. Tidak ada isinya sama sekali. Pasti orang rumahnya kaget dan penasaran, mengapa suratnya tidak ada berisi tulisan. Mereka khawatir sehingga langsung ke pondok. Sampai di pondok langsung ditanyakan, mengapa suratnya kosong. Santri ini menjawab “Ibu, bapak, surat itu kosong, tandanya saya sudah tidak memiliki uang untuk sekedar beli bolpen. Apalagi uang jajan.” Orang tuanya hanya tepuk jidat.

Ada lagi surat aneh dari santri dulu pada orang rumahnya. Dalam suratnya terdapat salah satu kaidah tauhid, Aqidatul Awamnya Imam Al-Marzuqi. Kaidahnya sebagai berikut:

الملك الذي بلا اب وام لا اكل لا شرب ولا نوم

Malaikat itu tidak memiliki orang tua, juga tidak makan, minum, dan tidur.

Orang tuanya bingung, mengapa suratnya singkat dan berbahasa arab. Kalau orang tuanya alim, mereka bertanya-tanya mengapa anaknya menulis Rukun Iman kedua, para malaikat. Karena mereka khawatir, langsung jenguk anaknya.

Sampai di pondok, anaknya ditanya, mengapa isi suratnya begitu. Dengan enteng anaknya menjawab “Ah bapak. Itu artinya anakmu ini bukan malaikat, yang memang tidak punya orang tua dan tidak butuh makan-minum. Butuh kiriman!”, Orang tuanya hanya tersenyum, entah ekspresi bangga atau apa.

Berbeda dengan santri zaman sekarang, kiriman telat sedikit langsung main telepon. Orang rumahnya diingatkan, “Pak, Mak, sudah lupa ya kalau punya anak di pondok? Kok telat kiriman. Kalau sudah tidak sanggup, saya mau berhenti saja” Pukulan batin bagi kedua orang tuanya.

Ada juga yang jatuh sakit, langsung minta jemput pada orang tuanya. Baru sehari di rumah, langsung bisa jalan-jalan ke jantung kota. Ketika ditanya mengapa kalau pulang bisa langsung sembuh, jawabannya simpel, “Dompet saya yang sakit, kelaparan karena kiriman telat. Bukan saya.”

Baca Juga :  Ibnu Sahnun; Pioner Pendidikan Islam Asal Tunisia

Ada juga yang bisa menerima dengan hati lapang. Santri model seperti ini sadar diri. Dia menyadari bahwa orang tuanya pasti lebih kepikiran ketika kiriman telat. Memang benar, orang tua mana yang tidak akan kepikiran pada kiriman anaknya. Bagaimanapun caranya pasti diusahakan, walau harus pinjam ke tetangga.

Oleh karena itu, siapa saja yang sedang berstatus santri (termasuk penulis), tidak perlu galau ketika kiriman telat. Orang tua pasti lebih hafal pada jadwal kiriman anaknya. Isilah dengan puasa sunah, atau bisa pinjam dulu pada teman yang lain. Hidup di pondok bukan untuk mewah-mewahan, tapi belajar merasakan hidup yang serba pas-pasan. Pondok tempat belajar ikhlas dan qonaah pada takdir Allah Swt. Wallahua’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here