Pemikiran Sederhana Santri dalam Mengimani Peristiwa Isra Mi’raj

0
926

BincangSyariah.Com – Tugas santri di pondok adalah ngaji dan ngabdi pada kiai. Ketika pulang, tugas utama menyebarkan ilmu dan mengabdi pada masyarakat. Di pondok, santri patuh 100% pada dawuh kiai selama tidak bertentangan dengan agama. Santri pasti mengikuti kiai, qowlan wafi’lan ‘ucapan maupun perbuatan’. Bahkan terkadang santri memutuskan hukum berlandaskan pendapat atau keputusan dari sang kiai.

Sebut saja dalam peristiwa isra dan mi’raj, santri tidak perlu banyak mikir untuk mempercayainya. Kata santri, kami tidak perlu banyak dalil untuk mempercayai peristiwa isra. Penjelasan dari kiai sudah lebih dari kata cukup. Tidak perlu Al-Quran, hadits, atau ulama salaf yang menjelaskan peristiwa agung tersebut. Toh kiai di pesantren dapat dipastikan sudah menguasai sumber hukum Islam.

Iya, Allah Swt. mengabadikan peristiwa isra’ ini dalam Qs. Bani Israil (17) : 1. Firman-Nya:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Baca: Benarkah Peristiwa Isra Mi’raj Buktikan Allah Bertempat di Langit?)

Untuk mirojunnabi, Allah Swt. berfirman dalam Qs. An-Najm (53) : 13-14

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha,

Dalam Tafsir Jalalain Juz 2/hal. 196 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. pada saat di-mi’rajkan bisa melihat bentuk asli dari Malaikat Jibril as, di dekat Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang terletak di samping kanan Arsy. Tidak ada satupun malaikat dan makhluk lain yang dapat melewati pohon tersebut kecuali Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  Sambut Hari Santri Nasional, Ini Perubahan Orientasi Keilmuan Pesantren pada Abad 19

Berkaitan dengan peristiwa agung ini, coba kita renungkan sebentar. Andaikata ada semut yang bercerita tentang perjalanannya dalam mengelilingi dunia yang hanya mengahabiskan waktu sehari, pasti ia akan ditertawakan oleh semut yang lain. Padahal semut tersebut nempel di bahu seorang pilot. Memang mustahil seekor semut bisa melakukan hal tersebut, tapi bila atas inisiatif sendiri. Berbeda lagi saat ia numpang di bahu seorang pilot, maka tentu merupakan sebuah kemungkinan.

Jadi, jika dianalogikan, isra’-mi’raj Nabi Muhammad Saw. tidak jauh berbeda dengan cerita semut di atas. Nalar sehat tidak mungkin bisa menerima cerita tersebut. Dimana perjalanan dari Mekah menuju Palestina, lalu naik ke langit tujuh, dilaksanakan dalam semalam (kurang-lebih 8 jam). Namun, apa yang tidak mungkin bila Allah Swt. sudah berkehendak? Bagi-Nya, cukup lafadz “kun“, maka terjadilan apa yang Allah Swt. kehendaki.

Coba kita renungkan, dulu sebelum ada pesawat, orang Indonesia berbulan-bulan untuk sampai ke Mekkah. Tapi, sekarang bisa hanya 8 jam melalui kapal terbang. Ada “buroq” yang membawa kita bisa sampai lebih cepat, yakni pesawat.

Begitu juga Baginda Nabi Muhammad Saw., beliau melakukan perjalanannya dengan mengendarai hewan yang bernama buraq. Sebagaimana yang diceritakan dalam Kitab Dardir, kecepatan hewan ini sangat luar biasa. Jangkauan langkahnya sejauh mata memandang. Ia tidak pernah bertemu dengan yang namanya tanjakan atau turunan. Karena kakinya dapat menyesuaikan dengan medan tanah. Lebih canggih mana antara pesawat terbang buatan manusia daripada “buraq” ciptaan Allah Swt.?

Dari ini saja santri sudah tidak butuh banyak dalil untuk mempercayai peristiwa isra’. Hati santri sudah dilapisi dengan keimanan. Santri sudah dibekali ilmu ushuluddin sehingga bisa meyakini semua yang disampaikan Nabi adalah “haq“.

Baca Juga :  Benarkah Peristiwa Isra Mi’raj Buktikan Allah Bertempat di Langit?

Santri juga tidak perlu memperdebatkan masalah fisik nabi saat isra’-mi’raj. Iya, memang sebagian sahabat nabi dan para ulama yang berselisih pendapat. Ada yang menyebut nabi isra’ hanya ruhnya saja. Ada yang berpendapat ruhan wajasadan. Tapi jumhur ulama menyepakati bahwa isra’-mi’rajnya Nabi dengan ruh dan jasad beliau. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here