Santri dan Semarak Seremonial Bulan Rajab

0
851

BincangSyariah.Com – Umat Islam, utamanya kalangan pesantren sudah terbiasa merayakan hari-hari besar dalam islam. Dari yang sederhana hingga yang spektakuler. Kalau bulau maulid, kita mauludan. Di bulan Muharam, kita rayakan dengan puasa suro. Di bulan rajab, kita rayakan dengan peringatan isra’. (Baca: Lima Pelajaran Berharga dalam Peristiwa Isra’ dan Mi’raj)

Bahkan bukan hanya kalangan pesantren, rakyat biasa dan intansi pemerintah juga ikut merayakan hari besar islam. Baik dengan bershalawat bersama, santunan, sunatan masal, pengajian akbar, wisata religi makam waliyullah, dan lain-lain.

Seperti halnya di bulan Rajab, hampir setiap hari ada yang memperingatinya. Puncak seremonial bulan Rajab jatuh pada tanggal 27 Rajab. Di mana pada tanggal tersebut terjadi peristiwa agung pada manusia yang agung. Yakni isra’-mi’raj baginda Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram Mekah hingga Masjidil Aqsha Pelestina, lalu ke Sidratul Muntaha. (Baca: Cara Unik Ulama Nusantara Menjelaskan Isra’ Mi’raj)

Di Madura, khususnya pesantren, peringatan isra’-mi’raj seakan-akan sudah menjadi kewajiban. Acara demi acara dilaksanakan untuk saling mengingatkan pada peristiwa agung ini. Tujuannya tiada lain, mencari ridlo Allah Swt. melalui peringatan isra’.

Sangat lucu (pakai sekali) ketika ada sebagian kalangan yang mengharamkan acara ini. Dalih mereka karena tidak dilakukan oleh Rasulullah Saw. Padahal isinya tidak ada yang bertentangan dengan agama. Bahkan bisa menjadi syiar yang memang menjadi perintah agama.

Sebaimana yang telah kita ketahui, susunan dan prosesi acaranya sesuai dengan kaidah agama. Sebut saja di pengajian akbar, ada pembacaan ayat-ayat Al-Quran, shalawat, ceramah, sedekah, dan lain-lain. Lalu, biasanya ada sepatah kata dari panitia acara atau tuan rumah. Baik kata permohonan maaf atau kata terima kasih. Di mana yang bertentangan dengan agama, coba sebutkan?

Ada juga sebagian pesantren merayakan isra’ dengan mengadakan pekan lomba. Baik intra maupun antar pesantren. Mulai dari karya tulis, misal menulis artikel, cerpen, puisi, yang bertemakan isra, atau lomba pidato, nasyid islami, dan lain-lain. Apakah hal ini nampak menyalahi aturan agama?

Namun, semarak rajabiyah terlihat lebih hidup di pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan yang terletak di pedesaan. Misal Pondok Pesantren Mambaul Ulum Ganding. Pesantren yang terletak di Kabupaten Sumenep ini juga ikut merayakan isra’-mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Perayaan isra’ di pondok ini agak berbeda dengan pesantren pada umumnya. Yakni, p ara santri memperingati isra’-mi’raj dengan menghatamkan Kitab Dardir yang ditulis oleh Imam Ad-Dardiri (Imam Abu al-Barakat Ahmad Ibn Muhamnad Ibn Ahmad al-Adawy al-Maliki al-Khalwaty). Kitab ini menceritakan kejadian-kejadian penting mulai dari sebelum, sesaat, dan sesudah peristiwa isra’.

Ketua pengurus pondok akan membaca, memaknai perkata, dan menjelaskan isi kitab tersebut. Semua santri memberi makna kitab masing-masing dan mendengarkan cerita atau penjelasan pengurus. Santri putra bertempat di masjid dan santri putri di musholla putri. Pengajian ini menggunakan pengeras suara.

Biasanya, pengajian ini langsung dimulai sehabis berjamaah isya dan selesai sekitar pukul 22:00. Setelah itu, ada suguhan dari keluarga dhalem yang menjadi rebutan para santri. Suguhan inilah yang menjadi salah satu alasan santri ikut ngaji berlama-lama. Bukan karena semata-mata isi suguhannya, tapi keberkahan yang terkandung. Karena pemberian dari pengasuh diyakini sebagai berkah dari Allah Swt..

Intinya, memperingati isra’-mi’raj Nabi Muhammad Saw. bukan sesuatu yang terlarang. Bahkan dianjurkan. Entah didesain seperti apa, yang terpenting tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Wallahua’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here