Sampai Tahun 70-an, Pengurus Muhammadiyah Masih Kirim Doa ke Snouck Hurgronje

2
1323

BincangSyariah.Com – Di berbagai macam sumber sejarah, hampir seluruh sejarawan meyakini bahwa Christiaan Snouck Hurgronje (selanjut hanya disebut Snouck Hurgronje saja) pada akhir hayatnya berpindah kembali ke agama lama, yaitu kristen ketika kembali ke negeri Belanda di masa tuanya. Itu mengapa banyak tulisan-tulisan sejarah yang selalu menyebut kalau Snouck Hurgronje adalah “mata-mata” Islam. Ia hanya masuk islam agar memuluskan jalannya meneliti tentang Islam dan merekomendasikannya kepada Pemerintahan Hindia Belanda untuk menaklukkan masyarakat Indonesia di zaman kolonial.

Salah satu hasil nasihat Snouck adalah pandangannya bahwa ajaran agama Islam yang berkaitan dengan kesalihan personal tidak perlu dihambat, bahkan harus diberi jalan. Namun yang perlu dikendalikan bahkan diredam adalah kegiatan Islam yang mengarah kepada pada penggerakan masa dan politik sehingga memberontak kepada pemerintah.

Namun, akibat lamanya interaksinya dengan berbagai macam kelompok muslim, dari ulama sampai masyarakat, membuat sebagian kenalannya tetap menganggap Snouck sebagai orang Islam, dengan nama aslinya, Abdul Ghaffar. Kisah ini sepenuhnya saya kutip dari Natsuo Nakamura, dalam penelitian panjangnya tentang Muhammadiyah dan menjadi buku berjudul Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin: Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Sekitar 1910-2010.

Salah satu bagian kecil dari temuan penelitiannya (dilakukan di tempat berdirinya Muhammadiyah, Kotagede, Yogyakarta dari 1970-1972) adalah adanya kekerabatan antara pernikahan Snouck Hurgronje dengan keluarga pengurus Muhammadiyah di Kotagede (h. 194). Semua bermula dengan pernikahan Snouck (waktu masih bernama, Abdul Ghaffar) dengan Siti Sadijah, anak dari Muhammad Su’eb alias Kalipah Apo, wakil penghulu di Bandung (kemudian di Kotaraja, Aceh). Dari pernikahan ini, lahirlah Raden Yusuf, yang menjadi polisi di Bandung dan memiliki anak salah satunya adalah Eddy Yusuf (juara Thomas Cup tahun 1958). Raden Yusuf tidak pernah melihat ayahnya karena Snouck keburu dipanggil pulang ke Belanda dan Yusuf masih di dalam kandungan.

Baca Juga :  Tujuan Kairouan Dipilih sebagai Pusat Penyebaran Islam di Afrika Utara

Muhammad Su’eb, mertua Snouck/Abdul Ghaffar, masih bersaudara dengan Muhammad Rusdi yang menikah dengan Hj. Fatimah/Patmah, putri dari Hasan Mustapa, ulama besar Garut yang juga seorang pujangga, dan sering surat menyurat dengan Snouck bahkan ketika sudah kembali ke Belanda. Dari pernikahan Rusdi dan Hj. Fatimah, lahirlah Ainul Hayat, perempuan yang menikah dengan H. Zubair Muchsin, pengurus Muhammadiyah di Kotagede di Yogyakarta. H. Zubair Muchsin masih sepupu dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakkir (salah satu petinggi Muhammadiyah di pertengahan tahun 70-an) Prof. H.M. Rasjidi (Mantan Menteri Agama dan Guru Besar IAIN Jakarta); dan Prof. Dr. Mukti Ali (Menteri Agama di awal tahun 70-an dan Mantan Rektor IAIN Jogjakarta) masih satu keluarga besar pendiri Muhammadiyah di Kotagede, Yogyakarta.

Yang menurut saya menarik, dalam satu sesi, Mitsuo Nakamura masih melihat ada satu acara keagamaan Prof. Kahar Mudzakkir masih mengirimkan doa kepada nama-nama keluarga besar, diantara yang disebut adalah Snouck Hurgronje. Abdul Charris Zubair, anak H. Zubair Muchsin (diantara narasumber utama Nakamura), terhitung masih keponakan jauh dari Eddy Yusuf.

Saya tidak ingin memperdebatkan, apalagi menuduh keliru, tapi data ini cukup menarik karena di masa penelitian Nakamura, sebagian keluarga Muhammadiyah yang ternyata masih terhitung kerabat dengan Snouck, masih menganggap Snouck sebagai muslim pada umumnya.

2 KOMENTAR

  1. Apakah tidak boleh men-doa kan saudara yg non muslim? Saya punya keluarga yg non muslim. Juga banyak sahabat karib saya yg non muslim. Selama ini kami bergaul dgn baik, dan tdk pernah ada masalah. Apakah tdk boleh kalau kami saling mendoa-kan.??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here