Sambut Hari Pahlawan, Memaknai Ulang Jihad dalam Sejarah Perjuangan Kelompok Santri

0
718

BincangSyariah.Com – Bulan November bagi masyarakat Surabaya khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya merupakan bulan yang bersejarah. Di dalam bulan ini, bangsa Indonesia memperingati hari yang kita sebut sebagai hari pahlawan. Tepat pada tanggal 10 November seluruh masyarakat Indonesia menundukan kepala mendoakan perjuangan pahlawan yang telah berpulang.

Namun bukan hanya doa yang semestinya dilangitkan. Mengambil pelajaran berharga dari mereka yang mewariskan sejarah lebih membahagiakan bagi mereka di alam sana. Sebagaimana diketahui, meletusnya peristiwa 10 November 1945 tidak bisa dilepaskan dari fatwa tentang resolusi jihad yang dikumandangkan oleh Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari. Sebuah respon dari seorang guru para santri yang menyadari betapa realitas penindasan yang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam terjadi di negerinya.

Oleh karenanya, memperingati hari pahlawan sama halnya mengenang dan menghidupkan kembali makna jihad yang benar sesuai yang dimaksudkan dalam perjuangan komunitas santri atas negerinya. Indonesia sebagai negeri dengan penduduk Islam terbesar di dunia tentu tidak sebuah kebetulan dan tiba-tiba. Ada proses panjang perjalanan sejarah islamisasi di Nusantara. Sejak awal, Islam hadir di Indonesia melalui tangan para sufi yang suci dari pertumpahan darah.

Mereka, yakni Walisongo, merupakan generasi awal yang menjadi representasi cikal bakal komunitas santri. Menurut Abdurrahman Mas’ud (2004: 49) spiritual father Walisongo yaitu Maulana Malik Ibrahim merupakan gurunya guru masyarakat santri. Mereka ini ynag kemudian menancapkan sendi bangunan Islam awal dalam bentuk Islam yang berkebudayaan. Islam yang akomodatif terhadap budaya bukan menegasikannya.

Akar historis ini menunjukan bahwa Islam sejak  awal tidak memiliki budaya kekerasan. Para wali yang mengajarkan agama Islam di Nusantara selalu menebar spirit perdamaian dan bersahabat dengan “yang lain”. Penjagaan terhadap Islam ini dilanjutkan oleh mereka para ulama pesantren. Lantas kemudian datang persoalan tentang seruan jihad terhadap pemerintah kolonial yang kafir. Seruan ini melegitimasi bahwa jihad terhadap kafir menemukan referensinya dalam sejarah Indonesia.

Baca Juga :  Tiga Katagori Penuntut Ilmu Menurut Imam Ghazali

Narasi seperti itu seakan-akan ingin menyimpulkan bahwa Islam harus melakukan jihad terhadap orang kafir. Menghalalkan perang melawan mereka. Padahal, para santri dan kiai tidak memerangi pemerintah Belanda karena kekafirannya. Maksudnya, faktor utama yang memicu perlawanan mereka bukanlah faktor sentimen agama.

Sentimen agama mungkin digunakan sebagai pendorong dan pemicu perlawanan. Akan tetapi lebih sebatas sebagai pemantik semangat umat Islam. Gerakan perlawanan komunitas santri ialah perlawanan kepada kezaliman, penindasan dan ketidakadilan. Orang-orang seperti pangeran Diponegoro yang dibantu kiai Maja, Sentot Ali Basa, dan jaringan kiai pesantren di Jawa bergerak melawan pemerintah kolonial dikarenakan kesewenang-wenangan mereka.

Perlawanan pangeran Diponegoro yang dikenal sebagai Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) merupakan perlawanan terhebat dan terbesar masyarakat Jawa kepada pemerintah kolonial. Kondisi sosial-ekonomi masyarakat Jawa saat itu sedang sangat terpuruk dengan berbagai sistem pajak yang memberatkan. Selain itu, meletusnya perang Jawa juga disebabkan oleh penyerobotan tanah milik pangeran Diponegoro dan makam keramat untuk dijadikan jalan (Sartono. 1993, 380-381).

Contoh lain misalnya pendirian pesantren Tebuireng yang berdekatan dengan pabrik Gula Cukir yang didirikan Belanda. KH Hasyim Asy’ari tentu memiliki kesadaran politis bagaimana pabrik gula tersebut adalah simbol industrialisasi dan hegemoni Belanda. Dengan demikian berdirinya pesantren Tebuireng vis a vis  pabrik gula merupakan upaya KH Hasyim Asy’ari secara simbolis menghadapi hegemoni kolonial Belanda.

Hal ini dapat dilihat dalam perkembangannya dapat dilihat dari sikap KH Hasyim Asy’ari yang otonom dan non kooperatif terhadap mereka. Hingga puncaknya saat terbitnya resolusi Jihad NU di tanggal 22 Oktober 1945 yang menemukan puncaknya pada tanggal 10 November 1945. Dengan demikian, jihad menurut para kiai dan santri sebagaimana terekam dalam sejarah bukanlah perang melawan “yang lain”. Karena akar historis keislaman di Indonesia tidak membawa kebencian terhadap “yang lain”.

Baca Juga :  Zakat Kepada Orang Kekurangan Biaya Nikah

Perang mereka ialah “perang suci” melawan penindasan terhadap kaum kecil. Perang mereka ialah perang terhadap pelemahan secara ekonomi-sosial dan ketidakadilan yang dialami umat. Itulah  faktor utama yang melahirkan jihad. Para kiai dan santri didorong oleh prinsip menegakkan keadilan dalam Islam. Mari kita renungkan kembali. Sudah tidak saatnya umat Islam, terutama santri, menempatkan jihad sebagai perang atau menebar kebencian terhadap “yang lain”.

Jihad yang diserukan oleh ulama sekaliber Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari yang mencapai puncaknya di hari yang kita kenal dengan hari pahlawan ialah jihad melawan penjajahan. Sehingga kurang tepat kalau kita hanya sibuk – merasa – berjihad dengan berseteru di antara dan internal umat beragama. Sudah saatnya kita bersama-sama berjihad melawan penjajahan dalam bentuk korupsi, penghambat kebebasan dalam berdemokrasi, penjarahan sumber daya alam, pelanggaran HAM dan kesewenang-wenangan lainnya.

Wallahu A’lam bis Showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here