Salman Al Farisi; Sahabat Nabi yang Ikhlas Saat Calonnya Dipinang Sahabat Sendiri

1
1217

BincangSyariah.Com – Selain membangun masjid, langkah awal yang dilakukan Nabi setelah hijrah ke Madinah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshar. Hal ini dilakukan agar kaum Muhajirin tidak merasa asing. Sebab tidak sedikit dari mereka berhijrah meninggalkan harta kekayaan bahkan keluarganya. Sehingga dengan adanya jalinan antara Muhajirin dengan Anshar, keduanya dapat saling tolong menolong baik itu dalam hal ekonomi maupun sosial. Setiap satu orang dari Muhajirin  dipasangkan dengan satu orang dari Anshar.  Saat itu nama Abu Darda disebut dan dipersaudarakan dengan Salman Al Farisi. (Baca: Doa Salman Al-Farisi Ketika Kaget Bangun dari Tidur Malam)

Dalam Usdul Ghabah, sebenarnya Salman Al Farisi bukanlah berasal dari kalangan Muhajirin Makkah maupun Anshar Madinah. Beliau adalah pemuda asal Ramhormoz atau Isfahan Persia yang telah mengembara demi mencari kebenaran tentang Tuhan. Ayahnya seorang penganut agama Majusi. Karena merasa keyakinan tersebut tidak selaras dengan hatinya, Salman bepergian menemui banyak pemuka agama termasuk Nasrani. Setiap kali gurunya meninggal beliau diminta berguru lagi kepada orang lain. Sampai pada akhirnya, terdengarlah ada seorang Nabi yang diutus di tanah Arab. Bersama sebuah kafilah dagang beliau dibawa ke Madinah, diperjualbelikan sebagai budak. Kemudian dibeli oleh tokoh Yahudi Madinah.

Setelah bertemu Rasul, beliau menemukan apa yang selama ini beliau cari. Salman pun megucap syahadat. Rasulullah bersama para Sahabat turut membantu menanam pohon kurma untuk membebaskan Salman dari status budak. Setelah bebas, Rasulullah mempersaudarakan Salman dengan Abu Darda. Seiring berjalannya waktu, ikatan kedua ahli ibadah ini bertambah begitu dekat. Saking dekatnya, suatu hari keduanya tidak mau makan jika salah satu diantaranya tidak makan.

Sebagai seorang pemuda yang telah cukup umur, keduanya tentu ingin melaksanakan sunah Rasulullah yakni menikah. Dikisahkan dari kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqat Al Ashfiya,  pernah suatu hari Salman menaruh hati kepada seorang wanita dari Bani Laits. Beliau telah menguatkan tekad dan siap untuk meminangnya. Di sisi lain, Salman sadar betul bahwa dirinya tidak lebih dari orang asing yang singgah di Madinah. Sehingga untuk mengutarakan niatannya, perlu seseorang pribumi yang sekiranya sudah mengenal budaya Arab maupun Madinah. Beruntung, Salman bersahabat dekat dengan Abu Darda sehingga ia bisa dengan mudah meminta bantuannya. Abu Darda sumringah mengetahui karibnya telah menemukan tambatan hatinya. Dengan senang hati, Abu Darda bersedia membantu Salman. Tidak lama berselang Abu Darda bertolak menuju kediaman keluarga Bani Laits.

Baca Juga :  Sultan Yusuf bin Abdul Mu'min: Raja Muda Dinasti Muwahhidun yang Cerdas

Keluarga pihak perempuan menyambut baik kehadiran Abu Darda. Lalu Abu Darda menyampaikn maksud kedatangannya yakni mewakili sahabatnya yang hendak mengkhitbah salah seorang perempuan di keluarga tersebut. Beliau menjelaskan keutamaan, suri taulaudan serta keislaman Salman Al Farisi. Setelah memahami penjelasan serta tujuan mulia pemuda ini, pihak keluarga tersebut memberikan jawaban yang begitu mengejutkan, “Untuk Salman, kami tidak akan menikahkan putri kami dengannya. Akan tetapi kami akan menikahkannya denganmu”.

Setelah itu, Abu Darda pamit. Beliau segera menemui Salman, masih dengan perasaan canggung. “Ada sesuatu yang ingin aku utarakan soal pertemuan tadi. Tapi aku malu terhadap apa yang akan aku sampaikan ini”, ucap Abu Darda membuka percakapan. “Ada kabar apa wahai sahabatku ?”, jawab Salman. Lalu Abu Darda menjelaskan semuanya termasuk keluarga mempelai wanita yang menghendaki pernikahan tapi bukan dengan Salman melainkan dengan dirinya. Dan Abu Darda pun telah menerima tawaran tersebut. Mendengar kisah sahabatnya, alih – alih kecewa, cemburu atau marah Salman justru bersikap sebaliknya. Beliau senang dan bersyukur atas anugrah yang telah diberikan Allah Swt kepada sahabatnya. Beliau pun berucap “Akulah yang seharusnya merasa lebih malu. Aku hendak meminangnya, padahal Allah Swt telah menakdirkan wanita tersebut untukmu”.

Dari buku Hayatu Salman karya Mahmud Syalabi, keduanya tetap bersahabat meski tidak lagi berada dalam satu atap. Keduanya berpisah mengingat perbedaan tugas yang diemban serta terus meluasnya wilayah muslim. Abu Darda menetap di Syam sementara Salman Al Farisi tinggal di Irak. Kendati jarak memisahkan keduanya namun silaturahmi tetap terjalin. Keduanya kerap kali berkirim surat untuk sekedar berbagi cerita dan juga saling bertukar pikiran.

Baca Juga :  Kisah Sahabat Nabi Salman Al-Farisi yang Pernah Patah Hati

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here