Saleh Ritual dan Saleh Sosial Menurut Gus Mus

0
19

BincangSyariah.Com – Siapa tak kenal Gus Mus? Kiai sekaligus penyair, penulis, juga pelukis ini telah menerbitkan puluhan buku. Salah satu esainya dalam buku Pesan Islam Sehari-hari: Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (1997) berjudul Kesalehan Total yang bertemakan saleh ritual dan saleh sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertemu dengan orang-orang dengan berbagai macam karakter atau kepribadian.

Tak jarang, kita menemukan orang yang gemar beribadah di masjid namun tak pandai bergaul dan tak gemar menolong orang lain.

Ada pula orang yang pandai bergaul dan bermanfaat untuk lingkungannya, namun sangat jarang melaksanakan ibadah seperti shalat dan puasa.

Saleh ritual menurut Gus Mus adalah keadaan di mana kita menyembah dan mengabdi kepada Allah Swt dalam sembahyang kita, dalam puasa kita, dalam zakat kita, dalam haji kita, dalam pergaulan rumah tangga dengan anak-istri kita, dalam pergaulan kemasyarakatan dengan tetangga dan sesama, pendek kata dalam segala gerak-langkah hidup kita.

Namun, kita sering membatasi penyembahan dan pengabdian dalam ritus-ritus khusus seperti itu, bahkan dengan itu kita masih pula mendangkalkannya dalam pengertian fiqih yang lahiriah.

Gerak-laku kita di dalamnya sering kali hanya sekadar gerak-laku rutin yang kosong makna. (Baca: Gus Mus: Jangan Pernah Berhenti Belajar!)

Mengapa saleh ritual di sini menjadi kosong? Sebab, kesalehan tersebut tidak diimbangi oleh kesalehan lainnya yakni saleh sosial.

Dari sinilah ungkapan dikotomis yang sungguh tidak menguntungkan bagi kehidupan beragama di kalangan kaum Muslim muncul.

Ungkapan tentang adanya kesalehan ritual di satu pihak dan kesalehan sosial di pihak yang lain.

Padahal, kesalehan dalam Islam hanya satu, yaitu kesalehan muttaqi (hamba yang bertakwa), atau dengan istilah lain, mukmin yang beramal saleh. Kesalehan yang mencakup sekaligus ritual dan sosial.

Banyak orang mendikotomikan tentang kesalehan. Dikotomi tersebut adalah fenomena kehidupan keberagaman kaum muslim sendiri. Banyak sekali orang yang tekun beribadah namun acuh tak acuh dengan kepentingan masyarakat umum.

Padahal, kepentingan itu juga akan berdampak pada kehidupannya. Seolah-olah Islam hanya mengajarkan ibadah kepada Allah Swt dan tidak mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama manusia.

Mirisnya, ada pula kebalikan dari kesalehan ritual yakni kesalehan sosial di mana banyak juga orang yang sangat getol menangani masalah kemanusiaan namun lupa dengan ibadah pribadinya kepada Allah Swt.

Inilah yang kemudian disebut sebagai kesalehan sosial. Kesalehan yang hanya menomorsatukan hablum minannas, bukan hablum minallah.

Dikotomi tentang saleh ritual dan saleh sosial seharusnya tidak ada dan bisa dikembangkan menjadi satu konsep yang kemudian disebut sebagai kesalehan total oleh Gus Mus.

Segala perdebatan yang terjadi ada jalan tengahnya, ada kesimpulannya. Orang bisa beribadah kepada Allah Swt dengan rajin sembari tetap memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidupnya, membela mereka yang lemah, membantu mereka yang tak mampu dan lain sebagainya.

Dalam tulisannya, Gus Mus pun menekankan ayat “Udkhuluu fis silmi kaaffah” yang berarti “Masuklah ke dalam Islam secara total.”

Artinya, hablum minallah dan hablum minannas mesti dilakukan dengan seimbang. Kalau bisa tetap berbuat baik pada sesama, bermanfaat untuk orang lain dan saling tolong dengan tetap rajin beribadah, kenapa tidak?

Kita bisa melaksanakan konsep Gus Mus yang menyatukan keduanya dalam kehidupan sehari-hari.

Membuktikan bahwa Islam bukan hanya tentang hubungan hamba dengan TuhanNya, tapi juga hubungan dengan sesama manusia.

Mari menjadi muslim yang bertaqwa dan bermanfaat bagi sekitar. Menjadi muslim yang bisa menyatukan saleh ritual dan saleh sosial, mencapai kesalehan total.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here