Jejak Salafus Shalih yang Menggetarkan Hati

0
1061

BincangSyariah.Com – Dalam Mu’jam Maqayisil Lughah, rangkaian huruf sin, lam, dan fa (salaf) itu menunjukkan makna terdahulu. Termasuk dalam konteks salafus shalih ini adalah orang-orang yang terdahulu. Adapun yang dimaksud dengan salafush shalih, dalam istilah ulama adalah orang-orang terdahulu yang shalih, dari generasi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dari generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama setelah mereka.

Generasi salafus shalih merupakan generasi yang terbaik umat Islam. Sebab itulah kita dianjurkan untuk mengikuti mereka dalam beragama. Salah satu jejak salafus shalih yang menggetarkan hati adalah mereka yang selalu menomersatukan ketakwaan, menjauhi hal syubhat  dan syahwat, serta mereka sering menangisi diri sendiri yang belum tentu mendapatkan ridha Allah. Syekh Jamaluddin Al Qasimi menuliskan dalam kitabnya Mauidzatul Mu’minin:

كان السلف يبالغون في التقوى والحدر من الشبهات والشهوات ويبكون على أنفسهم في الخلوات

Para salafus saleh selalu mementingkan ketakwaan, menghindari hal syubhaat dan syahwat, meski demikian tak jarang saat sendiri mereka menangisi diri mereka yang belum tentu diridhai Allah

Jika mereka saja yang selalu dalam jalan ketakwaan dan jauh dari perkara syubhat dan syahwat masih merasa ridha Allah tak berpihak pada mereka, lantas bagaimana kabar kita yang hanya sedikit berbaur dalam ketakwaan dan masih sering terperangkap syubhat dan syahwat?

Kita yang hanya menangis jika tak kuat menghadapi masalah, kita yang masih berat melakukan kewajiban, kita yang masih memanjakan syahwat, pernahkah kita menangisi diri kita yang belum tentu diridhai Allah? Rasanya begitu naif jika kita yang masih berlumuran dosa merasa yakin jika Allah ridha dengan diri kita.

Seorang muslin berusaha sekuat tenaga mencari ridha Allah dalam setiap gerak-gerik hidupnya, dalam setiap aktivitasnya, karena tujuan hidupnya memang akan kembali kepada Allah. Sebab apabila Allah ridha kepada kita, maka Allah pasti berikan kita berbagai macam inayah, taufik, rahmat dan kasih sayangNya. Sebaliknya apabila Allah murka kepada kita, maka Allah pasti halangi dirinya dari rahmat dan hidayah-Nya.

Baca Juga :  Geneologi Teori-teori Maqashid Syariah Setelah Masa Sahabat

Kitabisa  melihat adab yang tinggi dari pemilik adab yang agung yaitu Rasulullah, dimana beliau beradab –dalam berucap- kepada Robnya tatkala bersedih karena terus mengharap keridhoan-Nya tatkala Ibrahim putra beliau wafat. Beliau berkata :

تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا وإِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ

Mata menangis, hati bersedih, dan kami tidaklah mengucapkan kecuali yang mendatangkan keridhoan Rob kami, dan sungguh kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim” (HR Muslim)

Beberapa penjelasan di atas cukup menggoncang rohani kita. Semoga semakin semangat tak putus asa dalam terus mengharap dan mencari ridha Allah. Rasulullah, salafus shalih, dan juga kita semua adalah ciptaan-Nya yang berhak mendapatkan ridha-Nya. maka dari itu yuk berburu ridha dengan cara terbaik menurut kita masing-masing.

Salafus shalih yang selalu istiqamah dalam ketakwaan masih saja menangis memikirkan dirinya yang belum tentu diridhai Allah, kita seharusnya lebih semangat lagi. Sebab kita masih belum istiqamah dalam menjalankan kewajiabn kita dari-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here