Said bin Zaid: Sahabat yang Mendapat Berkah Doa Orang Tua  

0
2674

BincangSyariah.Com – Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Thabaqat al-Kubra mencatat tentang seorang figur bernama Zaid bin ‘Amr yang di hidup di zaman Jahiliyyah. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Quraisy Mekah seperti biasanya, Zaid bin ‘Amr tidak pernah suka dengan patung dan berhala-berhala apalagi berkorban demi berhala dan menyembahnya.

Padahal di zaman itu, tradisi penyembahan terhadap patung telah mengakar kuat. Masjid al-Haram dipenuhi dengan patung-patung, Setiap suku di seantero Jazirah Arab memiliki patung untuk disembah. Musim haji merupakan momen untuk Kakbah dipenuhi orang-orang yang menyembah patung. Bahkan di dalam Kakbah pun terdapat patung.

Karena cukup stres dengan apa yang sehari-hari dilihat, Zaid bin Amr memutuskan untuk mengembara ke Negeri Syam. Di Negeri ini Zaid bin Amr berguru kepada rahib Yahudi dan pendeta Nasrani tentang ilmu dan agama. Tetapi menurut catatan Ibnu Sa’ad, agama-agama ini belum memuaskan rasa dahaganya.

Atas kegundahannya ini, seorang laki-laki beragama Nasrani memberi komentar kepada Zaid, “engkau sedang bergumul dengan agama Ibrahim.” Zaid bertanya, “Apa itu agama Ibrahim?” Lelaki ini pun menjawab, “Agama Ibrahim adalah agama yang lurus (hanif), hanya menyembah Allah Swt dan tidak menyekutukan-Nya.” Zaid berkata, “Agama inilah yang aku pahami, dan aku memegang teguhnya.”

‘Amir bin Rabi’ah, salah satu sahabat Nabi yang pernah bertemu dengan Zaid bersaksi bahwa Zaid pernah berkata,“Wahai ‘Amir, aku mengingkari sesembahan kaumku dan mengikuti agama Ibrahim. Aku menunggu Nabi dari keturunan Ismail as, ia akan diutus. Semoga aku dapat menjumpainya. Aku mengimani, membenarkan, dan bersaksi bahwa ia adalah Nabi. Jika engkau sempat bertemu dengannya, sampaikan salamku padanya.”

Sebelum menghembuskan napas terakhir Zaid bin Amr berdoa, “Ya Tuhanku, jika Engkau mengharamkanku dari agama ini, maka janganlah anakku, Said, diharamkan pula darinya.”

Baca Juga :  Jejak Dunia Islam: Berburu Pahala Ramadan di Negeri Belanda

Doa Ayah yang Terkabul

Apa yang diharapkan Zaid ternyata dikabulkan Allah Swt. Anaknya bernama Said bin Zaid bahkan menjadi satu di antara sepuluh sahabat utama yang dijamin masuk surga. Dalam beberapa kitab hadis seperti Musnad Imam Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sahih Ibnu Hibban dan al-Mu’jam al-Kabir al-Thabrani tertulis bahwa Rasulullah saw bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Usman di surga, Ali di Surga, Zubair di Surga, Thalhah (bin Ubaidillah) di surga, (Abdurrahman) Ibnu Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di Surga, Said bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah di surga.”

Lalu siapakah sebenarnya Said bin Zaid yang telah mendapatkan keberkahan dari apa yang telah diperbuat ayahnya? Mungkin sebagian kita sudah familiar dengan nama Umar bin Khattab. Nah, Said bin Zaid adalah korban kekerasan Umar ketika ia belum masuk Islam.

Dikisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab telah menghunus pedang untuk mengancam Nabi Muhammmad saw, datang seseorang yang mengadukan bahwa adiknya, Fatimah binti al-Khattab telah masuk Islam. Semakin murkalah Umar. Ia langsung berbelok arah untuk menemui adiknya. Sebelum masuk rumah, Umar bin Khattab mendengar samar-samar bacaan adik dan suaminya membaca al-Quran surat Thaha. Said bin Zaid inilah suami dari adik Fatimah bin Khattab tersebut.

Nasab dan keluarga

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala dijelaskan bahwa Said bin Zaid bin Amr bin Nufail al-‘Adawi berasal dari kabilah al-‘Adawi. Ibunya bernama Fatimah binti Ba’jah bin Umayyan bin Khuwailid dari Khuza’ah. Selain menikah dengan Fatimah binti al-Khattab, Ibnu Sa’ad menerangkan lewat kitabnya al-Thabaqat al-Kubra bahwa Said juga pernah menikah dengan Ramlah Ummu Jamil, Julaisah binti Suwaid, dan Umamah binti al-Dujaid. Dari ketiganya Said memiliki anak tetapi meninggal sebelum mencapai usia dewasa. Dengan Fatimah Said punya anak bernama al-A’war, sehingga ia memiliki julukan Abu al-A’war.

Baca Juga :  Hampir Dipukuli karena Dituduh Mencuri, Sahabat Nabi Ini Selamat karena Shalawat

Kehidupannya bersama Rasulullah Saw

Ketika Nabi Muhammad saw memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Yatsrib, Said bin Zaid termasuk sahabat yang bersegera untuk pindah. Setelah sampai di Madinah, Rasul mempersaudarakannya dengan Rafi’ bin Malik al-Zuraqi.

Lalu pada tahun ke-2 H sebelum terjadi perang Badar, Said bin Zaid diutus Rasulullah saw untuk memantau kabilah Quraisy yang berpulang dari Syam. Ia adalah satu di antara sembilan orang yang diutus Nabi kesana di bawah pimpinan Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah. Peristiwa ini telah dituliskan secara terperinci pada tulisan sebelumnya tentang kisah Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah. Pada intinya, Said dan kawan-kawannya ini tidak bisa mengikuti Perang Badar. Hal ini dikarenakan sesampainya mereka di Madinah untuk memberitakan info yang didapat, di saat yang sama Rasulullah saw tengah berperang melawan pasukan Quraisy.

Rombongan ini segera menyusul ke Badar, namun baru sampai di wilayah bernama Turban, Rasul bersama pasukan tengah menuju jalan pulang. Meski demikian, dalam catatan Thabaqat al-Kubra pasukan ini tetap mendapat bagian ghanimah sebagaimana pasukan yang ikut berperang.

Pasca ketidakikutsertaannya dalam perang Badar, Said bin Zaid merasa menyesal. Ia menebusnya dengan terus mengikuti peperangan berikutnya. Said tidak pernah lagi absen dalam perang bersama Rasulullah saw, mulai dari perang Uhud, Khandaq, dan lainnya.

Wafatnya Said bin Zaid

Dari beberapa kitab termasuk Thabaqat al-Kubra, Siyar A’lam al-Nubala, dan al-Tarikh al-Kabir li al-Bukhari, tertulis keterangan bahwa Said bin Zaid wafat di ‘Aqiq, sebuah wilayah di daerah Kufah pada tahun 51 H di usianya yang ke 75 tahun dan di masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Ia dimandikan, dikafani, dan dishalatkan oleh para sahabat utama termasuk Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar. Jenazahnya dibawa ke Madinah dan dimakamkan disana. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here