Sa’id bin Musayyib: Ahli Ibadah yang Tidak Gelap Harta dan Jabatan

0
39

BincangSyariah.Com – Dua tahun setelah Umar bin Khattab didaulat sebagai khalifah tepatnya pada tahun 15 H, di Madinah lahir seorang anak dari keluarga cukup ternama. Beliau adalah Abu Muhammad Sa’id bin Musayyib, seorang pembesar tabiin yang kelak dikenal dengan ketekunannya dalam beribadah.

Sa’id Musayyib lahir dari keluarga Bani Makhzum, masih keturunan suku Quraisy Makkah. Oleh karenanya beliau begitu dihormati dan dielu-elukan oleh masyarakat Arab. (Baca: Wahb bin Munabbih; Tabiin Keturunan Persia yang Pandai Bahasa Yunani)

Sejak kecil, semangatnya untuk menggali ajaran agama Islam telah membara. Hal ini diwariskan oleh ayah dan kakeknya. Keduanya merupakan Sahabat Rasulullah yang mana di masa sebelumnya ikut berjuang menyiarkan dakwah Islam.

Lingkungan Madinah sebagai ibu kota umat Islam kala itu sekaligus tempat di turunkannya wahyu cukup menguntungkan Sa’id. Beliau mendapat pendidikan yang layak dan langsung dibimbing oleh para Sahabat.

Namun di sisi lain, beliau pernah hidup dalam situasi politik yang cukup menegangkan. Ya, beliau pernah menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti pembunuhan Umar bin Khattab, Usman bin Affan serta perseteruan antara umat Islam sendiri di masa Sahabat Ali.

Setelah beranjak dewasa, kematangan serta keluasan ilmu pengetahuan Sa’id mulai tampak ke permukaan. Kelompok-kelompok pengajian di masjid rutin digelar dan beliau lah yang bertugas sebagai guru pengajar di sana.

Berkat kedalaman pemahaman serta ketajaman berfikirnya, beliau masuk dalam kategori tujuh fuqaha Madinah yang mana fatwa – fatwanya telah diakui oleh para ulama di masanya. Mereka pun sepakat yang paling utama dari ketujuh tabiin tersebut adalah Sa’id bin Musayyab.

Tidak hanya dikagumi karena ilmunya, beliau juga merupakan ahli ibadah. Syekh Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa Sa’id bin Musayyab tidak pernah meninggalkan salat jamaah dan selalu berada di shaf awal selama 50 tahun. Beliau juga istikamah sholat di satu tempat tertentu di dalam masjid.

Baca Juga :  Kesultanan Demak: Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa

Suatu riwayat menjelaskan bahwa selama tiga puluh tahun beliau selalu ada di dalam masjid saat adzan dikumandangkan. Selain shalat jama’ah, beliau juga sangat menjaga sholat tahajud, memperbanyak membaca Al Qur’an, berpuasa serta berhaji. Dalam kitab Hulyat Aulia dikisahkan beliau telah berhaji sebanyak 40 kali.

Beliau begitu paham mengenai hukum – hukum syariat serta begitu teliti memilih pasangan untuk putrinya. Ibnu Katsir menceritakan suatu ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan mendatangi Sa’id bin Musayyib. Sang Khalifah berniat menjodohkan putri beliau dengan putranya Walid.

Namun alangkah kaget dan kesalnya sang Khalifah, ternyata permintaannya itu ditolak mentah – mentah. Alasannya, beliau hawatir jika putrinya terbutakan oleh kehidupan keluarga kerajaan yang tentunya bergelimang harta kekayaan.

Naas, akibat penolakannya tersebut beliau mendapat hukuman. Namun, itu tidak seberapa.  Sebab masa depan putrinya lah yang lebih penting.

Beliau ingin memberikan calon yang terbaik untuk putrinya. Patokannya bukan seseorang yang memiliki segudang materi, namun dia yang benar – benar mengerti hukum Allah Swt sehingga kelak putrinya dapat dituntun dalam menggapai ridha-Nya.

Kemudian Sa’id bertemu dengan seorang pria miskin. Sa’id bertanya : “Dari mana saja kamu ?”. Pria itu menjawab : “Ada anggota keluargaku yang meninggal dan akulah yang mengurus jenazahnya”. Kenapa kamu tidak memberitahuku setidaknya aku bisa membantumu ?” timpal Sa’id.

Lalu Sa’id kembali bertanya, “Apakah kamu hendak menikahi seorang wanita ?”. Pria itu menjawab dengan pasrah, “Semoga Allah senantiasa merahmatimu. Siapa yang mau menikah denganku? Sementara aku hanya memiliki dua atau tiga dirham saja”. Tiba – tiba Sa’id berkata “Putriku”.

Sontak pria itu amat terkejut “Apakah anda benar – benar akan malakukannya?”. “Ya, tentu saja” ucap Sa’id. Tidak lama berselang, ijab qabul pun dilaksanakan dengan mahar seadanya yakni sekitar dua atau tiga dirham saja.

Baca Juga :  Abdullah bin Rawahah; Petugas Pajak Rasulullah yang Enggan Terima Suap

Lantas siapakah pria yang beruntung itu? Dia bernama Kutsayyir bin Abi Wada’ah. Ternyata dia adalah seorang penutut ilmu. Seorang yang begitu alim dan cerdas. Kendati tidak memiliki harta melimpah bahkan tergolong kurang mampu, namun pemahamannya tentang syariat Islam begitu mendalam.

Dia paham betul perihal pernikahan dan masalah – masalah rumah tangga. Hal ini lah yang mampu meyakinkan tokoh sekaliber Sa’id bin Musayyib bahwa Ibnu Abi Wada’ah lah sosok menantu yang beliau cari.

Sa’id bin Musayyib meninggal di Madinah di usia sekitar delapan puluh tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ pada tahun 94 H. Menurut keterangan ahli, tahun tersebut dinamai sanah al-fuqaha sebab di tahun itu banyak dari ulama besar Madinah meninggal dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here