Sahnun Abdussalam bin Sa’id at Tanukhi: Pengembang Mazhab Maliki di Afrika Utara

0
636

BincangSyariah.com – Di pertengahan abad 1 H, peradaban Islam di Afrika Utara semakin menguat. Keinginan masyarakat untuk memperdalam kajian agama Islam pun hari demi hari kian meningkat. Untuk menghilangkan rasa haus akan ilmu pengetahuan ini, para pemuda berkelana menuju Masyriq (wilayah timur, istilah untuk menyebut wilayah Islam pertama seperti Jazirah Arab, Syam, dan Mesir) yang pada saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam.

Tidak terkecuali Abdussalam bin Sa’id at Tanukhi, pemuda ini rela bepergian jauh untuk menimba ilmu. Abdussalam bin Sa’id at Tanukhi atau yang lazim dikenal dengan Imam Sahnun merupakan anak keturunan Syam yang lahir pada 160 H.

Sejak kecil ia telah diberi gelar Sahnun, sejenis burung pemangsa karena kejelian pandangan serta kecerdasannya. Ia menetap di Afrika Utara bersama ayahnya, yang merupakan tokoh agamis sekaligus tentara Muslim Syam.

Dibesarkan oleh para pemuka Mazhab Maliki

Saat Sahnun memulai perjalanan menuntut ilmunya, Mazhab Malik telah menyebar cukup luas di Afrika Utara berkat pengaruh kuat generasi awal murid – murid Imam Malik. Kondisi ini secara tidak langsung membuat  pendidikan Sahnun  kental akan nuansa Maliki.

Di negaranya ia cukup beruntung karena mendapat didikan langsung dari ulama – ulama tersohor seperti Abu Kharijah, Buhlul, Ali bin Ziyad, Ibnu Abi Hassan, Abu Mas’ud bin Masyrasy, Ibnu Ghanim dan Muawiyah ash Shamadihi.

Melihat kemampuan anak muridnya, Imam Ali bin Ziyad sebagai guru pengajar kitab al-Muwattha’ karya Imam Sahnun, merekomendasikannya untuk memperdalam keilmuannya dengan berguru langsung kepada Imam Malik.

Sayangnya, Sahnun tidak sempat bertemu Imam Malik karena sudah wafat. Untungnya, ia masih dapat berguru kepada ulama pembesar mazhab Maliki yang tersebar di berbagai kota seperti Madinah, Mekah, Mesir dan Syam.

Kecerdasan Sahnun telah banyak diakui para masyayikhnya. Bahkan, saat menuntut ilmu di Mesir, sang guru Ibnu Qasim memintanya untuk tetap tinggal di Mesir. Namun, ia lebih memilih pulang ke tanah airnya, Kairouan (ibu kota Afrika Utara).

Sahnun kembali ke Kairouan tahun 191 H. Dengan segala keluhuran ilmunya, ia berhasil mematangkan posisi Mazhab Maliki di Afrika Utara, mengalahkan Mazhab al Auza’i yang sebelumnya mendominasi wilayah tersebut.

Baca Juga :  Biografi Imam Malik bin Anas (93-197 H/712 - 795 M): Alim dari Madinah yang Jadi Guru Anak-Anak Khalifah

Berjejaring dengan Penganut Mazhab Maliki di Afrika Utara

Kepulangan Sahnun ke Afrika Utara membawa dampat signifikan terhadap perkembangan fikih Maliki. Apalagi saat itu pengembangan ilmu pengetahuan sedang gencar dilakukan pemerintah.

Sejumlah ulama tersohor berada di Kairouan termasuk Asad bin Furat yang merupakan murid langsung Imam Malik. Ia menjadi ulama paling berpengaruh pada masanya. Karangannya yang berjudul Asadiyah berupa kumpulan fatwa – fatwa fikih telah banyak dijadikan rujukan para ulama.

Di sisi lain, karirnya hari demi hari kian melonjak. Bermula dari pengajar di masjid Kairouan kemudian naik tingkatan hingga masuk dalam majlis musyawarah. Majlis ini dihadiri oleh para ulama terkemuka. Meskipun termasuk dalam kalangan junior, Sahnun mampu bersaing dengan yang lainnya. Bahkan ia terlihat menonjol, pendapat – pendapat yang ia kemukakan mendapatkan apresiasi penuh dari kalangan ulama.

Namanya kian dekenal berkat keberhasilannya menghimpun fatwa – fatwa Imam Malik yang diriwayatkannya dari tokoh – tokoh besar Maliki dalam sebuah karya berjudul Mudawwanah al-Kubra’. Bisa dikatakan, Mudawwanah adalah versi penyempurnaan Asadiyah Imam Asad bin Furat.

Dengan bergabungnya Sahnun, kajian keilmuan di Kairouan semakin berkembang hingga menjadi pusat keilmuan Islam di Maghrib. Para pelajar dari berbagai wilayah Islam datang ke Kairouan untuk berguru kepada Imam Sahnun. Tidak terkecuali para penuntut ilmu dari Andalusia (Spanyol).

Para ahli berbeda pendapat mengenai jumlah total murid Sahnun, antara 400 atau 700 orang. Yang jelas, murid – murid Imam Sahnun ini tumbuh menjadi ulama berpengaruh di wilayahnya masing-masing. Tujuh pemuka ulama Maliki (Al Birah) pun tidak lain mengambil ilmu dari Sahnun.

Najmuddin Hantati dalam karyanya Mazhab Maliki Bil al-Gharb al-Islami mengatakan bahwa salah satu unsur paling penting menyebarluasnya Mazhab Maliki sehingga dianut mayoritas Muslim Afrika Utara adalah hasil kerja keras Imam Sahnun.

Pengaruhnya tidak hanya tersebar saat bertugas sebagai pengajar di masyarakat namun mampu memastikannya dengan pengaplikasian Mazhab Maliki di Afrika Utara saat ia menjabat sebagai seorang hakim pemerintah.

Diangkat Menjadi Hakim Pemerintah

Nama Sahnun pun terus mencuat dari mulut ke mulut hingga terdengar ke istana Aghlabiah. Dinasti yang memimpin Afrika Utara kala itu.

Baca Juga :  Mengenal Putra dan Putri Rasulullah

Sahnun memiliki ikatan cukup kuat dengan dinasti Aghlabiah. Hal ini disebabkan keberaniannya untuk menduduki posisi hakim di pemerintahan pusat.

Saat itu, situasi politik pemerintahan tidak begitu stabil. Kenyataannya hakim tidak memiliki hak penuh untuk memutuskan hukum karena adanya intervensi pejabat pemerintah. Sehingga cukup sulit untuk menjalankan tugas dengan adil dan jujur.

Itulah mengapa para ulama Maliki terkesan menghindar dari jabatan hakim pemerintah. Tanggung jawab yang diemban terlalu berat, karena ada potensi besar penyalahgunaan ajaran agama Islam yang sulit mereka hindari.

Oleh karena itu, mereka lebih memilih bergerilya di tengah  rumah – rumah masyarakat, menyebarkan ilmu pengetahuan, merespon pertanyaan – pertanyaan masyarakat mengenai sebuah hukum serta memberikan penjelasan utuh mengenai syariat Islam.

Sahnun diangkat menjadi hakim tahun 234 H dimasa Abu Abbas Muhamad bin Ibrahim saat berusia 74 tahun. Sebenarnya ia tidak ingin masuk ke ranah ini, persis seperti mayoritas ulama Maliki kala itu. Ia melakukannya tidak lain untuk berkhidmat terhadap ilmu dan menyebar luaskan ajaran Mazhab Maliki.

Tugasnya pun cukup sensitif, disetiap isu yang muncul ia harus mampu manjadi penengah antara pemerintah, masyarakat dan para ulama agar terhindar dari konflik horizontal. Untuk menjaga kredibilitasnya, Sahnun rela tidak mengambil gaji dari pekerjaannya sebagai hakim dan tidak menjalin hubungan spesial dengan para pejabat pemerintah.

Berprinsip Memegang Teguh Kebenaran

Dalam perjalannya menjadi hakim, Sahnun banyak mendapat ujian. Terutama saat adanya tekanan pejabat pemerintah untuk mempengaruhi keputusan hukumnya.  Seakan tidak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya, ia tetap menjalankan hukum sesuai prosedur dan tetap memagang teguh prinsip kebenaran meskipun harus berhadapan dengan para raja Aghlabiah sekalipun.

Peristiwa ini pernah terjadi saat Sahnun menangani kasus Mansur Tanbadzi dan perseteruan yang terjadi dengan Amir Muhammad bin Aghlab.

Sahnun kembali diuji saat isu doktrin Khalqul Qur’an (Al Qur’an itu makhluk) merebak hampir di seluruh wilayah Islam. Terlebih, marak terjadi pemaksaan untuk menerima teori ini khususnya bagi para hakim. Sahnun pun tidak terlepas dari situasi genting tersebut. Namun, ia tetap memegang teguh akidah yang ia yakini meskipun pada akhirnya ia dirugikan dalam peristiwa naas tersebut.

Baca Juga :  Abu Abdillah Al-Maziri; Imam Mujtahid Asal Pesisir Afrika Utara

Memajukan Sistem Kehakiman Afrika Utara

Dalam sejarah kehakiman Islam, Sahnun merupakan salah satu hakim terbaik yang pernah dimiliki umat Muslim. Hal tersebut tidak terlepas dari kedalaman ilmu pengetahuan serta keberanian dalam mengaplikasikannya.

Ditambah lagi pengalamannya sebagai mufti maupun pengajar agama sudah malang melintang di tengah – tengah masyarakat. Tidak hanya pandai dalam berteori, Sahnun juga pandai dalam beraksi.

Muhammad Zainahum Muhammad Azb dalam karyanya Al-Imam Sahnun mengatakan bahwa Sahnun tidak hanya berkontribusi terhadap geliat pergerakan ilmiah saja, namun ia juga mampu menyulap keadaan sistem kehakiman Afrika Utara dengan berbagai terobosan dan ide barunya.  Zainahum setidaknya mencatat ada lima terobosan penting yang pernah dilakukan Sahnun, berikut pemaparannya.

Pertama, pembentukan peraturan pasar. Peraturan pasar ini dibentuk agar proses jual beli masyarakat dapat berjalan dengan baik. Semua aspek jual beli termasuk barang yang akan dijual diatur dalam peraturan tersebut. Di masa sebelumnya, pemerintah tidak pernah memperhatikan hal ini.

Kedua, Sahnun menggagas dewan muhtasib (semacam dewan pengendalian harga/timbangan). Berkat keluasan pemahamannya ia ditunjuk sebagai muhtasib pertama di Afrika Utara.

Ketiga, memerangi ahli bid’ah. Sahnun cukup gesit dalam memerangi kelompok yang berpotensi meresahkan masyarakat ini. Bahkan, ia membubarkan kelompok tersebut saat tertangakap basah saat melakukan rapat di masjid – masjid. Termasuk saat menghadapi kaum Khawarij yang mencoba menyusupi masyarakat dengan pemikiran – pemikiran yang bertolak dengan ajaran esensial agama Islam khususnya ajaran Mazhab Maliki Sunni. Seperti yang diketahui, pada saat itu sekte Khawarij cukup berkembang pesat di salah satu wilayah di Afrika Utara.

Keempat, Sahnun tokoh pertama yang mengadakan imam di masjid Jami’, dimana sebelumnya posisi tersebut hanya di peruntukan untuk para petinggi pemerintahan.

Kelima, beliau merubah sistem penyimpanan dana serta inventaris kehakiman. Barang – barang inventaris ini disimpan di sekretariat yang amanah termasuk diamanahkan kepada orang – orang pedalaman, berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang menyimpannya di rumah para hakim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here