Sahabat yang Ingin Berjihad Tapi Rasulullah saw. Justru Melarang

0
37

BincangSyariah.Com – Berjihad dengan cara berperang itu tidak selamanya direstui Rasulullah bagi setiap sahabatnya. Terdapat beberapa sahabat Nabi yang ingin berjihad, tapi Rasulullah saw. justru melarang sahabatnya tersebut. Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (juz 8, hal 5849), jihad di masa Rasulullah merupakan fardu kifayah, tidak wajib bagi seluruh umat Muslim. Terkecuali memang bila musuh sudah menyerang ke teritori umat Muslim, jihad ini bisa berubah menjadi fardu ain.

Di antara sahabat Nabi yang ingin berjihad, tapi dilarang oleh Nabi adalah Jahimah bin al-Abbas bin Mirdas. Suat saat Jahimah ini datang meminta pendapat Nabi untuk ikut berjihad. “Apakah aku boleh ikut berjihad, Rasul?” “Kamu masih punya ibu atau tidak?” tanya Rasulullah menimpali. “Iya, saya masih punya ibu, Rasul,” jawab Jahimah. “Ya sudah, kalau begitu, kamu urus dan muliakan saja ibumu. Surga itu berada di bawa kedua telapak kakinya,” Rasulullah menganjurkan pada Jahimah.

Hadis tersebut terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, kitab Shahih Muslim karya Imam Muslim, Sunan Abi Daud karya Imam Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi karya Imam al-Tirmidzi, dan Sunan al-Nasa’i karya Imam al-Nasa’i (Umdatul Qari, juz 14, hal 251).

Menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (juz 6, hal 140), kewajiban jihad berbeda satu dengan yang lain. Bagi Jahimah, mengurusi ibunya itu lebih utama daripada jihad. Mengurusi orangtua itu termasuk fardu ain, sementara berjihad itu fardu kifayah. Fardu kifayah ini kewajibannya akan gugur bila sudah terwakili orang lain.

Menurut mayoritas ulama, jihad itu haram dilakukan bila kedua orangtua atau salah satunya itu tidak memberikan izin. (Fathul Bari, juz 6, hal 141). Bahkan menurut Imam al-Tsauri, sekalipun kedua orangtuanya itu non-Muslim (Umdatul Qari, juz 14, hal 250). Menurut ulama Syafiiyah, selain orangtua, kakek atau nenek pun kedudukannya sama dengan kedua orangtua. Artinya, bila kakek dan atau nenek melarang berjihad, itu berarti haram bagi kita untuk pergi jihad (Fathul Bari, juz 6, hal 141).

Terkait sosok sahabat Jahimah, para sejarawan tidak banyak yang mengupasnya secara mendalam. Imam Ibnu Majah, sebagaimana dikutip al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal fi Asma al-Rijal (juz 28, hal 163), mengatakan bahwa Jahimah itu orang yang dulu pada perang Hunain pernah mencela Nabi. Kemungkinan besar Jahimah pada perang Hunain yang terjadi 8 hijriah itu belum menjadi seorang Muslim. Akan tetapi, menurut Ibnu Sa’d, Jahimah merupakan orang yang masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi pada tahun 5 hijriah, tepatnya pada saat terjadi perang Khandaq. (al-Inabah ila Ma‘rifah al-Mukhtalaf fihim Minas Shahabah, juz 1, hal 132).

Selain Jahimah, ada juga sahabat Nabi yang ingin berjihad, tapi Rasulullah saw. justru melarangnya. Misalnya, sahabat Zaid bin Tsabit. Rasulullah melarang Zaid bin Tsabit yang ingin ikut serta dalam perang Badar. Ini karena usia Zaid bin Tsabit saat itu masih terlalu kecil, yaitu 11 tahun. (Baca: Zaid bin Tsabit: Sahabat yang Diminta Nabi Mempelajari Bahasa Ibrani dan Suryani)

Dari sini kita dapat memahami bahwa kewajiban jihad itu tidak mutlak untuk setiap orang Muslim. Selain itu, kepala negara yang berhak menentukan mana yang wajib ikut serta dalam berjihad, dan mana yang tidak boleh. Wallahu a’lam bis shawab.

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here