Sahabat Nabi yang Pernah Bertemu Dajjal

0
24

BincangSyariah.Com – Dalam kitab Shahih Muslim dalam Babu Qishshatil Jasasah ‘bab mengenai pengintai’, Imam Muslim menyebutkan satu hadis yang mengisahkan seorang sahabat Nabi yang pernah bertemu Dajjal dalam wujud asli. Ia adalah sahabat Tamim Al-Dari. Awalnya, ia beragama Nashrani namun kemudian berbaiat kepada Nabi Saw dan memeluk agama Islam.

Disebutkan bahwa setelah Nabi Saw menunaikan shalat, sambil tertawa beliau naik mimbar dan menahan sahabatnya agar tidak pergi. Lalu beliau berkata;

Demi Allah, sesungguhnya aku mengumpulkan kalian bukanlah untuk suatu kabar gembira atau kabar buruk akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim Al-Dari yang dahulunya seorang laki-laki pemeluk agama Nashranai kini telah memeluk islam dan membaiatku. Ia telah berkata kepadaku dengan suatu perkataan yang pernah aku katakan kepada kalian tentang Al-Masih Al-Dajjal. (Baca: Benarkah Istana Dajjal Sudah Ada di Dekat Madinah?)

Ia mengisahkan perjalanannya kepadaku bahwa ia berlayar dengan sebuah kapal laut bersama 30 orang laki-laki dari kabilah Lakham dan Judzam. Kemudian mereka terombang-ambing oleh ombak (badai) selama satu bulan. Hingga mereka terdampar di sebuah pulau di tengah laut di daerah tempat terbenamnya matahari. Lalu mereka duduk (istirahat) di suatu tempat yang terletak sangat dekat dengan kapal.

Setelah itu, mereka masuk ke dalam pulau tersebut lalu mereka bertemu dengan seekor binatang yang berbulu lebat sehingga mereka tidak dapat memperkirakan mana ekornya dan mana kepalanya karena tertutup oleh bulunya yang terlalu banyak.

Mereka berkata; Celaka, dari jenis apakah kamu ini?. Ia menjawab; Saya adalah Al- Jassasah. Mereka bertanya; Apakah Al-Jassasah itu? Kemudian tanpa menjawab, ia berkata; Wahai orang-orang, pergilah kalian kepada seorang laki-laki yang berada di biara itu. Sesungguhnya ia sangat ingin mendengarkan berita-berita dari kalian.

Tamim Al-Dari berkata; Ketika ia telah menjelaskan kepada kami tentang laki-laki itu, kami pun terkejut karena kami mengira bahwa ia adalah setan. Lalu kami segera berangkat sehingga kami memasuki biara tersebut, di sana terdapat seorang manusia yang paling besar (yang pernah kami lihat) dalam keadaan terikat sangat kuat. Kedua tangannya terikat ke pundaknya serta antara dua lutut dan kedua mata kakinya terbelenggu dengan besi.

Kami berkata; Celaka, siapakah kamu ini? Ia menjawab; Takdir telah menentukan bahwa kalian akan menyampaikan kabar-kabar kepadaku, maka kabarkanlah kepadaku siapakah kalian ini? Mereka menjawab; Kami adalah orang-orang Arab yang berlayar dengan sebuah kapal, tiba-tiba kami menghadapi sebuah laut yang berguncang lalu kami terombang-ambing di tengah laut selama satu bulan dan teradamparlah kami di pulau ini.

Lalu kami duduk di tempat yang terdekat dengan kapal kemudian kami masuk pulau ini, maka kami bertemu dengan seekor binatang yang sangat banyak bulunya yang tidak dapat diperkirakan mana ekor dan mana kepalanya karena banyak bulunya. Maka kami berkata; Celaka, apakah kamu ini? Ia menjawab; Aku adalah Al-Jassasah.

Ia juga berkata; Pergilah kalian kepada seorang laki-laki yang berada di biara itu. Sesungguhnya ia sangat ingin mendengarkan berita-berita yang kalian bawa. Lalu kami segera menuju tempat kamu ini dan kami terkejut bercampur takut karena mengira bahwa kamu ini adalah setan.

Ia (laki-laki besar yang terikat itu) berkata; Beritakanlah kepada saya tentang pohon-pohon korma yang ada di daerah Baisan? Kami berkata; Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya? Ia berkata; Saya menanyakan apakah pohon-pohon korma itu berbuah? Kami menjawab; Ya. Ia berkata; Adapun pohon-pohon korma itu, maka ia (sebentar lagi) hampir saja tidak akan berbuah lagi.

Kemudian ia berkata lagi; Beritakanlah kepadaku tentang danau Tiberia. Mereka berkata; Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya? Ia bertanya; Apakah ia tetap berair? Kami menjawab; Ya. Ia berkata; Adapun airnya, maka ia (sebentar lagi) hampir saja akan habis.

Kemudian ia berkata lagi; Beritakanlah kepada saya tentang mata air Zugar. Mereka menjawab; Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya? Ia bertanya; Apakah di sana masih ada air dan penduduk di sana masih bertani dengan menggunakan air dari mata air Zugar itu? Kami menjawab; Benar, ia berair banyak dan penduduknya bertani dari mata air itu.

Lalu ia berkata lagi; Beritakanlah kepadaku tentang nabi yang ummi, apa sajakah yang sudah ia perbuat? Mereka menjawab; Dia telah keluar dari Mekkah menuju Madinah. Lalu ia bertanya; Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab? Kami menjawab; Ya. Ia bertanya; Apakah yang ia lakukan terhadap mereka? Maka kami memberitahukan kepadanya bahwa ia (Nabi) itu telah menundukkan orang-orang Arab yang bersama dengannya dan mereka menaatinya.

Lalu ia berkata; Apakah itu semua telah terjadi? Kami menjawab; Ya. Ia berkata; Sesungguhnya adalah lebih baik bagi mereka untuk menaatinya dan sungguh aku akan mengatakan kepada kalian tentang diriku.

Aku adalah Al-Masih Al-Dajjal dan sesungguhnya aku hampir saja diizinkan untuk keluar. Maka aku akan keluar dan berjalan di muka bumi dan tidak ada satu pun kampung (negeri) kecuali aku memasukinya dalam waktu 40 malam selain Mekkah dan Thaibah, kedua negeri itu terlarang bagiku.

Setiap kali aku ingin memasuki salah satu dari negeri itu, maka aku dihadang oleh malaikat yang ditangannya ada pedang berkilau dan sangat tajam untuk menghambatku dari kedua negeri tersebut. Dan disetiap celahnya terdapat malaikat yang menjaganya.

Kemudian, sambil mengetuk mimbar dengan tongkat, Nabi Saw bersabda; Ini Thaibah, ini adalah Thaibah, ini adalah Thaibah, maksudnya Madinah. Beliau bersabda lagi; Bukankah aku telah menyampaikan hal itu kepada kalian? Para sahabat menjawab; Benar. Beliau kembali bersabda; Sungguh mengagumkanku cerita Tamim ini.

Ceritanya sesuai dengan yang ingin aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal, Mekkah, dan Madinah. Ingatlah, Dajjal itu berada di laut Syam atau di laut Yaman. Ia datang dari arah timur. Beliau mengatakan demikian sambil memberi isyarat ke arah timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here