Sahabat Nabi yang Kaya namun Tetap Zuhud

1
5344

BincangSyariah.Com – Ada data menarik yang disampaikan al-Mas’udi dalam kitabnya Muruj al-Dzahab terkait harta kekayaan para sahabat Rasulullah Saw.

Zubair bin Al-Awaam setelah wafat meninggalkan 59.800.000 dirham. Dan konon katanya, beliau memiliki seribu budak, seribu kuda, sebelas rumah megah, ratusan hektar tanah dan perkebunan yang tersebar di Madinah, Basrah, Kufah, Fustat dan Iskandariyah. Selain itu, beliau juga seorang saudagar.

Abdurrahman bin Auf, awal berhijrah ke Madinah tidak memiliki harta sepeserpun. Namun tak lama kemudian, beliau menjadi orang paling kaya se-Madinah. Menjelang akhir hidupnya, beliau mewasiatkan agar sebagian hartanya dibagikan kepada 100 ahli Badar yang masih hidup. Masing-masing mendapat jatah 400 dinar. Selain itu, beliau juga memiliki seribu budak yang telah dibebaskan, seribu onta, seratus kuda, tiga ribu domba yang digembalakan di Baqi’.

Zaid bin Tsabit meninggalkan 300 ribu dinar serta ratusan ton emas dan perak. Ibnu Mas’ud, selain memiliki 50 budak dan hewan ternak, meninggalkan 9 ribu ton (mitsqal) emas dan beberapa rumah megah di pelosok-pelosok Irak. Al-Khabab bin al-Irts, sahabat Rasul SAW yang terkenal miskin, di akhir hidupnya mewasiatkan untuk membagi-bagi sisa hartanya yang berjumlah 40 ribu dinar.

Fakta ini menunjukan bahwa para sahabat adalah orang-orang kaya. Namun, kekayaan mereka tidak lantas membuat mereka lupa akan akhirat. Mereka hidup zuhud. Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa “Zuhud tersimpul dalam dua kalimat dalam Alquran, supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu (QS 57:23).

Orang yang tidak bersedih karena kehilangan sesuatu darinya dan tidak bersuka ria karena apa yang dimilikinya, itulah orang yang zuhud.” Dari tafsir yang dikemukakan Ali bin Abi Thalib tersebut, kita dapat melihat dua ciri orang yang zuhud dalam pandangan Allah.

Baca Juga :  Kisah Raja Salih dan Anak-Anaknya yang Zuhud

Pertama, “zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimilikinya.” Zuhud adalah pola hidup menjadi. Zahid tidak memperoleh kebahagiaan dari pemilikan. Para sahabat Rasul SAW tidaklah membuang semua yang dimilikinya, tetapi mereka menggunakan semuanya itu untuk mengembangkan dirinya. Kebahagiannya tidak terletak pada benda-benda mati, tetapi pada peningkatan kualitas hidupnya.

Kedua, “kebahagiaan seorang zahid tidak lagi terletak pada hal-hal yang duniawi, tetapi pada dataran ruhani.” Kedewasaan kepribadian jiwa kita terletak pada sejauh mana kecenderungan kita pada hal-hal yang ruhani. Makin tinggi tingkat kepribadian kita, makin ruhani sifat kesenangannya. Dua prinsip inilah yang dipegang para sahabat.

Dua prinsip yang dipegang teguh oleh para sahabat ini kelak kemudian dirumuskan kembali oleh Al-Ghazali dalam salah satu kitabnya yang terkenal, al-Munqidz min ad-Dalal. Dalam kitab ini, al-Ghazali menegaskan bahwa zuhud itu faqdu alaqat al-qalbi min ad-dunya la faqduha ‘menghilangkan keterikatan hati dengan dunia namun bukan berarti menghilangkannya’.

Rumusan al-Ghazali mengenai zuhud ini mengesankan bahwa seorang muslim sangat dianjurkan untuk menjadi kaya bahkan harus menjadi sekaya-kayanya orang. Namun  kekayaan ini harus tetap dalam koridor nilai-nilai agama, yakni kekayaan yang tidak menjerumuskan pemiliknya ke dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Dengan kata-kata lain, seorang muslim tetap memiliki kekayaan namun kekayaan ini merupakan objek material yang tidak mengganggu kehidupan spritualnya, kehidupan batinnya dengan Allah SWT.

Kekayaan seorang muslim bukanlah kekayaan negatif. Sebaliknya kekayaan seorang muslim ialah kekayaan yang positif yang mampu menopang segala aktifitasnya sehingga setiap delik hartanya kelak menjadi saksi bahwa ia benar-benar menggunakan titipan Allah untuk jalan kebenaran, menggunakan harta sesuai dengan fungsinya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada sang maha pemilik harta, Allah SWT.

Baca Juga :  Cerita Nabi tentang Si Belang, Si Botak dan Si Buta

Sosok muslim yang patut menjadi contoh dalam hal ini ialah As-Syadzili, pendiri tarikat sufi As-Syadziliyah,  sosok sufi yang memiliki harta berlimpah-limpah namun tetap hatinya selalu dalam kerinduan dengan Allah SWT.

Dari beliau ini, kita mengenal satu doa yang sangat menarik karena kandungan doanya terwujud dalam kehidupan nyata seorang as-Syadzili. Dalam setiap doanya, As-Syadzili  selalu meminta kepada Allah, “ya Allah luaskanlah rezekiku di dunia dan janganlah ia mengahalangiku dari akhirat, jadikanlah hartaku pada genggaman tanganku dan jangan sampai ia menguasai hatiku.”

Doa yang sangat ringkas namun cukup padat secara makna. Doa ini seolah menjadi rangkuman dari sikap hidup generasi terbaik umat Islam, generasi sahabat Nabi dimana inti dari sikap hidup seorang muslim ialah zuhud yang menuntut untuk tetap optimis menghadapi dunia tanpa perlu mencelanya sebagai sumber kesengsaraan hidup.

Dunia bagi as-Syadzili, sang sufi, atau bagi para sahabat Nabi, hanyalah sarana. Sebagaimana halnya sarana, ia bisa digunakan untuk tujuan kebaikan atau keburukan. Tentu hanya hati yang sudah tercerahkan sajalah yang mampu menaklukan dunia tanpa perlu hati dikuasai olehnya dan tentunya akan menggunakan harta sebaik mungkin untuk tujuan kebaikan dan kebajikan.

Simpulannya, para sahabat memiliki kekayaan harta dunia yang berlimpah. Mereka merupakan contoh ideal dari bagaimana harta digunakan tanpa perlu memiliki keterikatan hati dengan materi. Harta bagi mereka hanyalah fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bukan untuk tujuan hidup. Karena itu petuah Rasulullah SAW harus dipegang erat-erat dalam sikap hidup kita, “bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup abadi dan beramallah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati besok.” (HR. al-Bazzar).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here