Belajar Ulumul Quran: Para Sahabat Nabi Saling Belajar Tafsir Al-Qur’an

0
129

BincangSyariah.Com – Sahabat adalah istilah bagi seorang mukmin yang berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi Muhammad saw masih hidup tidak ada kesulitan bagi mereka para sahabat dalam memahami Al-Qur’an. Apa yang sukar dipahami dapat mereka konfirmasi langsung kepada Nabi seperti yang telah diceritakan pada tulisan terdahulu (Belajar Ulumul Quran: Apakah Nabi Muhammad Menafsirkan Al-Qur’an). Namun bagaimana mereka menafsirkan Al-Qur’an ketika Rasulullah saw telah wafat?

Para sahabat saling belajar satu dengan lain untuk mengkonfirmasi kebenaran suatu penafsiran Al-Qur’an. Mereka meneladankan kepada kita bahwa tidak ada istilah lebih tua (senior) atau lebih muda (junior) dalam menimba ilmu. Siapa pun yang lebih dalam ilmunya, maka ia diperkenankan untuk membagi ilmunya tersebut kepada yang lain.

Bahkan orang yang lebih muda seperti sahabat Abdullah bin Abbas diberikan tempat yang mulia karena kedalaman ilmunya meskipun usianya jauh lebih muda (ketika Rasul wafat, usianya masih 15 tahun) dibandingkan para sahabat senior yang sudah ikut bersama Nabi dalam berbagai peperangan melawan para musuh.

Ada dua riwayat yang penulis ambil dari al-Muwafaqat dan Sahih al-Bukhari untuk menggambarkan bagaimana para sahabat saling belajar menafsirkan Al-Qur’an. Dalam kitab al-Muwafaqat karya al-Syatibi diriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khattab mengutus Qudamah bin Madz’un ke Bahrain untuk suatu tugas.

Suatu ketika datanglah al-Jarud, sahabat lain, mengadu kepada Umar seraya berkata, “Qudamah telah minum sampai mabuk.” Umar mengkonfirmasi, “Siapa yang bersaksi atas apa yang kamu katakan?” al-Jarud menjawab, “Abu Hurairah menjadi saksi dari apa yang kukatakan.”

Kemudian Umar bin Khattab memanggil Qudamah dan mengatakan bahwa Ia akan mencambuknya. Qudamah pun berkata, “Seandainya benar aku minum seperti yang mereka katakan, anda tidak bisa mencambukku.” Umar bertanya, “Mengapa demikian?” Qudamah menjawab, “Karena Allah swt berfirman:

Baca Juga :  Sahabat Nabi Ini Tetap Menyambung Silaturahmi Meski Beda Agama dengan Ibunya

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا …..

Tidak berdosa bagi orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan, apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka tetap bertakwa dan berbuat kebaikan (Q.S al-Maidah ayat 93) … dan aku (Qudamah) adalah bagian dari orang-orang beriman dan mengerjakan kebaikan, bertakwa dan beriman, lalu tetap bertakwa dan beriman, aku ikut berperang bersama Nabi dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.”

Lalu Umar bin Khattab bertanya kepada sahabat lain yang ikut hadir dalam majlis,”Tidakkah ada sanggahan dari kalian atas apa yang Qudamah katakan?”

Abdullah Ibnu Abbas berinisiatif untuk menjawab, “Ayat yang engkau kutip tadi diturunkan sebagai pemaafan atas perbuatan yang dilakukan pada masa lalu dan menjadi pelajaran bagi masa setelahnya, Allah swt berfirman:

  …   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَان

Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan setan ….

Umar bin Khattab berkata, “Benar apa yang kamu katakan.”

Pada kesempatan lain seperti diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, Ibnu ‘Abbas bercerita: suatu ketika aku diikutsertakan dalam perkumpulan sahabat senior yang ikut dalam Perang Badar. Seakan-akan sebagian dari mereka tidak menghendaki kehadiranku sambil berkata, “apakah kita ini disamakan dengan anak-anak?” gumamku dalam hati.

Tidak lama kemudian Umar bin Khattab berkata,“ Apa yang kalian pahami dengan firman Allah swt Idza Ja‘a nashrullah wa al-fath (Q.S al-Nashr)?” Sebagian dari mereka menjawab, “kami diperintahkan untuk memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya (nahmaduhu wa nastaghfiruh) ketika Dia menolong kita dan membukakan kemenangan atas kita.” Sedang sebagian yang lain diam tanpa berkata-kata.

Baca Juga :  Cara Nabi Mengajar Sahabat Agar Tidak Jenuh

Lalu Umar bin Khattab bertanya kepadaku, “benarkah demikian wahai Ibnu Abbas?” aku menjawab, kurang tepat. Umar bertanya lagi, “kalau begitu bagaimana penafsiran yang lebih tepat?”

Aku menjawab, “surah ini berbicara mengenai ajal Rasulullah saw, Allah swt memberitahukannya kepada Rasul, bila datang pertolongan Allah dan kemenangan itulah tanda dekatnya ajalmu, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunlah kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha penerima taubat.

Umar bin Khattab pun membenarkan apa yang diterangkan Ibnu Abbas, “pengetahuanku tentang surah ini sama seperti apa yang kamu jelaskan (La A’lam minha illa ma taqul).”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here