Saat Sahabat Abu Mi’laq Dibegal, Ia Baca Doa Ini dan Langsung Terkabul

0
32

BincangSyariah.Com – Dikisahkan bahwa pernah ada salah seorang sahabat Nabi saw. yang kena begal. Kisah ini terdapat di bagian awal Kitab al-Mustaghiitsiina bi-llaah ‘inda al-Muhimmaat wa al-Haajaat karya Ibnu Basykuwaal (w. 578 H). Kesahihan kisah ini dibuktikan dengan ketersambungan sanadnya kepada sahabat sekaligus khadam (pelayan) Rasulullah saw., bernama Anas bin Malik. Sahabat Nabi saw. yang kena begal itu biasa dipanggil Abu Mi’laq.

Ia dari kalangan kaum Anshar dan terkenal sebagai pribadi yang ahli ibadah nan warak, yakni bersifat menjauhi perkara yang belum jelas status hukum halal dan haramnya karena takut atau khawatir pada keharamannya.

Profesinya selaku pedagang membuat Abu Mi’laq sering melanglang buana untuk menjajakan barang dagangannya ke berbagai daerah. Suatu ketika di tengah-tengah trip berdagangnya, ia dihadang pembegal. Pembegal yang hendak mengincar barang dagangan Abu Mi’laq itu mengenakan topeng sembari menenteng senjata.

“Serahkan semua barang bawaanmu, karena sebentar lagi aku akan menghabisimu,” gertak sang pembegal.

Abu Mi’laq lantas berujar, “Jikapun harta bawaanku ini yang kamu inginkan, kamu tak perlu sampai membunuhku.”

“Memang hartamu yang kuinginkan, tetapi aku juga harus membunuhmu,” tegas si pembegal.

“Baiklah, kalau memang begitu, tolong izinkan aku salat empat rakat terlebih dahulu,” pinta Abu Mi’laq pasrah.

Pembegal itu pun mengabulkan permintaan terakhir Abu Mi’laq tersebut. “Lakukanlah salat sesuai yang kau utarakan tadi,” ucapnya.

Abu Mi’laq kemudian bergegas mengambil wudhu dan melakukan salat sebanyak empat rakaat. Pada waktu sujud terakhir, ia bermunajat dengan sebaris doa berikut ini.

يا ودود، يا ذا العرش المجيد، يا فعال لما يريد، أسئلك بعزتك التي لا ترام وملكك الذي لا يضام وبنورك الذي ملأ أركان عرشك أن تكفيني شر هذا اللص، يا مغيث أغثني.

Yaa waduudu, yaa dzaa al-‘arsy al-majiid, yaa fa’aalu limaa yuriidu, as’aluka bi-‘izzatika allatii laa turaamu wa mulkika alladzii laa yudhaamu wa bi-nuurika alladzii mala’a arkaana ‘arsyika an takfiyanii syarra hadzaa al-lishshi, yaa mughiitsu aghitsnii.

Duhai Dzat Yang Maha Penyayang. Duhai Dzat Pemilik ‘Arsy Yang Maha Agung. Duhai Dzat Yang Maha Kuasa berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Saya memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu yang tiada bandingannya; dengan kekuasaan-Mu yang tiada batasannya; serta dengan cahaya-Mu yang memancar ke segala penjuru ‘Arsy-Mu, agar Engkau berkenan mencegah kejahatan pembegal itu terhadap saya. Duhai Dzat Yang Maha Penolong, tolonglah saya.

Abu Mi’laq mengulang-ulang doa di atas hingga tiga kali. Selepas itu, tiba-tiba ia menjumpai sesosok kesatria berkuda dengan bersenjatakan tombak yang melintang di atas kedua kuping kudanya. Tatkala si pembegal itu menyadari keberadaannya, seketika sosok kesatria berkuda tersebut melabrak si pembegal dan berhasil menikamnya hingga tewas terbunuh.

Setelah itu, sosok misterius tadi menghampiri Abu Mi’laq dan berkata, “Bangunlah!”. Dengan dipenuhi rasa syukur dan juga tanda tanya, Abu Mi’laq pun bertanya, “Sungguh, hari ini Allah telah menolongku atas perantara Anda. Namun, siapakah gerangan Anda sebenarnya?”

“Sebenarnya saya adalah malaikat yang jadi bagian dari penduduk langit keempat. Ketika kali pertama engkau berdoa dengan doamu tadi, saya mendengar pintu-pintu langit berderit-derit. Saat kali kedua engkau berdoa dengan doamu tadi, saya mendengar kegaduhan para penghuni langit. Manakala engkau berdoa dengan doamu tadi untuk ketiga kalinya, maka dikatakan itu doanya orang yang menderita. Lalu, saya memohon ke hadirat Allah untuk memercayakan saya membunuh pembegal tersebut.”

Sosok misterius yang ternyata adalah malaikat itu melanjutkan, “Berbahagialah dan ketahuilah, siapa saja yang berwudhu dan salat empat rakaat, serta bermunajat, entah itu dengan doa tadi ataupun doa lain. Niscaya doanya orang yang bersangkutan bakal dikabulkan, baik yang bersangkutan dalam kondisi menderita maupun tidak”.

Demikianlah kisahnya. Selebihnya kembali kepada pembaca masing-masing: mengakui kebenaran kisah ajaib ini atau justru sebaliknya. Menurut hemat penulis sendiri, bahwa kejadian-kejadian di luar nalar seperti terpotret dalam kisah ini, tidak mustahil terjadi dalam kehidupan ini. Apalagi faktanya selama ini bahwa tidak semua hal dalam hidup manusia selalu mampu dicerna oleh nalarnya. Nah, seyogianya di situlah aspek keimanan manusia mengambil perannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here