Saat Rasulullah Menangis Menerima Wahyu tentang Siksa Neraka

0
870

BincangSyariah.Com – Saat membaca atau mendengar kata surga, maka yang terlintas dalam benak kita adalah kenikmatan, kesenangan, dan kebahagian. Sebaliknya, saat kata neraka yang kita baca atau dengar, maka kengerian, ketakutan, ancaman, siksaan yang terlintas dalam hati. Surga dan neraka adalah dua kampung akhirat umat manusia sejak Nabi Adam As. sampai Nabi Muhammad Saw.

Yang selamat, maka ia dituntun ke surga. Yang celaka, maka ia digiring ke neraka. Yang masuk surga, itu merupakan karunia Allah Swt. Sedangkan yang masuk neraka, itu merupakan sikap adli-Nya.

Berbicara pedihnya siksa neraka, banyak ayat Al-Qur’an dan Hadis yang menjelaskannya (semoga Allah Swt. melindungi kita dari api neraka). Mulai dari kayu bakar neraka, pakaian ahli neraka, makanan dan minumannya, serta bentuk siksa neraka. Sungguh, seburuk-buruknya dan sesakit-sakitnya di dunia, itu belum seujung kuku dengan kepedihan siksa neraka.

Dalam hal ini, Imam Muhammad Bin Abu Bakar dalam kitab al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah mencantumkan kisah tangis Rasulullah Saw. saat menerima wahyu tentang siksa neraka. Bahkan tidak ada para sahabat yang bisa menenangkan hati beliau. Hingga mereka memanggil Siti Fathimah, putri Rasulullah Saw. untuk menanyakan hal apa yang telah turun pada beliau sehingga membuatnya larut dalam kesedihan.

Riwayat ini dari Sayyidina Anas bin Malik. Riwayat tentang tangis Rasulullah Saw. yang diikuti tangis para sahabat. Tangis nabi ini disebabkan Malaikat Jibril as. datang membawa wahyu tentang api neraka. Ayat yang dibawa Malaikat Jibril as. adalah ayat ke-43 Surat Al-Hijr,

وَاِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

Dan sungguh, Jahanam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka (pengikut setan) semuanya.

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/213 disebutkan bahwa neraka itu bukan hanya diperuntukkan setan yang telah berani membangkang pada perintah Allah Swt. untuk bersujud pada Nabi Adam As., tapi juga disiapkan bagi mereka yang mengikuti setan. Termasuk kita jika sampai tergoda pada bujuk rayu setan. Na’udzubillah.

Ayat tersebut yang membuat nabi menangis tersedu. Para sahabat tidak berani bertanya atau menyapa beliau yang sedang menangis. Mereka sepakat untuk menjemput Siti Fathimah agar bisa menenangkan nabi.

Baca Juga :  Rasulullah Menegakkan Hukum pada Wanita Bangsawan yang Mencuri

Mengenai yang menjemput beliau, ada yang mengatakan Abdurrahman Bin Auf Ra. dan ada yang mengatakan Sayyidina Umar Ra. Saat Siti Fathimah keluar dari kamarnya untuk menemui Rasulullah Saw., beliau memakai baju yang sudah memiliki 12 jahitan. Hal itu membuat Sayyidina Umar Ra. menangis tersedu. “Sungguh, putri Raja Romawi dan Persia memakai sutra dan katun, sedangkan putri nabi akhiruzzaman memakai pakaian yang amat sederhana. Bahkan dipenuhi dengan jahitan dari pelapah kurma.”

Sesampainya pada Nabi Muhammad Saw., Siti Fathimah Curhat tentang perkataan Sayyidina Umar tentang pakaiannya. “Aba, Umar ra. merasa heran dengan pakaianku. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali ra. selama 5 tahunan ini hanya beralaskan kulit kambing. Siangnya digunakan tempat makan unta, malamnya dijadikan kasur. Bantal yang kami pakai adalah tulang belulang yang ditutupi dengan pelepah kurma.”

“Abah, apa yang membuatmu sesedih ini?” tanya Siti Fathimah. “Nak, bagaimana aku tidak akan menangis, sedangkan Jibril as. membawa wahyu tentang neraka Jahannam,” jawab nabi. “Abah, coba sebutkan untukku tentang pintu neraka?” tanya lagi Siti Fathimah.

“Nak, sesungguhnya paling ringannya neraka, ia memiliki 70 ribu gunung api. Di setiap gunung ada 70 ribu lembah. Setiap lembah ada 70 juta daerah. Setiap daerah memiliki 1 juta kota. Setiap kota memiliki 70 juta istana. Setiap istana memiliki 1 juta kamar. Setiap kamar ada 70 juta kamar. Setiap kamar ada 1 juta peti. Setiap peti ada 70 juta macam siksaan. Tidak ada siksaan yang sama antar satu sama lainnya”, jelas nabi.

Mendengarkan penjelasan Nabi tentang neraka, Siti Fathimah langsung jatuh tersungkur. Lalu beliau berkata “Celakalah orang yang masuk ke neraka.” Mendengar perkataan Siti Fathimah, Umar Ra. berkata “Andai aku adalah kambing ternak keluarga, pasti aku akan disembelih. Mereka akan memakan dagingku dan menghancurkan tulangku, mengiris-iris dagingku. Maka aku tidak akan mendengar sebutan neraka.”

Baca Juga :  Sejarah 5 Kali Percobaan Pencurian Jasad Nabi

Lain lagi dengan Sayyidina Abu Bakar Ra., beliau berkata “Andai aku adalah seekor burung. Aku makan, minum dari air sungai dan bertengger di pepohonan. Aku tidak akan dihisab dan disiksa. Aku juga tidak akan mendengar sebutan neraka.”

Lain juga dengan Sayyidina Ali Ra., Beliau berkata saat mendengar sebutan neraka “Andai saja aku tidak dilahirkan ibuku. Andai saja aku mati waktu kecil. Andai saja aku adalah rumput, maka aku akan dimakan hewan. Andai aku hewan buas, maka akan kucabik-cabik dagingku. Aku juga tidak akan mendengar sebutan neraka jahannam”.

Salman Ra. saat mendengar hal itu, ia langsung lari menuju pemakaman baqi’. Dia berteriak sekencang-kencangnya memikirkan perjalanannya dan bekal menuju akhirat. Beliau bertemu dengan Bilal Bin Rabbah Ra. Sahabat bilal bertanya apa yang membuat Salman bersedih dan memangis. Beliau menjawab “Celakalah aku dan kamu Bilal, jika tempat kembali kita jauh dari surga.” Bilal, sunguh celaka bila nanti kita diberi makan buah Zaaquum dan minum air hamiim (air mendidih).

Semoga Allah Swt. menjauhkan kita dari segala hal yang dapat menjerumuskan ke lembah neraka. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here