Saat Nabi Berhari Raya

0
687

BincangSyariah.Com – Bila pagi Idulfitri yang indah itu tiba, usai salat Subuh, Nabi bersiap-siap berangkat menuju masjid. Beliau mengambil baju yang paling bagus (ajmal tsiyabih) lalu mengenakannya. Sesudah itu, beliau mengambil botol minyak wangi dan mengoleskan ke tubuhnya. Seorang sahabat mengatakan,

اَمَرَنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم فِى الْعِيدَيْنِ اَنْ نَلْبِسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُهُ وَاَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ مَا نَجِدُ.

Nabi menyuruh kami pada dua lebaran untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami punya dan mengoleskan tubuh dengan minyak yang paling wangi yang kami punya.

Lalu, kata Imam Bukhari, Nabi belum akan keluar menuju masjid sebelum sarapan. Ini untuk Idulfitri. Sementara untuk Iduladha, beliau sarapan sesudah salat. Seperti hari-hari biasanya, menu sarapan beliau adalah kurma kering dalam jumlah ganjil.

فَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُوْ يَومَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُل تَمَرَاتٍ وَيْأكُلُهُنَّ وِتْراً.

Usai sarapan, beliau berangkat ke masjid melalui jalur tertentu sambil terus mengucapkan takbir. Bila salat Id dan dua khutbah telah ditunaikan, beliau pulang ke rumah dengan mengambil jalur lain.

عن جابر رضى الله عنه قال: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يومُ عِيدٍ خَالَفَ الطّرِيقَ.

Bila di tengah jalan pulang itu bertemu para sahabatnya, beliau menyampaikan tahniah hari raya, lalu berjabat tangan sambil mengucapkan, taqabbala allah minna wa minka, “semoga Allah menerima ibadah kita selama Ramadan.” Para sahabat beliau membalasnya dengan ucapan yang sama. Ucapan ini mengandung makna persahabatan dan menanamkan rasa kasih sayang antarsesama muslim.

Itu adalah salah satu cara saja. Kita dapat mengembangkan cara yang lain sesuai dengan budaya dan tradisi kita, sepanjang sejalan dengan nilai-nilai dan etika Islam atau tidak bertentangan dengannya. Misalnya mengucapkan kullu ‘am wa antum bi khair (“semoga engkau selalu baik”) atau min al-‘aidin wa al-faizin (“selamat anda kembali menjadi bersih dan memperoleh kemenangan”).

Baca Juga :  Islam di Andalusia: Kisah Dinasti Granada Meminta Bantuan Kerajaan Kristen

Sikap Nabi yang mengambil jalur berbeda antara pergi (berangkat) ke, dan pulang dari, masjid dimaksudkan agar bisa bertemu banyak orang. Itu adalah bentuk silaturrahim Nabi. Ini sesungguhnya tidak berlaku spesial hari raya, tetapi untuk sepanjang hidup Nabi. “Seorang muslim”, kata Nabi, “adalah saudara bagi muslim yang lain. Mereka tak dibenarkan saling menzalimi, saling menghina dan saling merendahkan. Takwa itu di sini.” Nabi mengucapkan kata-kata “takwa” tiga kali sambil tangannya diletakkan di dadanya, sebuah isyarat tempat hati. “Seorang muslim sudah dipandang buruk bila dia merendahkan saudaranya. Setiap muslim dilarang mengganggu hak hidup, hak milik pribadi dan martabatnya.”

Silaturahmi juga menambah rezeki dan memperpanjang umur. Nabi mengatakan,

مَنْ سَرَّهُ اَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى اَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه.

Siapa yang ingin banyak rezeki dan umur panjang (yang bermanfaat), maka hendaklah menjaga silaturrahim.

Menjaga silaturahim dapat ditempuh melalui banyak cara: mengucapkan salam, memberi hadiah, bicara santun, bersikap ramah, berbuat baik dan membantu kesulitan. Bila berjauhan tempat, maka bisa dilakukan dengan mengirim surat, sms, tweet, Facebook, menelpon dan lain-lain. Ini cara dalam konteks modern. Tetapi yang terbaik adalah berkunjung dan bertemu muka.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here