Saat Melakukan Penaklukan, Umar bin Khattab Tidak Mengubah Gereja Menjadi Masjid

3
2496

BincangSyariah.Com – Doktor Ali Muhammad al-Shalabi dalam bukunya al-Daulatul Utsmaniyah: ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth, menjelaskan bahwa Umat Islam di tangan khalifah Umar bin Khatab berhasil melakukan futuhat ke beberapa wilayah Asia Tengah sejak tahun 22 Hijriah. Saat melakukan penaklukan beberapa wilayah jazirah Arab, sahabat Umar bin Khattab tetap menghormati non-Muslim dan membiarkan rumah ibadah mereka tetap berdiri. (Baca: Sejarah Hagia Sophia: Museum yang Pernah Menjadi Gereja dan Masjid)

Dalam Futuh al-Buldan, Imam al-Baludzuri menyebutkan riwayat berikut ini:

[حدثني أَبُو موسى الهروي عن أَبِي الْفَضْل الأنصاري عن أَبِي المحارب الضبي أن عُمَر بْن الخطاب رضي الله عنه عزل عتبة عَنِ الموصل وولَّاها هرثمة بْن عرفجة البارقي وكان بها الحصن، وبِيَع النصارى، ومنازل لهم قليلة عند تلك البيع، ومحلة اليهود؛ فمصرها هرثمة، فأنزل العرب منازلهم، واختطَّ لهم، ثُمَّ بنى المسجد الجامع] اهـ

Artinya:

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Harawi; dari Abul Fadhl al-Anshari; dari Abu al-Muharib al-Dhabbi bahwa Umar bin Khattab menarik ‘Utbah (bin Ghazawan) dari Mosul. Ia melantik Hurtsumah bin Arfajah al-Bariqi. Di Mosul terdapat benteng pertahanan, gereja, pemukiman kecil orang-orang Nasrani dekat gereja, pemukiman Yahudi. Hurtsumah menjadikan Mosul sebagai kota. Ia tempatkan orang-orang Arab di tempat mereka, dan mengumpulkan (di pemukiman) khusus mereka. Kemudian ia membangunkan masjid al-Jami‘.

Selain itu, sahabat Umar bin Khattab juga pernah mencatat perjanjian kepada masyarakat al-Quds (Palestina) bahwa mereka bebas menjalankan keyakinan agama mereka, dan sahabat Umar memberikan jaminan keamanan terhadap jiwa dan gereja mereka. Catatan perjanjian tersebut tertulis dalam catatan Imam al-Thabari dalam kitab Tarikh-nya sebagai berikut:

عن خالد وعبادة، قالا: صالح عمر أهل إيلياء بالجابية، وكتب لهم: بسم الله الرحمن الرحيم، هذا ما أعطى عبدُ الله عمرُ أميرُ المؤمنين أهلَ إيلياء من الأمان؛ أعطاهم أمانًا لأنفسهم وأموالهم ولكنائسهم وصلبانهم وسقيمها وبريئها وسائر ملتها: أنه لا تُسكَنُ كنائسُهم ولا تُهدَمُ ولا يُنتَقَصُ منها ولا مِن حَيِّزها ولا من صَلِيبهم ولا من شيء من أموالهم، ولا يُكرَهون على دينهم، ولا يُضَارَّ أحد منهم.. وعلى ما في هذا الكتاب عهد الله وذمة رسوله صلى الله عليه وآله وسلم وذمة الخلفاء وذمة المؤمنين إذا أعطوا الذي عليهم من الجزية. شهد على ذلك: خالد بن الوليد، وعمرو بن العاص، وعبد الرحمن بن عوف، ومعاوية بن أبي سفيان وكتب وحضر سنة خمس عشرة

Baca Juga :  Mendedah Fleksibelitas Fatwa dan Hukum Islam

Artinya:

Diriwayatkan dari Khalid dan Ubadah, sahabat Umar bersepakat damai dengan penduduk Elia di Jabiyah. Umar menulis surat untuk mereka, “Bismillahirrahmanirrahim. Inilah pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin orang-orang mukmin untuk penduduk Elia, yang berupa kemanan, bagi jiwa, harta, gereja, dan salib mereka, juga orang sakit, sehat, dan semua agama penduduk Elia. Gereja mereka itu tak boleh ditempati, dihancurkan, dikurangi bentuk gereja dan salib, dan sedikit pun dari harta mereka (tak boleh diambil). Mereka tak boleh dipaksa (meninggalkan) agama mereka. Satu pun dari mereka tak boleh disakiti … Dalam perjanjian ini, terdapat janji Allah, tanggung jawab Rasulullah, para penggantinya, dan orang-orang mukmin yang sudah diberikan jizyah. Perjanjian ini disaksikan oleh Khalib bin al-Walid, Umar bin al-‘Ash, ‘Abdurrahman bin Auf, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan. Umar menulis surat ini, dan datang pada tahun 15 H.

Sahabat Umar pun tercatat pernah melaksanakan shalat di loteng gereja di Baitul Maqdis sebagaimana ditulis Ibnu Khaldun dalam kitab Tarikh-nya sebagai berikut:

أنَّ عمر بن الخطاب رضي الله عنه لمّا دخل بيتَ المقدس حان وقت الصلاة وهو في إحدى الكنائس، فقال لأسقفها: أريد الصلاة، فقال له: صلِّ موضعَك، فامتنع وصلّى على الدرجة التي على باب الكنيسة منفردًا، فلما قضى صلاته قال: “لو صلَّيْتُ داخلَ الكنيسة أخذها المسلمون بعدى وقالوا: هنا صلَّى عمر

Artinya:

Saat sahabat Umar masuk ke Baitul Maqdis, tetiba waktu shalat datang, dan beliau berada di salah satu gereja. “Aku mau shalat,” kata Umar pada uskup gereja tersebut. “Shalat saja di sini,” uskup mempersilakan Umar. Umar tidak mau, dan shalat di loteng gereja sendirian. Usai shalat, Umar bilang, “Kalau aku shalat di dalam gereja, nanti orang Muslim setelahku akan meniruku, dan mereka akan bilang, ‘Oh, Umar dulu pernah shalat di sini’.”

Baca Juga :  Kisah Amr bin ‘Ash, Umar bin Khattab, dan Nenek Yahudi Korban Penggusuran

Dari beberapa catatan sejarah di atas, sahabat Umar tidak berupaya mengubah fungsi rumah ibadah non-Muslim menjadi masjid atau tempat lain yang bermanfaat untuk Muslim, apalagi sampai merobohkan dan merusaknya.

3 KOMENTAR

  1. […] LBM PBNU mengilustrasikan kasus di atas dengan kasus Khalifah Umar bin al-Khattab yang saat itu berhasil menaklukkan tanah As-Sawad dan Al-Ahwaz. Sahabat Umar memiliki kebijakan tidak membagikan tanah tersebut kepada kaum muslilimn yang turut serta dalam penaklukan, tetapi justru membiarkannya tetap dikelola penduduk lokal. (Baca: Saat Melakukan Penaklukan, Umar bin Khattab Tidak Mengubah Gereja Menjadi Masjid) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here