Saat Gus Dur Meninggalkan Istana

0
482

BincangSyariah.Com – Bila musim Harlah dan Haul Gus Dur tiba, ingatanku tentang Gus Dur meninggalkan istana menyembul lagi bersama dengan sejuta kenangan yang lain. Pada hari Minggu, akhir Juli 2001, (aku tak ingat tanggal pastinya) pagi-pagi sekali aku berangkat ke Jakarta setelah mendengar kabar bahwa Presiden Gus Dur akan meninggalkan istana untuk selanjutnya terbang ke luar negeri (Amerika) untuk berobat.

Dari stasiun Gambir, aku langsung menuju Istana Negara, tempat tinggal Gus Dur dan keluarganya selama menjadi presiden. Aku acap datang ke sana sebelumnya jika diperlukan. Beberapa kali aku menginap di kamar di Istana Merdeka. Di pintu masuk, aku melihat sudah banyak orang, teman-teman, dan para pecinta Gus Dur yang antre masuk ke istana. Aku pun ikut antre. Begitu tiba di teras, aku langsung memasuki kamar Gus Dur. Di situ, Ibu Sinta sedang duduk di atas tempat tidur dengan dandanan yang sudah rapi. Aku menyalami dan mendoakan kesehatannya, lalu keluar lagi. Di kamar itu, aku sempat melihat kardus-kardus besar yang sudah dikemas rapi. Gus Dur di ruang lain sedang bincang dengan adiknya dan yang lain.

Di luar kamar telah berkumpul para sahabat dan para pegawai istana. Mereka berdiri dan berbaris melingkar. Wajah-wajah mereka tampak lesu. Mataku dan mata mereka mengembang air dan tanpa terasa menetes satu-satu. Istana bagai banjir air mata. Gus Dur dan Ibu keluar, lalu menyalami mereka satu-satu. Setiap orang mencium tangannya dengan dada yang berdegup.

Aku menyalaminya. Sambil tangan masih saling menggenggam, Gus Dur seakan-akan mengatakan kepadaku, “Aku akan turun dari takhta ini dan meninggalkan istana ini karena keberadaanku di sini menimbulkan perpecahan bangsa. Aku bersedia tidak memiliki dunia ini, bila kalian menginginkannya, karena hatiku luas, seluas samudera, dan aku yakin bahwa Tuhan akan menunjukkan kebaikan dan memberikan kebahagiaan kepadaku. Aku katakan kepadamu, “Bila kalian menginginkan kebahagiaan, carilah kedamaian.” Lalu Gus Dur meninggalkan kami menuju mobil sedan. Aku melihat dari belakang, mobil itu tak lagi berplat merah nomor RI 1.

Baca Juga :  Cara Nabi Muhammad Menghadapi Kesedihan

Selamat jalan Gus Dur! Aku selalu mencintaimu. Tanganku melambai-lambai lalu jatuh, lunglai, tak berdaya.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.