Sa’ad bin Mu’adz: ‘Arsy Bergetar Dengan Kepergiannya

0
1773

BincangSyariah.Com – Kita telah mengetahui sedikit banyak tentang dua sabahat bernama Sa’ad, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’ad bin ‘Ubadah yang telah diuraikan pada tulisan terdahulu. Pada tulisan kali ini akan dijelaskan mengenai sosok Sa’ad yang tidak kalah heroiknya. Ia adalah Sa’ad bin Mu’adz bin al-Nu’man bin Imri’i al-Qais bin Zaid bin ‘Abd al-Asyhal al-Anshori.

Menurut Syamsuddin al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala, kisah tentang Sa’ad bin Mu’adz banyak ditemukan dalam berbagai kitab sejarah bahkan dalam kitab-kitab sirah Nabi.

Ditakuti Banyak Orang

Sa’ad bin Mu’adz adalah tokoh yang disegani dan ditakuti di dalam maupun di luar Yatsrib, bahkan oleh para pembesar Quraisy Mekah. Dikisahkan dalam kitab al-Rahiq al-Makhtum karya al-Mubarakfuri, ketika Mush’ab bin ‘Umair diutus Nabi Muhammad untuk mengajarkan Islam pasca Baiat Aqabah kepada penduduk Yatsrib, Sa’ad bin Mu’adz cukup murka tetapi tidak bisa berbuat banyak. Hal ini dikarenakan Mush’ab bin ‘Umair dilindungi oleh As’ad bin Zurarah yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.

Karena tidak bisa langsung menghampiri Mush’ab, Sa’ad bin Mu’adz mengutus Usaid bin Hudhair untuk menemui Mush’ab dan As’ad. “Temuilah dua orang itu, mereka datang hanya untuk membodohi orang lemah di antara kita! Ancam dan larang mereka melakukan apa yang mereka mau!” terang Sa’ad.

Berangkatlah Usaid bin Hudhair menemui keduanya dengan membawa tombak. Sementara As’ad dan Mush’ab sedang berbincang di halaman kebun ketika Usaid tampak menghampiri mereka. As’ad berbisik kepada Mush’ab, “Orang itu adalah pemimpin kaumnya, berkatalah tentang Allah swt.” Mush’ab menjawab, “jika ia ingin mendengarkan, aku akan bicara kepadanya.”

Singkat cerita Usaid bin Hudair yang tadinya hendak mengancam, malah berbalik menyatakan diri masuk Islam. Berangkatlah mereka bertiga untuk menemui Sa’ad bin Mu’adz. Ketika melihat Usaid kembali bersama dua orang lain, Sa’ad yang di kelilingi orang-orang dari kaumnya berkata, “dia datang dengan wajah yang berbeda saat dia pergi meninggalkan kita.”

Setelah Sa’ad menanyakan hasil dari kepergian Usaid, Mush’ab pun meminta kesempatan untuk bicara. Lalu Mush’ab berbicara mengenai Islam dan membacakan al-Quran kepada Sa’ad. Hingga pada akhirnya Sa’ad bin Mu’adz kagum terhadap ajaran Islam dan al-Quran dan memutuskan masuk Islam.

Baca Juga :  Lima Karamah Umar bin Khattab

Kisah Sa’ad bin Mu’adz Umrah dan Bertemu Abu Jahal

Ibnu Ishaq sebagaimana dikutip Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah menerangkan bahwa ketika telah masuk Islam, Sa’ad bin Mu’adz memanggil kaumnya seraya berseru, “Wahai Bani Abd al-Asyhal! Bagaimana pendapat kalian tentang kedudukanku?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami dan kepercayaan kami yang memiliki keutamaan.” Sa’ad bin Mu’adz melanjutkan, “Haram bagiku berbicara dengan kalian sehingga kalian semua beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya.”

Tidak lama berselang, Sa’ad bin Mu’adz memutuskan untuk pergi umrah dan setibanya di Mekah Ia menginap di rumah Umayyah bin Khalaf, orang Quraisy yang memusuhi Nabi. Kunjungan ke rumah Umayyah tidak terlepas dari hubungan keduanya yang bila Umayyah hendak pergi ke Syam, ketika melewati Yatsrib maka bergantian rumah Sa’ad yang menjadi tempat istirahat. Mengetahui Sa’ad akan melakukan umrah, Umayyah berkata, “tunggulah hingga matahari terik sehingga agak sepi, barulah kau thawaf.”

Di tengah Sa’ad thawaf, datanglah Abu Jahal sambil bertanya, “siapa yang sedang thawaf dengan cara yang berbeda?” Sa’ad menjawab, “Aku Sa’ad.” Abu Jahal bertanya, “apakah kamu thawaf seperti ini telah dipengaruhi oleh Muhammad dan kawan-kawannya?” Sa’ad menjawab lagi, “Ya.” Akhirnya keduanya pun berpisah setelah Sa’ad menyelesaikan thawaf.

Mengetahui percakapan ini Umayyah menegur Sa’ad, “Janganlah engkau tinggikan suaramu kepada Abu al-Hakam, ia adalah tuannya penduduk al-Wadi,” pinta Umayyah. Sa’ad menimpali, “Demi Allah! jika engkau mencegahku, pasti akan kuhentikan jalur perjalananmu ke Syam.” Umayyah menjawab, “jangan tinggikan suaramu.” Sa’ad menjadi marah dan berkata, “jauhkan diri kalian dari kami, sungguh aku mendengar Muhammad saw hendak berperang denganmu,” Umayyah bertanya, “aku?” Sa’ad menegaskan, “Ya.” Umayyah kemudian berkata, “Demi Allah, Muhammad tidak akan berbohong.”

Pada saat akan terjadi perang Badar, istri Umayyah mengingatkan percakapannya dengan Sa’ad, “Ingatlah percakapanmu dengan saudaramu orang Yatsrib.” Diingatkan oleh istrinya, Umayyah bermaksud untuk tidak keluar rumah. Kemudian Abu Jahal berkata kepadanya, “engkau adalah salah satu pemuka penduduk, berangkatlah bersama kami.” Lalu pada akhirnya baik Umayyah maupun Abu Jahal menjadi korban di Perang Badar.

Baca Juga :  Abu Bakar dan Riwayat Pembakaran al-Fuja’ah as-Sulami

Ahli Panah dan Tombak

Sa’ad bin Mu’adz terkenal sebagai ahli memanah dan menombak, pasukan muslim amat terbantu dengan kemampuannya ini. Ia tidak pernah absen dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah saw mulai dari perang Badar, Uhud, dan kemudian perang Khandaq. Pada perang yang disebutkan terakhir inilah Sa’ad bin Mu’adz menerima luka berat akibat kegigihannya mempertahankan Madinah dari gempurang orang-orang Quraisy Mekah dan sekutunya. Syamsuddin al-Dzahabi menyebutkan bahwa Sa’ad mendapatkan 80 luka di sekujur tubuhnya. Karena sudah terlalu parah, Sa’ad pada akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Rasulullah saw amat sedih dengan kepergian Sa’ad. Rasul bersabda, “Arsy bergetar atas ruh Sa’ad bin Mu’adz.” Ia wafat pada tahun ke-5 H tidak lama setelah berakhirnya perang Khandaq.

Dapatkan tulisan-tulisan SAHABAT NABI dari Wildan Imaduddin lainnya di BincangSyariah.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here