Rute Perjalanan Hijrah Rasul dari Makkah menuju Madinah

0
18

BincangSyariah.Com – Wafatnya Abu Thalib menyisakan duka yang amat dalam bagi Rasulullah. Abu Thalib bukan sekedar paman yang merawat Rasul, namun juga melindungi beliau dari upaya pembunuhan yang sangat ingin dilakukan oleh kelompok musyrikin Quraisy. Berikut ini kisah haru perjuangan dakwah Rasulullah dari mulai disakiti musyrik Quraisy hingga menempuh rute perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah. (Baca: Pentingnya Memperbaiki Niat dalam Hijrah)

Rencana Pembunuhan Rasulullah

Pada tahun 26 Safar tahun 14 kenabian, tokoh – tokoh besar Quraisy dari berbagai kabilah. Al Mubarakfuri dalam Rahiq Makhtum mencatat setidaknya ada 7 kabilah Quraisy yang mengikuti forum. Diantaranya, Abu Jahal dari Bani Makhzum, Harist bin Amir dari Bani Naufal,  Syaibah dari Bani Syams, Nadr bin Harist dari Bani Abdu Dar, Zam’ah bin Aswad dari Bani Bani Asad, Nabih  dari Bani Sahm dan Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah berkumpul di Dar an-Nadwah.

Mereka menghadiri sebuah rapat guna membahas perkembangan dakwah Rasulullah Saw yang kian hari kian semakin bertambah pengikutnya. Hal ini membuat khawatir tokoh musyrikin Quraisy, sehingga dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk bersama – sama menghabisi nyawa Rasulullah Saw langsung pada malam hari itu juga.

Rasulullah Mendapat Izin untuk Berhijrah ke Madinah

Di sisi lain, setelah pengambilan keputusan tersebut, Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah berupa izin untuk berhijrah. Lalu Rasulullah menemui Abu Bakar di rumahnya dan membicarakan rencana serta persiapan untuk hijrah.

Dalam Shahih Bukhari, Aisyah berkata, “Pada suatu hari di tengah siang ketika kami sedang duduk di rumah Abu Bakar, datanglah seseorang dan berkata kepada Abu Bakar: Rasullullah datang pada waktu yang sebelumnya tidak pernah beliau datang kepada kami pada waktu seperti ini”.

Lalu Abu Bakar berkata, “Bapak ibuku menjadi tebusan untuk beliau. Demi Allah, tidaklah beliau datang pada waktu seperti ini melainkan pasti ada urusan penting”. Rasulullah datang kemudian meminta izin lalu beliau dipersilahkan masuk. Beliau masuk dan berkata kepada Abu Bakar, “Perintahkan orang – orang yang ada di rumahmu untuk keluar”. Abu bakar menjadab ,”Mereka itu dari keluarga tuan juga, bapakku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah”.

Baca Juga :  Anti Pemberi Harapan Palsu (PHP) ala Imam Ahmad

Rasulullah lalu berkata,”Sungguh aku telah diizinkan untuk keluar untuk berhijrah”. Abu Bakar kembali bertanya, ”Apakah aku akan menjadi pendamping, demi bapakku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah ?”. Rasul menjawab, “Ya benar”.  Setelah itu Rasulullah pulang ke rumah beliau dan menunggu waktu malam tiba.

Keluar dari Makkah

Pada tengah malam di hari itu, kelompok musyrikin mengepung kediaman Rasulullah, mereka menunggu Rasulullah terlelap. Di sisi lain, Rasulullah meminta Ali bin Abu Thalib untuk menggantikannya tidur di kasur beliau dan menggunakan selimut yang biasa Rasulullah pakai. Ali bin Abi Thalib melaksanakan titah Rasul. Beliau menutup badannya dan tidur di atas kasur Rasulullah.

Setelah itu, Rasulullah keluar dari rumahnya. Beliau menaburkan pasir ke kepala musyrikin yang tengah bersiap menyerbu kediamannya. Lalu Allah mengambil penglihatan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat pergerakan Rasulullah. Sebagaimana tertera dalam surat Yasin ayat 9, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”.

Rasulullah dan Abu Bakar bisa melewati kerumunan musyrikin Quraisy dengan selamat. Keduanya kemudian menuju Gua Tsur. Sementara itu, rencana kafir Quraisy untuk membunuh Nabi mengalami gagal total. Tatkala menggerebek rumah Rasul, mereka hanya menemukan Ali bin Abi Thalib.

Bertolak Menuju Gua Tsur

Mengawali rute perjalanan hijrah, Rasulullah bertolak dari rumahnya menuju Gua Tsur pada malam 27 Safar tahun ke 14 kenabian. Rasulullah mengerti bahwa musyrikin Quraisy akan segera mencari dan mengejar beliau. Sehingga beliau tidak mengambil jalur utara yakni jalur utama yang biasa digunakan menuju Madinah. Sebaliknya beliau mengambil jalur selatan ke arah Yaman. Setelah menempuh kurang lebih lima mil, keduanya sampai di puncak gunung dan singgah di sebuah gua bernama gua Tsur selama tiga malam (malam Jum’at, Sabtu dan Ahad).

Baca Juga :  Hadis tentang Hijrah

Dugaan Rasul benar, musyrikin Quraisy segera menitahkan semua aliansinya untuk mencari Rasulullah. Mereka berpencar menyusuri semua rute perjalanan hijrah menuju Madinah. Sebenarnya, ada beberapa orang yang berhasil sampai di mulut gua. Namun, atas izin Allah mereka tidak menemukan keduanya dan kembali pulang dengan tangan kosong.

Bertolak Menuju Madinah

Pada bulan Rabiul Awwal tahun 1 H, yakni setelah upaya pencarian mulai mereda, Rasulullah bersiap untuk keluar dari gua menuju Madinah. Beliau dibantu oleh seorang kafir Quraisy yang paham mengenai jalur – jalur menuju Madinah. Pria ini  bernama Abdullah bin Uraiqith al-Laitsi.

Sepanjang perjalanan, Rasulullah mengambil jalur yang jarang dilalui orang – orang. Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya, mengutip Ibnu Ishaq soal rute perjalanan hijrah yang dilalui Nabi Muhammad. Rasul melewati wilayah Asfan, Amaj, Qudaid, Kharar, Thaniyyat Murrah, liqf atau Laft,  Madlajah Liqf, Mudlijah Mahaj, Marjih Mahaj, Marjih dzi Ghuddwain, Dzi Kaysr, Jadajid, Ajrad, Dzu Salam, Madlijah Ti’hin, Abayid, Fajjah, Arj, Thaniyyat ‘Air, Ri’m hingga sampai di Quba.

Sampai di Quba

Rasulullah sampai di Quba pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal tahun 1 H atau tahun 14 kenabian. Beliau menetap di kediaman Kultsum bin Hadam, pendapat lain mengatakan Sa’ad bin Khaitsamah. Namun berdasarkan penuturan Al Mubarkfuri yang pertama lebih rajih atau lebih kuat.

Rasulullah menetap di Quba selama empat hari (Senin, Selasa, Rabu dan Kamis). Dalam kurun waktu tersebut beliau dan para sahabat berhasil membangun masjid Quba, masjid yang dikenal sebagai masjid pertama dalam sejarah umat Islam.

Sampai di Madinah

Setelah Quba, Rasulullah melanjutkan rute perjalanan hijrah menuju Madinah. Beliau singgah di wilayah Bani Salim bin Auf dan melaksanakan solat Jum’at di sana bersama kurnag lebih 100 orang jamaah.

Baca Juga :  Kisah Abu Nawas Disuruh Berubah Menjadi Ayam

Setelah melaksanakan solat Jum’at, Rasulullah memasuki kota Yastrib yang kemudian diganti namanya dengan nama Madinah. Masyarakat Anshar telah lama menunggu kedatangan Rasulullah.  Mereka sangat bersuka cita menyambut hadirnya Rasulullah lalu mendendangkan sebuah syair.

“Bulan purnama telah terbit menyinari kami, dari lembah Tsaniyyat Wada’.

Dan wajiblah kita mengucap syukur, dimana seruan adalah kepada Allah.

Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami, datang dengan seruan untuk dipatuhi”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here