Runtuhnya Bani al-Afthos dan Ulama Berpengaruh di Eranya

0
1054

BincangSyariah.Com – Setelah kewafatan al-Muzhoffar pada 1067 M, status kekuasaan berpindah kepada kedua anaknya yaitu Yahya yang dijuluki al-Manshur dan Umar yang dijuluki al-Mutawakkil. Yahya memegang wilayah Badajoz sedangkan Umar memegang wilayah Evora. Namun akibat pembagian wilayah tersebut justru menimbulkan perang saudara dan perebutan wilayah.

Konflik tersebut terjadi setahun kemudian setelah pembagian wilayah setelah Yahya ternyata lebih mampu melakukan perluasan wilayah kekuasaan. Kemudian konflik tersebut makin panas dan memuncak malah justru dimanfaatkan oleh Alfonso raja Kastilia untuk menyerang wilayah umat Muslim. Ia dan pasukannya menjarah harta dan stok panganan yang dimiliki umat muslim.

Pertikaian terus terjadi sampai akhirnya Umar al-Mutawakkil meminta perlindungan kepada al-Mu’tamad bin ‘Abbad, penguasa Sevilla. Sedangkan Yahya al-Manshur mencari perlindungan kepada al-Ma’mun bin Dzun Nun, penguasa Toledo. Pertikaian ini berhenti akibat wafatnya al-Manshur secara mendadak pada tahun 1068 M. Akhirnya Umar al-Mutawakkil memegang kekuasaan di Badajoz dan menyerahkan kekuasaan wilayah Evora kepada putranya, Abbas.

Umar al-Mutawakkil lebih dikenal sebagai sastrawan dan penyair. Tidak seperti ayahnya yang selain dikenal sebagai petarung unggul nan juga sastrawan. Ia seperti al-Mu’tamad bin Abbad, penguasa Sevilla yang membangun peradaban di sana dengan memperhatikan keilmuan dan sastra. Ditemukan dalam beberapa buku sejarah dan biografi syiir dan prosa karya Umar al-Mutawakkil. Hal ini menunjukkan betapa Umar sangat mumpuni dalam ilmu budaya. Kemampuannya dalam menciptakan prosa lebih mumpuni daripada kemampuannya menciptakan syiir. Tidak hanya itu, masa kepemimpinannya juga dikenal sebagai pemimpin yang menerapkan konsep keadilan dan penerapan syariat. Ia juga memberikan fasilitas dan memperhatikan kesejahteraan para ulama. Tetapi perannya dalam bidang politik juga diakui dalam sejarah, yaitu ketika ia berusaha menaklukkan wilayah Toledo yang dipimpin oleh al-Qodir Billah Yahya bin Dzun Nun. Al-Qodir kemudian melarikan diri untuk mencari perlindungan.

Baca Juga :  Cara Nabi Mengisi Malam Bulan Ramadan dan Hikmah di Baliknya

Al-Mutawakkil sempat menngambil wilayah Toledo. Namun al-Qodir akhirnya kembali dengan menggandeng pasukan Kristen dan berhasil merebut wilayah Toledo. Al-Mutawakkil pun kembali ke Badajoz sambil membawa harta rampasan. Setelah al-Qodir berhasil merebut Toledo kembali ia justru tidak menikmati kekuasaanya cukup lama karena akhirnya wilayah tersebut diambil oleh pasukan Kristen.

Al-Mutawakkil masih terus mempertahankan kekuasaannya sampai akhirnya al-Murabithun menguasai Andalus. Setelah Sair bin Bakr, pemimpin al-Murabithun melakukan pengepungan terhadap Sevilla dan menjatuhkannya pada 1091 M, al-Mutawakkil langsung menentukan strategi untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Ia melakukan antisipasi sebelum benar-benar diserang oleh Sair bin Bakr. Al-Mutawakkil akhirnya mengirim surat kepada Alfonso 6, Raja Kastillia untuk memohon bantuan. Namun hal tersebut diketahui oleh umat muslim dan mereka malah mengirimkan surat kepada Sair bin Bakr untuk memohon bantuan. Hal tersebut menjadi kesempatan baginya untuk dengan mudah menaklukkan Badajoz dan mengambil alih kekuasaannya.

Ulama Berpengaruh

Dinasti Bani al-Afthos dipegang oleh pemimpin yang memiliki kecintaan terhadap ilmu terutama ilmu sastra. Maka tidak heran jika kerajaan yang meski bertahan tidak lama tetap menghasilkan cendekiawan dan sastra yang unggul pada masanya. Pada dinasti ini lahirlah beberapa sastrawan yang terkenal seperti, Ibnu Abdun (w. 1135 M). selain sebagai sastrawan ia juga merupakan menteri di eranya. Ia dianggap sebagai penyair dan menteri paling berpengaruh. Ada juga Abu al-Walid al-Baji (w. 1081 M), Ibn ‘Abd al-Barr al-Maliki (w. 1071 M), seorang ahli fikih mazhab Maliki dan ahli sejarah. Tidak luput pula kedua pemimpin Dinasti Bani al-Afthoz, al-Mudzhoffar dan putranya, al-Mutawakkil yang juga dikenal sebagai sastrawan dan melahirkan beberapa karya baik itu syair, prosa dan enskilopedia.

Baca Juga :  Sejarah Bulan Ramadhan: Pertempuran Zallaqah di Spanyol

*diolah dari kitab “Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth” karya Raghib as-Sirjani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here