Rumi dan Konsep Cintanya Sebagai Dasar Metafisika

0
383

BincangSyariah.Com – Dalam tradisi perjalanan sufi dikenal istilah mahabbah (cinta) yang berarti mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Pada titik ekstremnya, cinta ini bisa timbul karena telah tahu betul akan keberadaan Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi Tuhan, akan tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai (wahdat al-sifât).

Cinta seperti ini memiliki dasar dalam Alqurân sebagaimana yang tertera dalam Q.S. al-Mâidah ayat 54:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya ”

Sebelum menjadi sebagai ahli tasawuf dan sastrawan terkemuka, Rumi adalah seorang guru agama yang memiliki banyak murid dan pengikut. Dalam usia 36 tahun dia sudah tidak mengajar ilmu-ilmu formal. Dia insyaf bahwa pengetahuan formal tidak mudah mengubah jiwa murid-muridnya. Menurut Rumi, perubahan bisa terjadi apabila seseorang mendapat pencerahan (enlightment). Untuk mendapat pencerahan, harus bersedia menempuh jalan cinta (‘ishq). Dalam kitab Matsnawi dituliskan:

“Tiada salahnya aku berbicara tentang cinta dan menerangkannya, tetapi malu melingkupiku manakala aku sampai pada cinta itu sendiri “

Begitulah, baru sesudah mempelajari tasawuf secara mendalam dan mengamalkannya dalam kehidupan, Rûmî sadar bahwa dalam diri manusia terdapat tenaga tersembunyi, yang jika digunakan dengan cara yang benar dapat membuat seseorang bahagia, bebas dari kungkungan dunia dan memiliki pengetahuan luas tentang Tuhan dan manusia. Tenaga tersembunyi itu disebut Cinta Ilahi.

Cinta benar-benar menjadi sentra pokok dalam khazanah intelektual Rûmî, dari cinta dia banyak menyebutkan tentang berbagai hal seperti nilai-nilai ketuhanan, perwujudan makrokosmos dan mikrokosmos, hubungan esensi dan eksistensi, agama, dan masih banyak lagi. Beberapa hal ini disampaikan Rûmî dalam syair-syairnya. Tentang Ketuhanan, Rumi menyebutnya dalam kitab Diwan sebagai berikut:

Baca Juga :  Keistimewaan Air Zamzam dalam Islam

Yang lain menyebut Engkau Cinta, tapi aku memanggil dikau Sultan Cinta, Oh Dikau yang berada di seberang konsep ini dan itu, jangan pergi tanpa diriku

Adapun tentang agama, Rumi menuliskannya dalam Matsnawi sebagai berikut:

Agamaku adalah hidup melalui cinta

Adalah malu bagiku, hidup melalui jasad dan roh ini.

Seperti halnya sufi yang lain, Rumi meyakini bahwa cinta merupakan rahasia ketuhanan (sirr Allâh) atau rahasia penciptaan (sirr al-khalq). Karena itu cinta juga merupakan rahasia makhluk-makhlukNya, yang dalam diri manusia merupakan potensi ruhani yang dapat mengangkatnya naik ke hierarki tertinggi penciptaan. Mereka juga yakin bahwa pengalaman mistik dapat membersihkan penglihatan kalbu, sehingga kalbu dapat menyaksikan bahwa wujud hakiki adalah satu, sedang wujud yang lain itu nisbi. Dalam pengalaman kesufian, yang nisbi ini akan sirna tercampak oleh cinta dan kefanaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here