Rukun Islam dalam Tokoh Wayang Kulit Pandawa Lima

0
4259

BincangSyariah.Com – Salah seorang kiai yang senang wayang kulit pernah menceritakan bahwa beliau sangat mengagumi cara Wali Songo menggubah wayang kulit untuk media dakwah. Diceritakan misalnya tentang Pandawa Lima. Urutan mereka ialah Yudistira, Werkudoro, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Ini mengandung arti tentang Rukun Islam yang lima.

Yudistira adalah lambang syahadat. Orang yang memegang teguh kalimah thayyibah dan risalah ini mempunyai sifat-sifat seperti yang dimiliki Yudistira, yakni kejujuran dalam segala ucapan dan perbuatan.

Werkudoro adalah lambang rukun Islam yang kedua, yaitu sembahyang lima waktu. Sembahyang lima waktu ini tidak bisa ditawar, berlaku bagi siapa pun, dalam keadaan apapun, dan di mana pun. Caranya bisa berbeda, seperti cara sembahyangnya orang yang dalam perjalanan, dalam keadaan sakit, dan sebagainya, tetapi tetap menjalankan sembahyang. Cocok dengan sifat Werkudoro yang memperlakukan semua orang sama tak dibeda-bedakan.

Arjuna merupakan lambang rukun Islam ketiga, yakni zakat. Berzakat dengan sendirinya mempunyai syarat orang harus mempunyai harta kekayaan. Semua orang mendambakan kekayaan, sama dengan tokoh pewayangan Arjuna yang disenangi oleh semua orang, bahkan dia dipandang sebagai lanang ing jagat (laki-laki dunia atau pahlawan dunia).

Nakula dan Sadewa merupakan lambang dari rukun Islam keempat dan kelima. Tokoh pewayangan ini merupakan saudara kembar. Demikian pun rukun Islam yang keempat dan kelima merupakan saudara kembar, karena tidak dikerjakan setiap hari, tetapi tiap setahun sekali, yaitu puasa Ramadan dan ibadah haji. Tokoh Nakula dan Sadewa juga tidak sembarang waktu ditampilkan dalam lakon wayang.

Demikianlah rukun Islam dalam tokoh wayang kulit Pandawa Lima yang diajarkan Wali Songo kepada rakyat Indonesia zaman dulu. Metode dakwah semacam ini khususnya dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Keterangan ini disarikan dari buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren karya KH. Saifuddin Zuhri).

Baca Juga :  Ibrahim Al-Bajuri, Syekh al-Azhar Pasca Penjajahan Prancis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here