Ronggo Warsito: Mengetahui Kapan Kematiannya Sendiri

0
758

BincangSyariah.Com – Raden Ngabehi Ronggo Warsito adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.

Ronggo Warsito meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajati yang ia tulis sendiri.

Hal ini menimbulkan dugaan beberapa orang yang suka mengkaji sastra kalau Ronggowarsito meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.

Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak elit keraton Kasunanan Surakarta yang berpendapat kalau Ronggowarsito adalah seorang waskito dia adalah  peramal ulung sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri.

Dalam karyanya yang terakhit yaitu  Serat Sabdajati baris ke 16 Ronggo Warsito menulis sebagai berikut:

“Pandulune Ki Pujangga durung kemput, Mulur lir benang tinarik, Nanging kaseranging ngumur, Andungkap kasidan jati, Mulih mring jatining enggon.”

Artinya: Sayang sekali “penglihatan” Ki Pujangga belum sampai tuntas, bagaikan menarik benang dari ikatannya. Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

Pada bait yang ke 17 dilanjutkan:

“Amung kurang wolung ari kang kadulu, Tamating pati patitis, Wus katon neng lokil makpul, Angumpul ing madya ari, Amerengi Sri Budha Pon.”

Artinya: Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah ditentukan waktunya. Jelas tertulis di Laufil Magfuz. Kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

Pada bait yang ke 18:

“Tanggal kaping lima antarane luhur, Selaning tahun Jimakir, Taluhu marjayeng janggur, Sengara winduning pati, Netepi ngumpul sak enggon.”

Artinya: Tanggal 5 bulan Sela tahun Jimakir Wuku Tolu, Windu Sengara, kira-kira waktu Lohor. Ketika matahari tepat di tengah-tengah. Tiada mungkin mengangguhkan kematian. Itulah saat yang ditentukan Ki Pujangga menyatu dalam Ketunggalan, sebagaimana diterangkan dalam Serat Sabdo Jati.

Waktu yang ditentukan itu adalah tanggal 5 Bulan Sela (Dulkangidah) Tahun Jimakir Wuku Tolu Sindu Senggara dalam perhitungan Tahun Saka, bertepatan dengan tanggal 24 Desember tahun 1873 Masehi, kira-kira pada tengah hari (waktu Lohor) Ronggo Warsito akhirnya meninggal dunia.

Baca Juga :  Perhatian Ulama Salaf terhadap Malam Nisfu Sya’ban

Ronggowarsito dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Makamnya pernah dikunjungi dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Gus Dur pada masa mereka menjabat.

Bagi Rangga Warsito mengetahui hari tanggal dan kematiannya sendiri bukanlah hal yang mustahil, karena yang memberitahu itu adalah Allah kepada hambanya yang istiqamah dan tekun dalam lelaku atau mujahadah.

Sebagaimana di ketahui Ronggo Warsito mulai kecil sudah suka olah rasa. Sejak kecil, Raden Bagus Burhan mengaji kepada Kiai Hasan Besari, di pesantren Gebang Tinatar kawasan Ponorogo. Beliau mendapatkan ilmu tasawuf dari dua sumber, yang pertama ajaran tasawuf yang bersumber dari Walisanga, sedangkan yang kedua bersumber dari Syekh Siti Jenar.

Karya-karya Ronggowarsito berjumlah lebih dari 50 karangan. Di antaranya: Serat Hidayat Jati, Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Jayengbaya, Serat Kalathida, Serat Panitisastra, Serat Pandji Jayengbaya, Suluk Saloka Jiwa, Serat Paramayoga, dan beberapa karya lain.

Ronggowarsito menyampaikan nilai-nilai sufi dalam beberapa karya pentingnya: Serat Hidayat Jati, Suluk Jiwa (Suluk Saloka Jiwa), Serat Pamoring Kawulo Gusti, dan Suluk Lukma Lelana.

Dalam Serat Hidayat Jati Ronggo Warsito menjelaskan bagaimana tata cara ketemu dengan Sejatidiri atau yang disebut juga dengan Guru Sejati. Setelah ketemu dengan Sejatidiri tahap berikutnya adalah menyatu dengan Sejatidiri sebagaimana tertulis dalam Serat Hidayat Jati

Orang-orang yang sudah menyatu dengan Sejatidirinya, maka akan dibimbing jalan hidupnya untuk berbakti dan  selalu ingat kepada Tuhan. Maka tidak aneh sekelas Ronggo Warsito mempunyai kelebihan mengetahui peristiwa sebelum kejadian atau yang di sebut ” Weruh sakdurunge winarah”.

Begitu juga bisa melihat dan mengetahui kejadian masa depan, termasuk tentang kapan dirinya meninggal dunia dengan tepat, tanggal, hari dan jamnya. Semua itu bisa diketahui karena diberitahu dan diajari oleh sejatidiri atau Guru Sejati yang ada di dalam diri sendiri, yang wujudnya sama dengan kita, tapi dia lebih ganteng atau cantik dan bercahaya.

Baca Juga :  Di tengah Merebaknya Paham Radikal, Mbah Maimoen Zubair Tekankan Pesan-Pesan Kebangsaan Ini

Bagi kalangan pesantren dan pengikut tarekat peristiwa seseorang yang bisa mengetahui tentang kematiannya sendiri bukanlah hal yang aneh dam mustahil. Banyak kalangan Kiyai yang soleh serta orang yang istiqamah dalam dzikirnya akhirnya dibukakan dan diberitahu tentang peristiwa yang akan terjadi.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here