Riwayat-Riwayat Tentang Makanan di Masa Rasulullah

1
654

BincangSyariah.Com – Pernahkah kita terpikir, apa saja macam-macam makanan di masa Rasulullah? Sebagian umat muslim, mungkin hanya mengetahui kurma saja. Padahal kurma pun dalam hadis-hadis sendiri ada banyak jenisnya, misalnya berdasarkan basah tidaknya. Jika basah, dalam bahasa Arab disebut ruthob, sementara jika kurmanya kering maka disebut tamr.

Tapi sebenarnya, jika kita ingin mengetahui apa saja sebenarnya makanan di masa Rasulullah, maka caranya adalah dengan menelusuri aneka riwayat hadis terkait hal tersebut.

  1. At-Tsariid

at-Tsariid masakan yang dibuat dari campuran sayuran dan daging dan dicampur dengan roti gandum yang dipotong-potong. Rasanya gurih dan kuahnya kental. Nabi Saw. disebut-sebut sangat menyukai makanan ini, hingga beliau pernah menganalogikan bahwa keutamaan Aisyah dibandingkan perempuan lain, layaknya nikmatnya tsariid dibanding makanan yang lain. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw. bersabda,

كمل من الرجال كثير ولم يكمل من النساء إلا مريم بنت عمران وآسية امرأة فرعون وفضلُ عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام

lelaki yang sempurna itu banyak. Tapi yang sempurna dari perempuan tidak banyak, kecuali Maryam binti ‘Imran dan Asiyah istri Fir’aun. Dan kelebihan Aisyah dibanding perempuan yang lain seperti enaknya Tsariid dibanding makanan yang lain. (Muttafaqun ‘Alaih)

Menurut Imam An-Nawawi, penyamaan tsariid dengan Aisyah terletak dari sisi sopan santun dan manisnya beliau dalam berbicara, lugas, cerdas, sehingga membuat Nabi Saw. sendiri merasa senang layaknya beliau begitu menyukai tsariid yang lezat.

  1. At-Talbinah

Makanan ini pernah disebut-sebut dalam salah satu riwayat hadis Nabi Saw. Saw. At-Talbinah pernah disarankan oleh Aisyah Ra. untuk dihidangkan untuk keluarga yang baru saja ditinggal wafat oleh salah seorang keluarganya.

Baca Juga :  Kisah Nabi Muhammad Berziarah ke Makam Ibunya

عن عائشة -رضي الله عنها- أنها كانت إذا مات الميت من أهلها واجتمع لذلك النساء ثم تفرقن إلى أهلهن أمرت ببرمة من تلبينة فطُبخت وصنعت ثريداً ثم صبت التلبينة عليه، ثم قالت: كلوا منها فإني سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “التلبينة مُجِمّة لفؤاد المريض تذهب ببعض الحزن

Dari ‘Aisyah Ra., bahwasanya beliau pernah dalam kondisi ada seseorang yang ditinggal wafat oleh suaminya, lalu para wanita berkumpul di rumah istri mendiang laki-laki tersebut dan mereka kemudian pulang. Aisyah Ra. kemudian memerintahkan wanita itu untuk membuat sepanci (Arab: burmah) talbinah untuk keluarga yang kepala keluarganya wafat itu. Lalu dimasaklah dan dibuat juga tsarid kemudian talbinah dituangkan ke “tsarid” tersebut. Kemudian Aisyah Ra. berkata: “makanlah ini, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “at-Talbinah itu menguatkan orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesedihan.”

Lalu apa itu at-Talbinah? Sampai saat ini, at-Talbinah masih sering dihidangkan khususnya di Timur Tengah. Sebagian ulama mengkategorikannya sebagai bagian dari obat (At-Thibbun An-Nabawi). Disebut demikian karena teksturnya disebut mirip dengan susu. At-Talbinah adalah sejenis bubur yang terbuat dari tepung gandum, yang dicampurkan dengan air, dan ditambahkan dengan susu dan madu dan dimasak dengan api kecil. Dari gambaran di hadis tersebut, wajar jika Nabi Saw. berkata demikian karena dilihat dari komposisinya, gandum yang dicampurkan susu dan madu jelas bisa dikatakan makanan yang bergizi, bahkan bisa memberi energi bagi orang yang sedang sakit.

  1. As-Sawiq

Mengutip dari berbagai sumber, sawiq sebenarnya makanan yang jarang dimakan. Disebut-sebut. Bahkan ada yang menyebut, biasanya bahan dasarnya bahkan disajikan untuk burung. As-Sawiq juga merupakan sejenis bubur yang terbuat dari bahan dasar yang mengandung karbohidrat seperti gandum. Ia bisa disajikan dalam bentuk kering, atau encer dengan ditambahkan sedikit air, ditambahkan dengan mentega yang dibuat dari lemak hewan (biasanya kambing). Rasulullah Saw. pernah memakannya dalam sebuah perjalanan jauh ketika hanya ada makanan tersebut.

Baca Juga :  Keutamaan Mengambil Makanan yang Jatuh

عن بشير بن يسار مولى بني حارثة أن سويد بن النعمان أخبره أنه خرج مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام خيبر حتى إذا كانوا بالصهباء وهي أدنى خيبر فصلى العصر ثم دعا بالأزواد فلم يؤت إلا بالسويق فأمر به فثري فأكل رسول الله صلى الله عليه وسلم وأكلنا ثم قام إلى المغرب فمضمض ومضمضنا ثم صلى ولم يتوضأ.

Dar Basyir bin Yasar, mantan budak Bani Haritsah, bahwasanya Suwaid bin Nu’man menceritakan bahwasanya ia pernah pergi bersama Rasulullah pada tahun pendudukan Khaibar. Ketika mereka sampai di tempat bernama Shahba’ (wilayah dekat dengan Kahibar), beliau mengerjakan shalat ashar.Rasulullah Saw. kemudian minta diambilkan makanan dari perbekalan, namun mereka tidak mendapati apapun kecuali as-Sawiq. Beliau lalu memerintahkan untuk menghidangkannya, lalu ia diencerkan (sehingga seperti bubur), lalu Rasulullah Saw. makan bersama dengan kami. Beliau lalu setelah itu berdiri untuk shalat Maghrib, lalu kumur-kumur dan beliau shalat tanpa berwudhu kembali. (H.R al-Bukhari).

  1. Al-Aqitth

Makanan ini juga terbuat dari susu yang sudah difermentasi dan dikeringkan, dan dibentuk bulat-bulat (sebesar bakso). Kemudian dijemur kembali di bawah sinar matahari sampai benar-benar mengeras dan kering. Biasanya dimakan dengan kurma, atau diencerkan kembali ketika dibutuhkan. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah menerima hadiah ini dari sepupu Abdullah bin ‘Abbas ra.

أهدت خالتي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ضبابا وأقطا ولبنا فوضع الضب على مائدته فلو كان حراما لم يوضع وشرب اللبن وأكل الأقط

Sepupuku menghadiahkan kepada Nabi Saw. dhobb (bentuknya seperti kadal, hidup di padang pasir), aqitth, dan laban (dalam riwayat lain, saman/minyak dari lemak unta). Nabi saw. pun tetap menghindangkan dhobb di meja makannya (meskipun tidak dimakan, dalam riwayat lain disebut: merasa jijik) namun kalau dhobb itu haram, Nabi Saw. tak mungkin menghidangkannya, lalu meminum susunya dan memakan al-aqitth.

Demikian diantara riwayat-riwayat tentang makanan-makanan yang pernah dikonsumsi oleh Rasulullah Saw., dan ini belum seluruhnya disebutkan. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here