Riwayat Penyaliban Yesus dalam Literatur Tafsir Modern

0
1133

BincangSyariah.Com – Yesus Kristus dalam literatur kesejarahan merupakan sosok yang misterius baik dilihat dari segi kelahiran maupun dari segi kematiannya. Terutama yang sering menjadi diskursus hangat sampai saat ini di kalangan tiga agama besar; Yahudi, Kristen dan Islam, ialah soal penyalibannya. Bagi Yahudi dan Kristen, Yesus benar-benar disalib di tiang salib.

Penyaliban Yesus, bagi mereka, merupakan peristiwa sejarah yang tak terbantahkan meski kedua agama ini memandang proses penyaliban tersebut dari perspektif yang berbeda. Bagi Yahudi, penyaliban dianggap sebagai bentuk kehinaan yang harus dialaminya sebagai pengacau masyarakat.

Penyaliban di masa Romawi saat itu merupakan salah satu bentuk hukuman bagi para kriminal kelas rendah. Sedangkan bagi Kristen, penyaliban dianggap sebagai proses penebusan dosa manusia.

Sementara itu, Islam, memiliki posisinya tersendiri dalam melihat peristiwa penyaliban Yesus. Posisi Islam ini terekam dalam Q.S. 4: 157.

Ayat ini kira-kira terjemahannya demikian: “Orang-orang Yahudi sebenarnya tidaklah membunuh dan menyalibkan Yesus melainkan tampak seolah demikian.” Maksudnya tampak seolah-seolah Yesus dibunuh dan disalib.

Paling tidak di kalangan para teolog muslim sendiri ada tiga teori berkenaan dengan tafsir atas proses penyaliban ini; pertama, teori substitusi, yakni Yesus tidak disalib namun posisinya digantikan dengan Yudas, muridnya yang berkhianat dan dalam riwayat yang lain digantikan oleh Simon of Cyrene, muridnya yang rela menggantikan posisinya untuk disalib. Teori ini sebenernya banyak dipegang oleh para ulama tafsir klasik.

Ibnu Kasir misalnya dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzhim berpandangan bahwa proses penyaliban memang terjadi namun bukan Yesus yang disalib melainkan ada pribadi lain yang menggantikan posisinya.

Sebenarnya teori substitusi dalam penyaliban Yesus ini bisa dikatakan sebagai legenda karena tidak ada dalam al-Quran dan hadis-hadis sahih. Teori ini muncul dari pandangan yang mencoba mensinergikan antara penolakan al-Quran terhadap penyaliban dan deskripsi Injil yang menegaskan penyaliban.

Baca Juga :  Imam Bukhari: Ahli Hadis yang Dirindukan Rasulullah Saw. (W. 256 H.)

Kedua, teori pingsan atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan swoon theory. Dalam teori ini, Yesus benar-benar disalib namun setelah disalib, beliau pingsan atau pura-pura mati. Ketika jasadnya ditaruh di gua, tiga hari kemudian, Yesus bangkit lagi dari gua kuburannya dan pergi ke Galilea dalam keadaan tersembunyi bersama murid-muridnya. Konon beliau juga berpura-pura menjadi tukang kebun agar tidak diketahui oleh orang-orang.

Pasca penyalibannya ini, Yesus selalu menyembunyikan identitasnya karena takut akan penangkapan. Pandangan ini kemudian dipegang oleh Muhammad Ali dalam The Holy Qur’an-nya. Bagi Ali, ayat yang berbunyi wa ma qataluhu wa ma salabuhu tidak menegasikan bahwa Yesus disalib.

Ayat ini mengandung arti bahwa Yesus memang disalib namun tujuan dari penyaliban yang berupa kematiannya tersebut tidak terjadi. Untuk membuktikan argumennya ini, Muhammad Ali mengkronologikan kembali kisah-kisah yang ada dalam Injil Matthius, Lukas, Markus dan Yohannes dan kemudian memperjelas makna syubbiha lahum dalam ayat tersebut.

Ketiga, teori mitraistik, yakni bahwa Yesus memang disalib dan dibangkitkan kembali untuk kemudian setelah lama wafatnya muncul keyakinan di kalangan Kristen mengenai dosa asal yang hanya dapat ditebus lewat penyalibannya. Teori penebusan dosa dengan salib ini sebenarnya menjadi keyakinan agama mitraistik yang saat itu dominan muncul di kerajaan Romawi.

Berangkat dari kata syubbiha li yang semakna dengan khuyyila li yang artinya terimaginasikan atau kenyataan tampak seperti bayang-bayang imaginatif, Asad kemudian menafsirkan bahwa tafsir yang masuk akal atas ayat ini ialah bahwa syubbiha lahum ditafsirkan sebagai munculnya keyakinan akan penyaliban sebagai simbol penebusan dosa di kalangan orang Kristen selang beberapa lama setelah peristiwa penyaliban sendiri terjadi.

Keyakinan dosa asal dan penyaliban ini muncul pasca Kristen terpengaruh oleh ajaran mitraistik. Pandangan demikian, meski masih ambigu, dipegang oleh Muhammad Asad.

Baca Juga :  Tradisi Nyadran, Bagaimana Hukumnya?

Ketiga teori ini sebenarnya merupakan hasil dari penafsiran terhadap kata wa ma qataluhu wa ama salabuh wa lakin syubbiha lahum (mereka tidak membunuh dan tidak menyalib Yesus, melainkan tampak seolah seperti demikian/dibunuh dan disalib). Untuk teori yang pertama, yakni teori susbtitusi, menafsirkan bahwa syubbihha lahum sama dengan makna yatashabaha bi- (dijadikan mirip dengan).

Berangkat dari sini kemudian diciptakanlah riwayat yang kemungkinan besar diadopsi dari ajaran Injil riwayat Basilidan, Docetae, Barnabas. Tiga riwayat ini mengatakan bahwa Yesus posisinya digantikan oleh orang lain.

Jadi teori subtitusi yang dipegang oleh ulama muslim klasik ini diambil dari sekte Kristen yang non-kanonik, atau Kristen bidah. Asad bahkan menyebutnya sebagai legenda yang tidak ada rujukannya dalam al-Quran dan hadis-hadis sahih.

Dari tiga pendapat ini, ternyata yang paling menarik adalah pandangan Muhammad Ali dan Muhammad Asad. Dan saya kira pandangan kedua penafsir Quran ini lebih rasional dan  sesuai dengan data-data kesejarahan meski dalam terkadang masih sangat ambigu dan perlu diperjelas lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.