Riwayat Penyaliban Yesus dalam Literatur Tafsir Modern

0
1838

BincangSyariah.Com – Yesus Kristus dalam literatur kesejarahan merupakan sosok yang misterius baik dilihat dari segi kelahiran maupun dari segi kematiannya. Terutama yang sering menjadi diskursus hangat sampai saat ini di kalangan tiga agama besar; Yahudi, Kristen dan Islam ialah soal penyalibannya. Bagi Yahudi dan Kristen, Yesus benar-benar disalib di tiang salib.

Penyaliban Yesus, bagi mereka, merupakan peristiwa sejarah yang tak terbantahkan meski kedua agama ini memandang proses penyaliban tersebut dari perspektif yang berbeda. Bagi Yahudi, penyaliban dianggap sebagai bentuk kehinaan yang harus dialami Yesus sebagai pengacau masyarakat.

Penyaliban di masa Romawi saat itu merupakan salah satu bentuk hukuman bagi para kriminal, provokator atau penjahat kelas rendah. Sedangkan bagi Kristen, penyaliban dianggap sebagai proses penebusan dosa manusia.

Sementara itu, Islam, memiliki posisinya tersendiri dalam melihat peristiwa penyaliban Yesus. Posisi Islam ini terekam dalam Q.S. 4: 157. Ayat ini kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang Yahudi sebenarnya tidaklah membunuh dan menyalibkan Yesus melainkan tampak seolah demikian. Maksudnya tampak seolah-seolah Yesus dibunuh dan disalib.

Paling tidak di kalangan para teolog muslim sendiri ada tiga teori berkenaan dengan tafsir atas proses penyaliban ini; pertama, teori substitusi, yakni Yesus tidak disalib namun posisinya digantikan oleh Yudas Iskariot, murid Yesus yang dalam riwayat tertentu telah berkhianat. Dalam riwayat yang lain, posisi Yesus digantikan oleh Simon of Cyrene. Beliau merupakan murid Yesus yang rela menggantikan posisinya untuk disalib.

Teori ini sebenarnya banyak dipegang oleh para ulama tafsir klasik. Ibnu Kathir misalnya dalam Tafsir al-Quran al-Adzhim berpandangan bahwa proses penyaliban memang terjadi namun bukan Yesus yang disalib melainkan ada pribadi lain yang menggantikan posisinya.

Baca Juga :  Menunggu Ajal

Sebenarnya teori substitusi dalam penyaliban Yesus ini dapat dikatakan sebagai legenda karena tidak ada ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis sahih yang menjelaskan proses substitusi Yesus dengan sosok lain dari kalangan muridnya sendiri.

Jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya teori ini muncul dari pandangan yang mencoba mensinergikan antara penolakan al-Quran terhadap doktrin penyaliban sebagai penebusan dosa dan deskripsi Injil yang menegaskan penyaliban sebagai proses penebusan dosa.

Selain teori substitusi, ada juga teori yang kedua, yakni teori pingsan atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan swoon theory. Dalam teori ini, Yesus benar-benar disalib namun setelah disalib, beliau pingsan atau pura-pura mati. Ketika jasadnya ditaruh di gua, tiga hari kemudian, Yesus sembuh dan bangkit lagi dari gua kuburannya dan pergi ke Galilea dalam keadaan tersembunyi bersama murid-muridnya. Konon beliau juga berpura-pura menjadi tukang kebun agar tidak diketahui oleh orang-orang. Pasca penyalibannya ini, Yesus selalu menyembunyikan identitasnya karena takut akan penangkapan.

Pandangan ini kemudian dipegang oleh Muhammad Ali dalam The Holy Quran-nya. Bagi Ali, ayat yang berbunyi wa ma qataluhu wa ma salabuhu tidak menegasikan bahwa Yesus disalib. Ayat ini bagi Muhammad Ali mengandung arti bahwa Yesus memang disalib namun tujuan dari penyaliban yang berupa kematiannya tersebut tidak terjadi.

Untuk membuktikan argumennya ini, Muhammad Ali mengkronologikan kembali kisah-kisah yang ada dalam Injil Matthius, Lukas, Markus dan Yohannes dan kemudian memperjelas makna syubbiha lahum dalam ayat tersebut sebagai bukan substitusi Yesus dengan sosok lainnya melainkan dapat ditafsirkan pula sebagai kesamar-samaran mengenai mati atau tidaknya Yesus melalui penyaliban tersebut.

Teori lainnya yang tak kalah menariknya dengan teori pertama dan kedua ialah teori mitraistik, yakni bahwa Yesus memang disalib dan dibangkitkan kembali untuk kemudian setelah lama wafatnya muncul keyakinan di kalangan Kristen mengenai dosa asal yang hanya dapat ditebus lewat proses penyaliban Yesus, sebuah keyakinan yang tidak muncul di awal-awal kekristenan. Teori penebusan dosa dengan salib ini sebenarnya mengadopsi keyakinan agama mitraistik yang pagan yang saat itu sangat dominan muncul di kerajaan Romawi.

Baca Juga :  Bahaya serta Manfaat Lidah dan Hati

Berangkat dari kata syubbiha li yang semakna dengan frase khuyyila li yang artinya terimaginasikan, disamarkan atau dibuat absurd, Asad kemudian mengajukan pandangan bahwa pemahaman yang masuk akal atas frase syubbiha lahum ialah munculnya keyakinan akan penyaliban sebagai simbol penebusan dosa di kalangan orang Kristen selang beberapa lama setelah peristiwa penyaliban sendiri terjadi. Keyakinan ini berangkat dari absurditas peristiwa penyaliban Yesus di kalangan Yahudi dan Kristen sendiri (wa ma qataluhu yaqina).

Bagi Asad, keyakinan dosa asal dan penyaliban ini muncul pasca Kristen terpengaruh oleh ajaran mitraistik, ajaran yang mengenal adanya tradisi pengorbanan manusia sebagai penebusan dosa. Pandangan demikian, meski masih ambigu dalam pemaparannya, dipegang oleh Muhammad Asad.

Ketiga teori ini sebenarnya merupakan hasil dari penafsiran terhadap kata wa ma qataluhu wa ama salabuh wa lakin syubbiha lahum yang artinya (mereka tidak membunuh dan tidak menyalib Yesus, melainkan tampak seolah seperti demikian/dibunuh dan disalib) atau (mereka tidak membunuh dan tidak menyalib Yesus melainkan peristiwa pembunuhan dan penyaliban Yesus ini dibikin absurd tafsirnya).

Untuk teori yang pertama, yakni teori susbtitusi, menafsirkan bahwa syubbihha lahum sama dengan makna yatashabaha bi- (dijadikan mirip dengan). Berangkat dari sini kemudian diciptakanlah riwayat yang kemungkinan besar diadopsi dari ajaran Injil riwayat Basilidan, Docetae, Barnabas yang mengatakan bahwa Yesus posisinya digantikan oleh orang lain.

Jadi teori subtitusi yang dipegang oleh ulama muslim klasik ini diambil dari sekte Kristen yang non-kanonik, atau Kristen bidah. Asad bahkan menyebutnya sebagai legenda yang tidak ada rujukannya dalam al-Quran dan hadis-hadis sahih.

Dari tiga pendapat ini, ternyata yang paling menarik adalah pandangan Muhammad Ali dan Muhammad Asad. Dan saya kira pandangan kedua penafsir Quran ini lebih rasional dan sesuai dengan data-data kesejarahan meski dalam pemaparannya masih sangat ambigu dan perlu diperjelas lagi. Dua ulama tafsir modern ini paling tidak menawarkan sebuah perspektif baru dalam menafsirkan kisah penyaliban Yesus dalam al-Quran yang bersandarkan kepada fakta-fakta kesejarahan.

Baca Juga :  Menelaah Tafsir Keliru tentang Kesesatan Nabi Muhammad

Tidak seperti ulama tafsir klasik yang terkadang menawarkan penafsiran yang sifatnya legenda dalam menarasikan penyaliban Yesus, Ali dan Asad mendasarkan pandangan mereka terhadap narasi-narasi kesejarahan dari berbagai literatur untuk kemudian mengkonstruk tafsir baru yang sangat sesuai dengan argumen-argumen rasional.

Namun terlepas dari tafsir disalib atau tidaknya Yesus, al-Quran pada prinsipnya menolak peristiwa penyaliban Yesus ini sebagai penebusan dosa seluruh umat manusia. Bagi al-Quran dosa merupakan tanggung jawab individu yang tidak bisa ditawar-tawar dan individu dalam al-Quran harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya di dunia.

Dengan kata-kata lain, yang ditolak al-Quran bukan soal disalib atau tidaknya Yesus, melainkan tafsiran atas penyalibannya sebagai proses penebusan dosa umat manusia yang seolah menghilangkan tanggung jawab individu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here