Ritual Ngunjung di Sekitar Cirebon: Sinergi Agama dan Budaya Lokal

0
1226

BincangSyariah.Com – Agama ibarat ruh yang datang dari langit, sedangkan budaya adalah jasad bumi yang siap menerima ruh agama. Ruh tidak dapat beraktivitas dalam pelataran sejarah tanpa peran jasad, sedangkan jasad akan mati dan tak sanggup terbang menggapai langit-langit makna Ilahi tanpa ruh agama. Pertemuan keduanya kemudian melahirkan peradaban. Demikianlah perumpamaan yang diberikan Komaruddin Hidayat (2003) dalam memandang hubungan agama dan budaya lokal. Masing-masing ibarat dua keping mata uang yang niscaya saling melengkapi dan mengisi.

Perumpamaan yang diberikan Komaruddin Hidayat di atas benar belaka, meskipun dalam beberapa kasus, perjumpaan dan dialektika antara keduanya (agama dan budaya) tak selalu mulus. Di beberapa tempat di Nusantara (dan dunia), peran dan kontrol agama terhadap budaya amat ketat, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat selalu bersifat “hitam-putih.” Puritanisasi agama begitu mendominasi. Praktik-praktik sosio-religius yang tidak sesuai dengan ajaran Islam versi mazhab ini dianggap bidah, syirik, dan sesat. Di sini, agama dan budaya ibarat air dan minyak.

Sementara itu, kita juga banyak menemukan model kehidupan beragama yang ideal seperti dicontohkan Komaruddin Hidayat di atas. Perjumpaan agama dengan budaya lokal amat mesra hingga timbullah praktik-praktik agama yang berkelindan dengan kultur dan adat setempat. Di sini, agama berparas ramah, memberikan ruh keilahian terhadap budaya lokal. Sebaliknya, budaya lokal pun menyerap pengaruh agama dengan tangan terbuka hingga tercipta nuansa budaya yang agamis dan manusiawi. Tak ada tembok penghalang antara agama dan budaya. Keduanya dapat hidup dalam harmoni. Bentuk kehidupan beragama seperti ini dapat kita temukan di banyak tempat di Nusantara, dan salah satunya ada di Cirebon.

Cirebon yang terletak di pesisir utara Jawa adalah salah satu kota tertua dan terpenting di Jawa Barat. Keberadaannya sebagai wilayah pesisir penghubung Jawa bagian barat dan tengah menjadikan masyarakat kota ini mengalami proses hibriditas sosial budaya yang kemudian memunculkan beragam ekspresi budaya yang menarik. Pengaruhnya pun menyebar ke daerah lain di sekitarnya seperti Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Di antara khazanah budaya yang ada di daerah ini, terdapat satu ritual menarik yang disebut Munjung atau Ngunjung.

Baca Juga :  Abi Syuja’: Penulis Kitab Taqrib yang Terlupakan

Bentuk ritual ini adalah ziarah bersama ke makam buyut leluhur kampung, sebagai satu wujud penghormatan. Tak seperti ritual ziarah kubur di wilayah Jawa lainnya yang biasanya dilakukan pada bulan Ruwah atau Syaban, ritual Ngunjung ini dilakukan pada bulan Sura atau Muharam.

Masyarakat daerah ini menyadari bahwa menjaga hubungan dengan para buyut leluhur adalah satu hal yang penting, meski tak semua di antara mereka punya hubungan darah. Bagi mereka, buyut leluhur adalah orang yang sangat berjasa yang dahulu kala membuka kampung dan menurunkan serta menanamkan tata nilai agama, adat, dan pengetahuan kultural kepada masyarakat. Selain sebagai bentuk penghormatan (kepada leluhur), ritual ini juga sebagai simbol permohonan doa kepada Tuhan agar rezeki yang diberikan melimpah, seiring dengan musim tanam yang akan tiba.

Setidaknya terdapat tiga buyut leluhur yang terkenal di daerah ini, yaitu, pertama, Sunan Gunungjati di Desa Astana, Gunungjati, Cirebon; Kedua, Ki Buyut Trusmi di daerah Plered, Cirebon; Dan ketiga, Ki Buyut Tambi, di Sliyeg, Indramayu. Di ketiga makam buyut inilah setiap tahunnya pada bulan Sura diadakan ritual Ngunjung yang dihadiri ribuan pengunjung. Di kampung-kampung lain, rata-rata juga memiliki buyut leluhur sendiri yang dihormati dan diziarahi, misalnya di Bongas, Majalengka.

Beberapa hari sebelum ritual Munjung, masyarakat bergotong royong membersihkan dan merapikan kompleks makam. Saat tiba hari ritual, masyarakat menggelar tikar di kompleks makam, dan berdoa bersama. Usai tahlil dan doa, acara tumpengan dan santap bersama pun dilakukan. Setiap keluarga membawa makanan dan jajanan, lalu dikumpulkan dan disantap bersama. Saling memberi, saling berbagi. Semangat kebersamaan dan gotong royong kental terasa. Dan yang menarik, rangkaian acara Ngunjung ini juga berisi pertunjukan seni tradisi yang meriah. Masyarakat menanggap kelompok-kelompok seni tradisi di lingkungan mereka untuk menampilkan kreasi seni berupa tari, musik, dan wayang.

Baca Juga :  Rukun Islam dalam Tokoh Wayang Kulit Pandawa Lima

Pada ritual Ngunjung pada 22 September 2018 di Desa Bongas Wetan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, misalnya, aktivis budaya setempat menampilkan pertunjukan tari topeng dari pagi hingga siang hari, dan wayang kulit pada malam harinya. Ritual Ngunjung yang berhubungan dengan ziarah makam (identik dengan kematian dan kesedihan), tak lantas sepenuhnya diisi dengan hal-hal yang muram dan serius, tapi juga hal-hal yang menyenangkan dan rekreatif berupa pertunjukan seni. Ritual ini seakan menjadi oasis bagi masyarakat setempat.

Di Tambi, Indramayu, ritual ini juga dirayakan selama seminggu penuh pada 17-23 September 2018, menampilkan berbagai kegiatan seperti lomba voli dan lari marathon, kerja bakti, pengajian umum, dan tentu saja, pertunjukan seni tradisi berupa sandiwara Candra Kirana dan wayang kulit purwa. Tak ketinggalan pasar malam turut meramaikan ritual ini. Masyarakat diperkenankan membuka lapak-lapak kecil untuk menjajakan dagangannya berupa kuliner lokal, pernak-pernik pakaian, dan lain-lain. Ribuan pengunjung hadir untuk mengikuti ritual atau sekadar jalan-jalan cuci mata dan piknik menikmati hiburan kesenian.

Di Cirebon, tepatnya di Makam Gunungjati, ritual ini juga dirayakan dengan besar-besaran pada 23 September 2018. Makam Gunungjati adalah salah satu makam keramat di Jawa dan menjadi destinasi para peziarah Wali Songo. Di sini, ritualnya dinamakan Nadran dan Sedekah Bumi dan Laut. Aneka kegiatan diadakan seperti melarung sesajen hasil pertanian dan kepala kerbau ke laut, sebagai tanda terima kasih atas hasil pertanian dan laut. Pada siang harinya, diselenggarakan kirab budaya atau ider-ideran dengan menampilkan berbagai macam “ogoh-ogoh” atau karya seni berupa patung besar yang berbentuk karakter-karakter wayang, tokoh sejarah, makhluk mitologis, binatang, dan lain-lain.

Ribuan masyarakat berjejer di pinggir jalan menonton pawai yang memiliki rute dari Kompleks Makam Gunungjati hingga bundaran Taman Krucuk, sejauh enam kilometer. Pada malam harinya, di halaman depan makam, dipentaskan pertunjukan wayang kulit dan tarling.

Baca Juga :  Kisah Nadhr bin Harits, Minta Diazab Dihadapan Rasulullah

Tampak terlihat dalam konteks tradisi Ngunjung dan Nadran ini, elemen kesenian tidak berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukan panggung atau lapangan yang artifisial, melainkan menjadi bagian integral dari ritual kehidupan masyarakat. Agama, adat, dan kesenian berdialektika dan bersenyawa, melahirkan bentuk kebudayaan yang khas dan menarik. Manifestasi Islam rahmatan lil alamin dalam konteks ini pun menemukan bentuknya yang nyata.

Referensi: Artikel “Dialektika Agama dan Budaya” karya Komaruddin Hidayat dalam buku “Sinergi Agama dan Budaya Lokal, 2003, Surakarta: Muhammadiyah University Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here