Risalah Al-Ladunniyyah dan Cara Al-Ghazali Membantah Kaum Rasionalis

0
1986

BincangSyariah.Com – Salah satu karya penting perihal dunia mistikus Islam dari cendekiawan Islam abad pertengahan, Imam Al-Ghazali, adalah Risalah Al-Ladunniyyah. Sesuai judulnya, kitab ini merupakan kajian khusus yang membahas secara spesifik tentang ilmu yang diistilahkan sebagai ilmu laduni. Sebuah ilmu yang banyak dipercaya oleh kalangan sufi sebagai ilmu yang dapat diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar.

Meski relatif tipis, hanya berkisar 38 halaman. Akan tetapi, dalam segi bobot kitab ini menunjukkan akan kualitas sang pengarang sebagai orang yang memiliki pengetahuan sangat luas dalam segala bidang. Analisanya tentang ilmu laduni hampir mencakup segala aspek; filsafat; teologi; tafsir; bahasa dan lain sebagainya.

Dalam pembukanya, sebagaimana dalam kitab karangan beliau yang lain, Imam Al-Ghazali memaparkan kronologi mengapa ia membuat karya dengan tema yang akan dibahasnya. Beliau menjelaskan, buku ini lahir dari keresahannya terkait sanggahan beberapa intelektual atas ilmu laduni. Tidak sedikit dari kalangan intelek yang tidak memercayai adanya ilmu —yang mungkin dalam sudut pandang mereka— sangat tidak rasional ini.

Namun, di sisi lain, juga tidak sedikit dari kalangan sufi yang percaya adanya ilmu laduni. Bahkan lebih dari itu, mereka berkesimpulan bahwa ilmu laduni lebih valid dibanding ilmu yang dapat diperoleh melalui proses belajar.

Atas dasar dialektika ini, Imam Al-Ghazali pada akhirnya membuat karya yang spesifik mengulas tentang tema ini.

Sebagai sosok yang berkecimpung dalam dunia intelektual dan mistikus Islam sekaligus, Imam Al-Ghazali tidak serta mengingkari adanya ilmu laduni sebagaimana intelek lainnya. Namun, ia lebih memilih berada di garda tasawuf —sebagai jalan terakhir yang ia pilih dalam pengembaraan pemikirannya— untuk membela apa yang dipercaya oleh kelompok sufi.

Baca Juga :  Agar Debat Publik Sehat, Perhatikan Tips Al-Ghazali Ini

Tasawuf adalah puncak dari perjalanan intelektual Imam Al-Ghazali. Setelah berkutat pada fiqh, teologi, filsafat kemudian pada akhirnya beliau mengakhirinya dengan mendalami ilmu tasawuf.

Karena penguasaannya pada kedua bidang tersebut (mistikus dan rasional), Imam Al-Ghazali, dalam hal ini sempat menyinggung kaum intelek perihal sikap penolakannya terhadap ilmu laduni yang tentu belum mereka ketahui seluk-beluknya.

Imam Al-Ghazali mengatakan: “Sudah menjadi hal yang lumrah, bahwa seseorang akan cenderung menolak sesuatu yang ia tidak ketahui. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin mereka dapat menerima ilmu laduni, sementara mereka sama sekali belum pernah merasakan hakikat dan menelaah ilmu ini”.

Dalam menjelaskan ilmu laduni ini, Imam Al-Ghazali membagi penjelasannya dalam beberapa pasal. Terdapat sekitar 5 pasal yang masing-masing pasal merupakan premis untuk mengukuhkan argumen adanya ilmu laduni serta menyanggah kaum rasionalis yang mengingkarinya.

Ketika membantah, Imam Al-Ghazali terlihat dalam membangun argumen-argumennya dengan menggunakan cara berpikir kaum rasionalis. Imam Al-Ghazali mengulas tentang definisi ilmu, pembagian serta yang berkaitan dengan tema melalui bahasa dan istilah yang biasa digunakan oleh mereka.

Pada pasal pertama, Imam Al-Ghazali menjelaskan perihal definisi ilmu. Secara definitif, ilmu dalam pandangan Al-Ghazali merupakan konsepsi jiwa intelegensi (an-nafsu an-nathiqah) atas hakikat sesuatu. Pada pasal selanjutnya, Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan perihal pembagian ilmu dan cara memperolehnya dan dilanjutkan eksplorasi terhadap argumen mengenai ilmu laduni serta eksistensinya.

Namun, ada yang menarik dalam penjelasan Al-Ghazali saat menyinggung bagaimana seseorang bisa memperoleh ilmu. Menurutnya, ilmu diperoleh seseorang melalui jiwa yang oleh ahli disebut dengan istilah yang berbeda-beda. Para filsuf menyebutnya  sebagai nafsu an-nathiqah (jiwa intelegensi). Alquran menyebutnya sebagai nafsu al-muthma’innah (jiwa tenang) atau ruh al-amri, sedangkan para kalangan sufisme menyebutnya sebagai qalb lawan dari nafs (hawa nafsu).

Di sini, terlihat bagaimana Imam Al-Ghazali membangun sebuah argumen bantahan dengan menggunakan bahasa yang digunakan oleh berbagai latar keilmuan yang berbeda. Hal ini menunjukkan keluasan pengetahuan yang dimiliki oleh Imam Al-Ghazali.

Baca Juga :  Cak Nur dan Ajarannya

Dan yang menarik lagi, meski Al-Ghazali berada dalam posisi membela kelompok sufi atas eksistensi ilmu laduni, akan tetapi pembahasan tentang jiwa, Imam Al-Ghazali memahami betul apa yang dimaksud “jiwa” oleh kelompok rasionalis. Ia memberikan uraian bahwa jiwa yang disebut oleh kelompok rasionalis dengan istilah nafsu an-nathiqah, pada dasarnya sama dengan istilah qalb yang dipakai oleh kalangan sufi. Menurut Imam Al-Ghazali, tidak ada perbedaan signifikan dalam hal ini.

Sebagaimana Ibnu Sina yang dijelaskan dengan panjang lebar dalam karyanya berjudul Ahwal An-Nafs, Imam Al-Ghazali juga mengartikan jiwa dengan: substansi ruhani yang memancar kepada raga dan menghidupkannya lalu menjadikannya alat untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu.

Imam Al-Ghazali sadar betul, bahwa untuk memberikan argumen dalam mematahkan sanggahan kaum rasionalis, tentu harus memahami seluk-beluk pengetahuan yang mereka cecap.

Hal ini telah diutarakan ketika menyinggung perihal ilmu teologi dalam kitab ini. Bahwa, Imam Al-Ghazali menyatakan: “meski ilmu ini (tauhid) holistik, namun tidak menafikan kebutuhan pada ilmu lain. Bahkan, musti membutuhkan premis-premis yang melimpah melalui ilmu-ilmu lain seperti ilmu tentang alam semesta dan lain sebagainya, dan dari ilmu inilah muncul berbagai fan keilmuan”

Arkian, melalui kitab tipis ini, setidaknya kita sedikit memahami bagaimana cara Imam Al-Ghazali meneguhkan apa yang dipercaya oleh kelompok dan dirinya pribadi. Tidak cukup kiranya hanya mempelajari satu fan, akan tetapi butuh berbagai pengetahuan yang beragam. Oleh sebab itu, jangan berhenti belajar dan membaca hanya dalam satu bidang saja. Mari kita warisi kekayaan dan cara Imam Al-Ghazali dalam menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah dengan mempelajari berbagai fan keilmuan. Wallahu A’lam bi Sh-Shawab..

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here