Rifa’at at-Tahtawi: Mendorong Gagasan Memajukan Perempuan di Mesir

0
230

BincangSyariah.Com – Kemerdekaan perempuan dalam memperoleh pendidikan di Mesir tidak terlepas oleh peran tokoh, yaitu Rifa’at Badlawi Rafi’ at-Tahtawi. Ia sangat sepenuh hati dalam memperjuangkan hak pendidikan perempuan agar setara dengan laki-laki. Karena sebelum perempuan memperoleh kebebasan pendidikan, sejarah menceritakan, peran perempuan di Mesir nyaris tidak begitu dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat.

Awalnya perjalanan keilmuan at-Tahtawi dari Mesir hingga melanjutkan ke Paris, berawal dari motif politik di Mesir. Akan tetapi gagasan pikiran At-Tahtawi yang cerdas juga ikut diakui di berbagai Negara-negara Islam sebagai tokoh pembaharu Islam. Gagasannya dalam upaya mengembangkan Negara Islam dapat mempengarui tokoh-tokoh pembaharu Islam lainnya, misalnya Muhammad Abduh, dan ia juga termasuk gologan dari konseptor terhadap proses pembaharuan di nagara Mesir.

Utusan Pemerintah Mesir ke Paris

Pada masa At-Tahtawi, pemerintah Mesir sedang berupaya mempertahankan kekuasaan Mesir dari serangan bangsa Eropa. Upaya yang dilakukan ialah dengan memperkuat pertahanan militer. Namun ternyata itu tidak cukup. Kekuatan perekonomian serta kualitas pendidikan juga perlu diperhatikan. Sehingga untuk meningkatkan mutu pendidikan di Mesir, Muhammad Ali Basya yang memegang kepemimpinan Mesir saat itu, menawarkan dengan dua cara, yaitu dengan memanggil ilmuan barat masuk ke Mesir atau dengan mengirimkan beberapa murid dari Mesir untuk belajar di Eropa. Kemudian cara kedua pun disepakati. At-Tahtawi adalah salah satu dari murid yang terpilih untuk diberangkatkan ke Eropa yaitu di Paris. At-Tahtawi diberi tugas untuk belajar bahasa Prancis, dengan begitu ia yang mampu menerjemahkan buku-buku Prancis ke dalam bahasa Arab.

At-Tahtawi sejak kecil sudah mengabdikan dirinya pada ilmu. Ia lahir di Mesir pada tahun 1801 M. Suatu ketika, keluarganya dilanda musibah berupa harta benda keluarga at-Tahtawi di rampas oleh Muhammad Ali. Pada saat itu Muhammad Ali sering merampok harta benda rakyat Mesir dengan tujuan untuk Angkatan Perang. Kemudian biaya pendidikan At-Tahtawi dibantu oleh bibi dan pamannya.

Baca Juga :  Siapakah Dalang Percobaan Pembunuhan Syekh Ali Jum’ah?

Setelah menimba ilmu di Paris, banyak pengalamannya yang ia ceritakan selama di Paris. Salah satu buku yang ia tulis dalam buku Talkhish al-Ibriz fi Takhlish Baaris. Menurut Harun Nasution dalam buku Pembaharuan dalam Islam: Sejarah, Pemikiran, dan Gerakan, lewat pengalaman at-Tahtawi ketika di Paris ia berpendapat bahwa dekadensi moral bukanlah disebabkan oleh pergaulan bebas, akan tetapi harga diri perempuan. Fenomena tersebut menyebabkan at-Tahtawi berpendapat solusi tidak hanya pada membebaskan perempuan yang mengorbakan harga diri mereka, namun bisa dengan pemerolehan pendidikan yang baik untuk perempuan.

Prihatin Dengan Pendidikan Perempuan

Setelah kembali ke Mesir, ia melihat situasi pendidikan perempuan di Mesir sama sekali tidak mendapatkan perhatian yang berarti. Karena ia hidup dalam situasi tersebut, ia berusaha menuangkan gagasannya untuk menembus trobosan baru di Mesir. Beliau berpendapat bahwa kaum ibu harus berpendidikan. Alasannya adalah untuk keselarasan rumah tangga dan dapat mengasuh anak keturunnanya dengan baik Alasan berikutnya adalah agar dapat memperoleh pekerjaan sebagimana laki-laki dalam batas-batas kemmapuannya, ketiga, menghindarkan dari kesepian serta menjaga dari perbincangan yang bukan-bukan dengan tetangga.

Menurut At-Tahtawi, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa menyekolahkan wanita merupakan makruh, berarti orang itu lupa, bahwa Hafsah dan Aisyah istri-istri Nabi Muhammad SAW pandai membaca dan menulis.

Kemudian gagasannya disusul oleh pendapat Qasim Amin pada tahun 1863-1908, yang ia tulis dalam karyanya yang kontroversional. Ada tiga hal yang perlu direkonstruksi, pertama, pendidikan bagi perempuan, kedua, hijab, ketiga,memperbarui hukum keluarga Islam demi memperbaiki peran perempuan dalam keluarga.

Gagasan At-Tahtawi dianggap sebagai tokoh pembaharu Islam. At-Tahtawi berusaha menumpahkan ilmunya yang ia peroleh dari Eropa, dengan mengawinkan ajaran Islam dengan ide-ide Barat Modern. Misalnya terkait masalah ijtihad, masyarakat Mesir menganggap bahwa pintu Ijtihad suda tertutup, namun At-Tahtawi mengatakan masih terbuka. Ia berpendapat bahwa tidak banyak yang berbeda antara prinsip-prinsip hukum Islam dengan prinsip-prinsip hukum alam yang merupakan landasan undang-undang di Barat Modern. hukum Islam dapat ditafsirkan dengan kepentingan kehidupan modern. Pada artikel Arabic Thought in the Liberal Age, karya Albert Hourani, meskipun gagasan-gagasan At-Tahtawi ini tidak langsung di pratikkan dalam Negara Mesir, para tokoh-tokoh pembaharu selanjutnya berusaha menulis dan mengembangkan gagasannya. Sehingga pendapatnya di praktikkan dalam menciptakan sistem yang modern sekaligus seragam mengenai hokum Islam di Mesir dan di tempat-tempat lainnya.

Baca Juga :  Dalil dan Ragam Bacaan Ta’awwudz Sebelum Membaca Al-Qur’an

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here