Ribut Netizen Soal Film The Santri dan Livi Zheng yang Kurang Nyantri

4
758

BincangSyariah.Com – Sejak 9 September 2019, kanal youtube NU Channel menayangkan trailer film The Santri. Hingga 17 September, video trailer tersebut mendapatkan lebih dari 900 ribu penonton, 35 ribu likes, 13 ribu unlikes, dan 8 ribu komentar. Setelah saya telusuri, rata-rata komentar bernada negatif terhadap film yang akan tayang bertepatan dengan hari santri 22 Oktober tersebut.

Saya pribadi tentu saja belum menonton utuh film tersebut. Hanya melihat trailer-nya. Sekilas, saya bisa memahami kenapa orang-orang berkomentar negatif terhadap film tersebut. Saking negatifnya, sampai-sampai Hanif Alathas, menantu Habib Rizieq Shihab, Imam Besar FPI, dengan mengatasnamakan diri sebagai ketua FSI (Forum Santri Indonesia) menyatakan menolak penayangan film tersebut karena tidak memperlihatkan nilai-nilai santri dan tidak menjunjung nilai islam ahlu sunnah wal jamaa’ah.

Penolakan tersebut amat sangat bisa diprediksi. Selama ini kita memang terbiasa melihat apapun yang dilakukan oleh PBNU saat ini, maka akan ditolak oleh mereka yang berada di barisan FPI, NU Garis Lurus, dan lainnya. Setelah biasanya mereka saling tolak-menolak hal-hal berbau politis, rasanya baru kali ini yang menjadi kontroversi adalah soalan non politis. Maklumlah, muslim Pilpres sudah usai, dan musim Pilkada belum juga disemai.

Pasca melihat trailer film “The Santri” setidaknya saya menduga ada dua atau tiga adegan yang menjadi kontroversi, yakni adegan santri putri (diperankan oleh Wirda Mansur) yang curi-curi pandang dengan santri putra (diperankan oleh Gus Azmi), adegan ketika santri putra bertemu berduaan saja dengan santri putri dan memberikan sesuatu sebagai pengingat sebelum mereka berpisah, dan adegan dua orang santri putri yang masuk ke gereja, membawa nasi tumpeng dan mempersembahkannya pada deretan pemuka agama non-muslim.

Baca Juga :  Muslimat NU Penuhi GBK di Harlahnya yang Ke-73

Kenapa adegan-adegan tersebut harus ada? Saya rasa jawabannya adalah karena pertama, sebuah film harus memperlihatkan sisi drama romantis kalau mau laku. Hambar rasanya jika film yang kita tonton tidak ada sama sekali dialog antara lawan jenis. Kedua, karena film ini konon kabarnya dibuat untuk menggambarkan peran santri dalam menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama di dunia.

Kenapa dua hal tersebut ditolak? Jelas karena ada banyak pihak di Indonesia ini yang merasa dirinya sebagai santri. Ada santri tradisional, santri modern, dan bahkan santri kombinasi. Semua merasa santri. Sebagai santri, mereka merasa selama mereka menempuh pendidikan di pesantren, tidak ada celah sama sekali kemungkinan santri putra bisa curi pandang dengan santri putri, apalagi sampai berjumpa berduaan dan memberikan sesuatu, entah apapun sesuatu itu. Di pesantren itu dianggap sebagai sebuah pelanggaran berat yang berujung pada dikeluarkan dari pesantren atau dinikahkan pada saat itu juga agar tidak menjadi fitnah.

Berikutnya, memang semua pihak bersepakat bahwa santri berperan penting dalam meningkatkan toleransi di Indonesia ini. Tapi tidak sampai berlebihan juga. Memang benar ada santri yang bersilaturrahim dengan warga non-muslim, tapi itu di rumahnya, tidak sampai lebay datang ke tempat peribadatan mereka juga.

Ala kulli hal, sebenarnya saya suka dengan pesan yang hendak dibawa oleh film ini, yakni ingin menunjukkan bahwa santri bisa kemana saja. Film ini menunjukkannya dengan keberhasilan ambisi untuk bisa keliling dunia. Film ini juga hendak menunjukkan kerukunan umat beragama di dunia. Hal itu pun saya setuju. Tetapi pesan baik dalam film tersebut akhirnya luntur karena kontroversi yang muncul. Siapa yang lantas bertanggungjawab akan hal ini?

Baca Juga :  Wahyudi Akmaliah: Dibanding Muhammadiyah, NU Lebih Reaktif di Dunia Digital

Livi Zheng sebagai seorang sineas memang lebih terkenal dengan kenarsisan dan kontroversinya ketimbang prestasinya. Ia narsis karena mengaku berhasil masuk dalam jagat perfilman Hollywood dan menembus nominasi Oscar. Banyak pihak yang meragukannya. Ya pokoknya dia kontroversial dan narsis lah. Saya sebagai penulis rasanya tak perlu lagi menambahi hal ini. Silahkan anda googling saja.

Kenapa bisa ada adegan antar santri “berhubungan” dan kenapa ada adegan santri yang masuk gereja, saya rasa adalah karena sang Sutradara yang kurang “nyantri”. Livi yang berwajah oriental dan belum pernah menjadi seorang santri sepanjang hidupnya saya rasa agak kurang memahami dunia pesantren pada umumnya. Ia kurang paham batasan hubungan antara santri putri dan santri putra. Ia juga tak paham bahwa toleransi di dunia pesantren pun memiliki batasan tertentu.

Andai saja Livi terlebih dahulu melakukan riset yang mendalam tentang dunia kepesantrenan, saya rasa kontroversi ini tidak akan terjadi. Meski memang dalam hati kecil saya, rasanya akan lebih ramai kalau film ini disutradarai oleh Joko Anwar saja. Para pembaca rasanya pasti tahu betapa antara keduanya suka banget dibanding-bandingkan oleh para netizen. Meski nampaknya circle netizen-nya berbeda dengan netizen yang mengkritik sampai mencaci Yusuf Mansur dan sang putri.

Tetap tersenyum dan Wallahu A’lam.

4 KOMENTAR

  1. Bukan hanya film ini saja, bnyk film2 lainnya yg bertajuk religi spt Film Ayat2 Cinta dll, yg dlm kehidupan nyata bukan suami istri, tp artis yg berperan sebagai suami istri kadang ada adegan berpegangan tangan, mencium kening, memeluk dsb (itu jg pelanggaran syariat), hrsnya pemain yg berperan sbg suami istri dlm film (religi) itu hrsnya mmg betul2 suami istri dlm kehidupan nyata. Ini krn sutradara film itu sendiri yg tdk paham syariat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here