Relawan Medis Wanita pada Peperangan di Masa Rasulullah (1)

5
511

BincangSyariah.Com – Peperangan di masa Rasulullah saw diikuti oleh para kaum lelaki baik dari kaum Anshar maupun Muhajirin. Kendati demikian, para sahabat perempuan tidak hanya berdiam di rumah menunggu kepulangan suami-suami mereka. Mereka juga ingin meraup pahala sebesar-besarnya di jalan Allah swt. Dalam sejarah disebutkan terdapat beberapa perempuan tangguh yang ikut andil dalam perjuangan menegakkan agama bersama para kaum muslimin lainnya. Mereka menjadi pelopor dalam pertolongan pertama para korban (relawan medis) yang jatuh dalam medan perang.

  1. Aisyah binti Abi Bakar RA

Putri Abu Bakar ini sudah tidak diragukan lagi kecerdasannya. Selain menguasai al-Qur’an, Hadis, Fikih, Syair, Ilmu Fara’id, Nasab dan Sejarah, kecerdasannya juga tercermin dari penguasaan beliau terhadap ilmu Medis. Dalam beberapa peperangan, beliau tidak jarang ikut berjuang mengobati  para sahabat yang terluka dan cidera. Kemampuan ini beliau dapatkan dari setiap kabilah yang datang untuk mengobati sakit Rasulullah, Aisyah menyimak dan menghafalkan setiap penjelasan lalu mempraktekkannya di kehidupan sehari-hari. Ibnu ‘Abd al-Bar berkata: Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki tiga bidang ilmu; Ilmu Fikih, Ilmu Kedokteran dan Ilmu Syair. Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,

قال هشام بن عروة عن أبيه قال : لقد صحبت عائشة فما رأيت أحداً قط كان أعلم بآية أنزلت ، ولا بفريضة ، ولا بسنة ، ولا بشعر ، ولا أروى له ، ولا بيوم من أيام العرب ، ولا بنسب ، ولا بكذا ، ولا بكذا ، ولا بقضاء ، ولا طب منها ، فقلت لها : يا خالة ، الطب من أين علمت ؟ فقالت : كنت أمرض فينعت لي الشيء ، ويمرض المريض فينعت له ، وأسمع الناس ينعت بعضهم لبعض فأحفظه

Baca Juga :  Buya Hamka dan Tafsir al-Azhar

“Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir, yang paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu qhadi dan ilmu kedokteran, maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai bibi, kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” Maka beliau menjawab, “Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.”

Suatu saat Hisyam bin Urwah berkata bahwa Urwah berkata kepada ‘Aisyah ra,

هشام بن عروة قال كان عروة يقول لعائشة يا أمتاه لا أعجب من فقهك أقول زوجة رسول الله صلى الله عليه و سلم وابنة أبي بكر ولا أعجب من علمك بالشعر وأيام الناس أقول ابنة أبي بكر وكان أعلم الناس ولكن أعجب من علمك بالطب كيف هو ومن أين هو وما هو قال فضربت على منكبي ثم قالت أي عرية إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يسقم في آخر عمره فكانت تقدم عليه الوفود من كل وجه فتنعت له فكنت أعالجه فمن ثم

“Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak takjub engkau pintar ilmu fiqh karena engkau adalah Istri Rasulullah swt dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak takjub engkau pintar ilmu Sya’ir dan sejarah manusia karena engkau adalah anak Abu Bakar dan Abu bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan sejarah Arab). Akan tetapi saya takjub engkau pintar ilmu kedokteran, bagaimana dan darimana engkau mempelajarinya? Kemudian ia memegang kedua pundakku dan berkata ‘Setiap utusan kabilah yang datang dari berbagai penjuru untuk mengobati sakit Rasulullah swt pada akhir hayatnya, maka aku mengamati dari mereka dan aku mengobati dengan ilmu dari sana.’

  1. Rufaidah binti Sa’ad al-Aslamiyah RA
Baca Juga :  Nabi Ditipu? Ini Bantahan terhadap Ustaz Tengku Zulkarnaen

Nama lengkapnya Rufaidah binti Sa’ad al-Aslamiyah al-Anshariyah, dialah perempuan kaya raya yang gemar berinfaq, lahir di tengah masyarakat ummi yang buta huruf namun ia sendiri pandai membaca dan menulis. Memiliki sifat penyayang dan penolong. Mahir dalam bidang kedoteran dan keperawatan. Kemampuannya ini dia dapatkan dari ayah kandungnya yang juga berprofesi sebagai dokter.

Dalam setiap peperangan, dia berada di garda terdepan menyiapkan obat-obatan untuk para prajurit yang sakit dan terluka. Harta bendanya ia infakkan demi tegaknya panji-panji Islam. Di samping masjid Rasulullah, ia dan para sahabat lainnya membangun perkemahan yang menjadi rumah sakit darurat pertama bagi prajurit yang membutuhkan pertolongan. Dengan kecakapannya mengobati dan merawat setiap pasien, ia tidak jarang didaulat menjadi komandan relawan medis muslimah untuk setiap peperangan yang dilakukan kaum muslimin.

Menurut Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sr, dalam makalah berjudul “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1-4 Nopember 1998, Rufaidah adalah perawat profesional pertama dalam sejarah Islam. Beliau hidup di masa Nabi Muhammad saw di abad pertama Hijriah dan diilustrasikan sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain. Digambarkan pula memiliki pengalaman klinik yang dapat ditularkan kepada perawat lain yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata, namun juga melaksanakan peran komunitas dan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Rufaidah adalah Public Health Nurse dan Social Worker yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here