Relawan Medis Pada Peperangan di Masa Rasulullah (2-Habis)

1
243

3. Rabi binti Muawwadz bin Harits RA

Dia adalah Rabi binti Muawwadz bin Harits bin Rifa’ah bin Harits bin Sawad an-Najadiyah al-Anshariyah. Ibunya bernama Ummu Yazid binti Qais bin Za’wa bin Haram bin Jundub bin an-Najjar. Ia termasuk sahabiah perempuan yang melakukan Bai’at Ridwan di bawah pohon pada tahun ke-enam hijriyah yang telah dijamin surga oleh Allah swt sebagaimana diceritakan dalam Qur’an Surat al-Fath ayat 18.

Diceritakan bahwa Rabi termasuk sahabiah yang sering terlibat dalam sejumlah peperangan yang dilakukan kaum muslimin. Ia dan teman-teman perempuannya ikut andil menyiapkan alat-alat peperangan, menyiapkan akomodasi dan segala keperluan seperti makanan, minuman, pakaian dan obat-obatan. Ia juga membantu mengevakuasi para korban dan memulangkan mereka yang terluka dan meninggal dunia ke Madinah.

Kecintaannya terhadap Allah dan Rasul-Nya sangatlah besar sehingga ketika Ibnu Ubadah meminta kepadanya untuk mendeskripsikan Rasulullah saw, dia menjawab ‘Wahai anakku, andaikan engkau melihat beliau, niscaya engkau laksana melihat matahari terbit.’ Beliau juga meriwayatkan beberapa hadis dari Rasulullah saw, diantaranya yang termasyhur adalah hadis Rasul tentang Wudhu.

4. Ummu Athiyah al-Anshariyah

Dialah Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah. Lebih dikenal dengan Ummu Athiyah/Ummu Imarah. Seorang wanita tangguh dari golongan Anshar yang sejak hari keislamannya semangat sekali menyambut kedatangan Rasulullah dan para sahabat saat tiba di Madinah untuk pertama kalinya. Satu dari dua orang wanita yang menyatakan sumpah setia pada baiat Aqobah bersama 71 orang lainnya. Pengorbanannya untuk mengabdi dan berjuang di jalan Allah tidak pernah padam, setiap peperangan dia ikuti dengan penuh semangat. Dia memegang peranan penting sebagai dokter merangkap perawat bagi para korban yang terluka. Ia juga membuat makanan dan memasok air bagi para pasukan di medan perang.

Baca Juga :  Kisah Nabi Menerima Wasiat Harta dari Seorang Pendeta Yahudi

Tak jarang ia terjun langsung dalam peperangan melawan kaum musuh bersama para sahabat pria lainnya. Dikisahkan pada saat perang Uhud, nyawa Rasulullah saw dalam bahaya karena pada saat itu banyak korban berjatuhan dari kalangan muslimin. Rasulullah saw kewalahan menangkis serangan musuh dan saat itulah Ummu Athiyah memasang badan masuk dalam formasi pertahanan melindungi badan mulia Rasulullah saw. Dengan pedang panjangnya, ia maju melawan para kafir yang menyakiti Rasulullah saw. Dialah pahlawan Islam wanita yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi Islam termasuk ikut dalam perang Yamamah di bawah pimpinan Panglima Khalid bin Walid hingga terpotong salah satu tangannya.

Rasulullah saw bersabda; ‘Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah berperang membelaku.’  Nusaibah ra pernah bercerita mengenai pengalamannya melindungi Rasul; ‘Ibnu Qumaiah datang ingin menyerang Rasulullah ketika para sahabat sedang meninggalkan beliau. Lalu ia berkata; ‘Dimana Muhammad? Aku tidak akan selamat selagi dia masih hidup.’ Lalu Mushab bin Umair dan beberapa orang sahabat termasuk aku melawannya. Kemudian Ibnu Qumaiah memukulku.’ Ketika Rasulullah saw melihat luka di belakang telinga Nusaibah, beliau berseru kepada anaknya; ‘Wahai Abdullah, Ibumu, ibumu. Balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah ia dan anaknya sahabatku di surga!’ Mendengar itu, Nusaibah berkata kepada anaknya, ‘Wahai anakku, Aku tidak peduli lagi apa yang menimpaku di dunia ini.’

Sejarah Islam mencatat beberapa nama yang terkenal sebagai perawat diantaranya seperti: Aminah binti Qays al Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyah, Ummu Sulaiman, Hindun, Ku’ayibat, Aminah binti Abi Qays Al Ghifari, dan Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata. Semoga jagoan wanita di atas bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi muslimah zaman sekarang dimana mereka juga bisa menjadi aktivis dalam kegiatan-kegiatan positif di jalan Allah swt.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here