Relasi Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional

0
39

BincangSyariah.ComPada hari Kamis (15/10/2015) Presiden Jokowi resmi menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan Hari Santri Nasional. Beliau telah memenuhi janji kampanyenya untuk menetapkan satu hari sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut Kiai Said Aqil Siradj selaku ketua PBNU tanggal 22 Oktober merupakan hari yang bersejarah dikalangan umat Islam, khusunya Nahdliyyin. Karena pada tanggal 22 Oktober 1945 merupakan tanggal ketika kiai Hasyim Asy’ari menyerukan fatwanya yang disebut Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad yang lahir melewati musyawarah bersama ratusan kiai yang datang dari berbagai daerah untuk merespon pendaratan armada Inggris yang diboncengi pasukan Belanda (NICA) tepatnya di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. (Baca: K.H. Abbas Buntet: Komandan Laskar Jihad Santri Melawan Sekutu)

Dalam rangka turut mempertahankan kemerdekaan itulah PBNU kemudian memanggil para konsul seluruh Jawa – Madura pada tanggal 21 Oktober 1945 yang bertempat di kantor PBNU (Ansor Nahdlatul Ulama), jalan Bubutan VI/2 Surabaya untuk rapat membicarakan situasi gawat.

Akhirnya pada tanggal 22 Oktober 1945 dikeluarkanlah sebuah resolusi yang disebut dengan “Resolusi Jihad” yang isinya sebagai berikut:

  1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 harus wajib dipertahankan.
  2. Kemerdekaan republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintah yang sah, wajib wajib dibela dan diselamatkan.
  3. Musuh republik Indonesia terutama Belanda, tentu akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
  4. Ummat Islam terutama warga NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
  5. Kewajiban tersebut adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam atau fardu ‘ain

Dengan diserukannya Resolusi Jihad, semangat untuk membela tanah air menjadi berkobar. Di antaranya memberi motivasi semangat kepada arek-arek Suroboyo untuk menghadapi tentara Inggris-Nica terutama yang berada di Surabaya.

Baca Juga :  Makna Diamnya Abu Daud Terhadap Suatu Hadis dalam Kitab Sunannya

Demikian juga pemuda islam, tentara, para santri pesantren menggabungkan diri ke dalam barisan “Sabilillah” yang dipimpin oleh H. Zainal Arifin, orang-orang Islam dan kalangan umum bergabung dalam barisan “Hizbullah” yang dipimpin oleh K.H. Masykur, sedangkan K.H. A. Wahab Hasbullah mengumpulkan para masyaikh dan kiai dalam barisan “Mujahidin” untuk mengawal Hizbullah dan Sabilillah.

K.H. Abdul Ghoffar Rozien selaku pengurus pusat RMI NU menyebutkan setidaknya ada tiga alasan yang paling urgen dalam penetapan Hari Santri Nasional.

Pertama, Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, menjadi ingatan sejarah tentang Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari. Ini merupakan peristiwa penting yang menggerakkan para santri, pemuda, dan masyarakat untuk bergerak dan berjuang bersama melawan pasukan kolonial yang puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945.

Kedua, jaringan santri telah terbukti konsistensinya dalam menjaga perdamaian dan keseimbangan. Perjuangan para kiai jelas menjadi catatan sejarah yang strategis, bahkan sejak kesepakatan darul islam (Negara Islam) pada pertemuan para kiai di Banjarmasin, 1936. Sepuluh tahun setelah berdirinya NU dan Sembilan tahun sebelum kemerdekaan, kiai-santri sudah sadar tentang pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama. Ini konsep yang sangat luar biasa.

Ketiga, kelompok santri dan kiai-kiai telah terbukti mengawal kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para kiai dan santri selalu berada di garda terdepan untuk mengawal keutuhan NKRI, memperjuangkan Pancasila. Pada Muktamar NU di Situbondo, 1984, jelas sekali tentang bagaimana mereka merumuskan pancasila sebagai dasar Negara. Bahwa NKRI sebagai bentuk final, dan tidak bisa dikompromikan.

Walhasil, Hari Santri Nasional bisa dikatakan sebagai kado spesial Negara terhadap bangsanya. Hari tersebut ditetapkan untuk mengingat sejarah perjuangan ummat Islam, peran ulama dan kiai dalam merengkuh kemerdekaan yang banyak tidak ditulis bahkan terbuang dari buku sejarah,  dan hari santri dapat dijadikan sebagai momentum untuk semangat cinta tanah air.

Baca Juga :  Hari Ini Wafat, K.H. Maimun Zubair: Mengabdi Untuk Pesantren dan Negeri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here