Rasyid Ridha: Tokoh Pembaharu Islam dari Lebanon

1
17

BincangSyariah.Com – Sayyid Muhammad Rasyid Ridha adalah tokoh pembaharu Islam yang lahir di Qalamun. Pada waktu itu, wilayah tersebut termasuk dalam pemerintahan Tarablus Syam, tepatnya pada tahun 1282 H/1865 M. Qalamun merupakan desa yang terletak di pantai Laut Tengah, sekitar tiga mil dari Kota Lebanon.

Pada tahun-tahun tersebut, Lebanon adalah bagian dari wilayah Kerajaan Turki Utsmani. Pada pertengahan abad ke 19, Turki Ustmani atau Ottoman adalah Daulah Islamiyah sekaligus masih merupakan salah satu negara adikuasa di dunia.

Rasyid Ridha bernama lengkap Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhammad Bahauddin Ibn Manla Ali Khalifah. Keluarganya berasal dari keturunan terhormat dan berhijrah dari Bagdad lalu menetap di Qalamun.

Qalamun adalah daerah dengan tradisi kesalehan Sunni yang kuat. Di sana, tempat tarekat-tarekat memainkan peran yang aktif pada masanya.

Kedua orang tua Rasyid Ridha adalah keturunan Husain, putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, Putri Rasulullah. Hal itulah yang menyebabkan Rasyid Ridha menyandang gelar al-sayyid. Saat kecil, tepatnya pada usia tujuh tahun, ia dimasukkan ke madrasah tradisional di desanya.

Rasyid Ridha adalah seorang tokoh pembaharu Islam yang belajar pada banyak guru. Masa kecilnya dihabiskan dengan belajar di taman-taman pendidikan di kampung. Pada saat itu, taman pendidikan tersebut dinamai al-kuttab. Ia belajar membaca Al-Qur’an, menulis dan juga ilmu pasti yakni dasar-dasar berhitung.

Ibrahim Ahmad al-Adawi dalam Rasyid Ridha’ al-Imam al-Mujahid mencatat bahwa Rasyid berbeda dengan anak-anak seusianya. Sewaktu kecil, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk belajar dan membaca buku ketimbang bermain. Sejak kecil, ia memang telah mempunyai kecerdasan yang tinggi dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Melihat Lebih Dalam Konflik Muslim Uighur

Setelah menyelesaikan studi di taman pendidikan, Rasyid dikirim oleh orangtuanya ke Tripoli untuk belajar di Madrasah Ibtidaiyah. Madrasah tersbeut mengajarkan ilmu nahwu, sharaf, aqidah, fiqih, berhitung dan ilmu bumi.

Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Turki. Sebab, madrasah tersebut adalah milik pemerintah yang memiliki tujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi pegawai pemerintahan Turki Usmani.

Namun, Rasyid Ridha tidak tertarik pada sekolah tersebut dan setahun kemudian memutuskan untuk pindah ke sekolah Islam Negeri Madrasah Wathaniyyah Islamiyyah. Sekolah tersebut adalah sekolah terbaik pada masa itu sebab menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Selain itu, diajarkan pula bahasa Turki dan Prancis.

Sekolah tersebut dipimpin oleh ulama besar Syam bernama Syaikh Husain al-Jisr yang kelak memiliki andil besar terhadap perkembangan pemikiran Ridha. Hal tersebut disebabkan karena hubungan keduanya tidak berhenti meskipun kemudian sekolah tersebut ditutup oleh pemerintah Turki Utsmani. (Baca: Kesultanan Utsmaniyah: Kerajaan Islam yang Pernah Menjadi Negara Adikuasa)

Selain Syaikh Husain, Rasyid juga mendapat kesempatan belajar dari Syaikh Mahmud Nasyabah yang merupakan seorang ahli di bidang hadits. Syaikh Mahmud mengajarnya sampai selesai. Karena itulah Rasyid kompeten menilai hadits-hadits yang dhaif dan maudhu.

Karena itulah ia kemudian diberi gelar sebagai digelari “Voltaire”nya kaum Muslim. Gelar tersebut disebabkan karena keahliannya yang mampu menggoyahkan segala sesuatu yang tidak benar dalam bidang agama.

Ide-ide pembaharuan paling penting dari Rasyid Ridha sebagai tokoh pembaharu Islam dari Lebanon ada dalam bidang agama, pendidikan, dan politik. Dalam bidang agama, Rasyid memiliki pemikiran bahwa umat Islam lemah sebab tidak lagi mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

Ajaran Islam yang dimaksud adalah ajaran Islam yang murni seperti apa yang dipraktikkan pada masa Rasulullah Saw., dan para sahabat. Menurut Rasyid, umat Islam justru melaksanakan ajaran-ajaran menyimpang dan lebih banyak bercampur dengan bid’ah dan khurafat.

Baca Juga :  Keutamaan Bulan Muharam

Rasyid Ridha juga menegaskan apabila umat Islam ingin maju, mereka harus kembali berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah. Ia membedakan antara masalah peribadatan yaitu masalah yang berhubungan dengan Allah Swt. dan masalah muamalah yakni masalah yang berhubungan dengan manusia.

Bagi Rasyid Ridha, masalah yang pertama sudah tertuang dalam Al-Qur’an dan hadits di mana ketentuannya mesti dilaksanakan dan tidak berubah meskipun situasi masyarakat terus berubah dan berkembang.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here