Rasulullah saw. Bukan Orang yang Tersinggungan

0
27

BincangSyariah.Com – Saya yakin Rasulullah saw. bukan orang yang tersinggungan. Namun demikian, bukan berarti seseorang bebas menghina Rasulullah saw. seenaknya sendiri. Sebab, meskipun dia tidak meyakini kerasulan dan keagungan Muhammad, tetapi dia harus menghormati perasaan umat Islam yang sangat menjunjung tinggi Rasulullah saw. sebagai nabi dan rasul.

Sikap saling menghormati ini merupakan salah satu bentuk pengakuan terhadap persaudaraan sesama manusia. Artinya, meskipun kita berbeda secara agama, keyakinan, bangsa, dan negara, tetapi kita terikat dalam ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia). Sebagai saudara tentu kita (Muslim dan non Muslim) harus saling menyayangi, menghormati, dan menolong dan tidak boleh saling mengusik dan menyakiti satu sama lain.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya tidak hendak membela kehormatan Rasulullah saw. Sebab, saya meyakini bahwa kehormatan, derajat, dan kemuliaan Rasulullah saw. selama-lamanya tidak akan berkurang sedikitpun meskipun dihina dan dicaci oleh seluruh makhluk. Mengingat Allah Sendiri―sebagai Tuhan Pencipta dan Pemilik alam semesta―telah memuliakan dan meninggikan derajat Rasulullah saw. di atas sekalian makhluk.

Dalam hal ini, Allah menyatakan secara tegas dalam al-Qur’an, yaitu: “dan Kami Tinggikan sebutan (nama)mu bagimu (asy-Syarh (94): 4).” Menurut sebagian mufasir, maksud ayat ini adalah Allah meninggikan derajat Rasulullah saw. dan menyandingkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat serta menjadikan taat kepada Nabi saw. termasuk taat kepada Allah (lihat penjelasan asy-Syarh (94): 4 dalam Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya).

Bahkan saking mulianya Rasulullah saw. sampai disebutkan dalam Mawlid ad-Diba‘i (lihat Majmu‘ah al-Mawalid wa Ad‘iyyah, penerbit al-‘Aidrus Jakarta, hlm. 18): madihuka qashirun walaw ja’a bi badzli al-majhud # wa washifuka ‘ajizun ‘an hashri ma hawaita min khishali al-karami wa al-jud # al-kawnu isyaratun wa anta al-maqshud (pujian yang diberikan seseorang kepadamu (Muhammad) masih tidak mencukupi meskipun telah menguras seluruh tenaga # sifat-sifat yang dilekatkan kepadamu (Muhammad) masih terbatas meskipun sudah menggunakan seluruh bentuk keagungan dan kedermawanan # alam semesta hanyalah isyarat dan engkaulah (Muhammad) yang dituju).”

Oleh karena itu, menurut saya, orang yang menghina Rasulullah saw. adalah seperti meludahi langit; atau seperti meludahi samudra lepas nan tak bertepi. Sehingga kalau tidak beruntung, maka dia bisa saja dilumat dan ditenggelamkan oleh gelombangnya yang sangat dahsyat.

Di sisi lain, Allah memuji akhlak Rasulullah saw. yang diabadikan dalam al-Qur’an, yaitu: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur (al-Qalam (68): 4).” Menurut Buya Hamka, ayat ini merupakan salah satu pujian paling agung yang diberikan Allah kepada Rasulullah saw. Pujian semacam ini jarang (atau mungkin bisa dikatakan tidak ada) diberikan kepada rasul yang lain (Tafsir al-Azhar, jilid 10: 7567).

Buya Hamka menyebutkan bahwa kesuksesan dakwah Rasulullah saw. adalah karena budi pekerti yang agung, yaitu beliau memiliki kesanggupan menahan hati dan menerima makian dan celaan yang diucapkan oleh orang-orang bodoh. Bahkan Rasulullah saw. tetap tenang, tenteram, dan sabar ketika dituduh gila. Dalam hal ini, beliau tidak marah dan tidak pula kehilangan akal (hlm. 7568).

Dengan demikian, tulisan ini ditujukan untuk membela hak umat Islam yang merasa dihina dan ditindas oleh pihak Majalah Charlie Hebdo yang didukung oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Dalam hal ini, pihak Majalah Charlie Hebdo menghina Rasulullah saw. dan umat Islam dengan menerbitkan karikatur Rasulullah saw. atas nama kebebasan berekspresi. Padahal Rasulullah saw. adalah sosok yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh sekalian umat Islam. Makanya banyak umat Islam di berbagai belahan dunia mengecam dan menentang tindakan Majalah Charlie Hebdo dan dukungan Emmanuel Macron yang seenaknya sendiri dan tidak menghormati hak umat Islam tersebut.

Menurut saya, kebebasan berekspresi tidak boleh melanggar hak orang lain dan juga tidak boleh menyakiti perasaan dan keyakinan orang lain. Dalam Islam dikenal kaidah: hurriyah al-mar’i mahdudatun bi hurriyyah gairihi, yaitu kebebasan seseorang masih terbatas oleh kebebasan orang lain. Masa, atas nama kebebasan berekspresi si A bisa seenaknya menggambar orang tua si B dengan gambar yang tidak senonoh? Tentu tidak mungkin, karena perbuatan ini melanggar hak orang lain dan sangat menyakiti perasaannya.

Sekali lagi, sebagai saudara sesama manusia, kita (Muslim dan non Muslim) harus saling menyayangi dan menghormati serta tidak boleh saling mengusik dan menyakiti. Tentu setiap orang memiliki sesuatu (baik benda, manusia, maupun Tuhan) yang dihormati dan dimuliakan dalam hidupnya. Islam secara tegas melarang umat Islam mengolok-olok orang lain dan menghina sesembahan non Muslim (al-Hujurat (49): 11 dan al-An‘am (6): 108).

Di sisi lain, umat Islam tidak dibenarkan melakukan tindakan sewenang-wenang dan main hakim sendiri dalam merespon penerbitan karikatur Nabi Muhammad saw. tersebut. Menurut Habib ‘Ali al-Jufri, al-khatha’ la yubarriru al-khatha’ wa al-haram la yubarriru al-haram (adanya kesalahan tidak menjadi legitimasi bagi seseorang untuk melakukan kesalahan lainnya dan adanya perkara haram/pelanggaran tidak menjadi legitimasi bagi seseorang untuk melakukan perbuatan haram/pelanggaran lainnya).

Bahkan dalam konteks mencegah kemungkaran juga harus dilakukan dengan cara yang makruf (baik), bukan dengan cara sewenang-wenang dan main hakim sendiri. Hal ini berdasarkan pendapat Imam Ibn Katsir, yaitu: al-amr bi al-ma‘ruf wa an-nahy ‘an al-munkar bi al-ma‘ruf (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan kebaikan atau cara yang baik). Menurutnya, perbuatan ini termasuk bagian dari “bertutur kata baik kepada sesama manusia secara lemah-lembut”, sebagaimana diperintahkan dalam al-Baqarah (2): 83 (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2000: 155).

Dengan demikian, umat Islam tidak boleh sewenang-wenang dan main hakim sendiri dalam merespon penerbitan karikatur Nabi Muhammad saw. tersebut. Umat Islam harus berpijak kepada hukum (agama dan negara) dan akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam meskipun penerbitan karikatur Nabi Muhammad saw. itu dianggap sebagai sebuah penghinaan dan kemungkaran.

Dalam hal ini, salah satu cara yang baik dalam merespon masalah tersebut adalah mendoakan para pembuat dan penerbit karikatur Nabi Muhammad saw. dan para pendukungnya agar mendapatkan petunjuk dari Allah. Sehingga mereka sadar dan bisa menghormati hak dan keyakinan umat Islam. Mengingat hadis menyebutkan bahwa doa adalah senjatanya orang mukmin (Imam as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, 1985: 344). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here