Rasulullah dan Kedekatannya dengan Julaibib, Sahabat Nabi yang Bukan dari Kalangan Berada

0
1105

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman tentu mengenal Abu Bakar ash-shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan sahabat dari kalangan saudagar lain yang kekayaan dan kedermawanannya pilih tanding. Atau Umar bin Khattab, Amr bin Ash, Khalid bin Walid, yang prominen di bidang kekuatan dan ketangkasan. Sahabat ‘abadillah –ibnu Umar, ibnu Abbas, ibnu Mas’ud, yang kecerdesannya bukan nomor dua dari segalanya.

Namun sesuai misi kerahmatan Rasulullah SAW, menjadi keniscayaan akrabnya beliau dengan bagaimanapun latar belakang seseorang. Mulai dari yang luar biasa, prominen di berbgai bidang, sampai yang biasa saja. Memang, sahabat-sahabat “biasa saja” ini kadung terkabut dan luput dari penyampaian beberapa pendakwah –yang padahal mereka radhiyallahu ‘anhum tidak kalah heroik. (Rasulullah Tegur Sahabatnya yang Bersikap Rasis)

Salah satu potret keintiman Nabi SAW dengan sahabat kategori tersebut adalah kisah Julaibib ra.

Diceritakan oleh Ibnul Atsir dalam kitab Usudul Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahabah (hal. 190) bahwa Julaibib bukan dari kalangan adiluhung seperti sahabat yang penulis sebutkan di awal, parasnya kurang oke (damiim), demikian juga kondisi ekonominya. Bahkan boleh dikatakan Julaibib miskin papa. Ketika Rasulullah menilai Julaibib sudah siap berumah tangga, beliau SAW sendiri yang mencarikan jodohnya.

Tersebutlah salah satu keluarga Anshar mendapat kemuliaan tersebut. Namun setelah tau bahwa pinangannya dari Julaibib, keluarga itu hampir saja menolak jika putri mereka yang salihah tidak mengingatkan firman Allah SWT:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS. al-Ahzab: 36)

Tak lama setelah menikah, ada panggilan jihad untuk berperang. Julaibib yang saat itu masih berstatus pengantin baru membulatkan tekad tanpa nanti, turut berjuang tanpa tapi.

Baca Juga :  Benih Teori Evolusi dalam Pemikiran Ibnu Khaldun

Syahdan, ia pun syahid di medan juang. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah setelah peperangan usai, beliau SAW ‘mengabsen’ nama-nama sahabatnya. Ketika jasad Julaibib ditemukan di antara tujuh mayat lawan, beliau meletakkan Julaibib di atas lengannya kemudian bersabda:

هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ هَذَا مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ

“Sesungguhnya Julaibib bagian dariku, dan aku bagian darinya. Ia bagian dariku dan aku bagian darinya..”

Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim (16/26), maksud dari kalimat ini adalah penegasan Nabi SAW, bahwa dalam perkara ketaatan, beliau dan Julaibib setali tiga uang. Karena memang hanya itu, ketaatan cum ketaqwaan yang bernilai di sisi Allah SWT. Bukan strata sosial, bukan dikotomi saudagar dan proletar. Semoga kita bisa mengambil iktibar dan perenungan dari kisah Julaibib ra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here